Wisata Menjadi Manusia



Siapa dari kalian yang tidak menyukai berwisata ? Siapa dari kalian yang tidak pernah melakukan wisata ? Semua dari kalian pasti senang dan pernah berwisata.

Wisata sudah berkembang menjadi kebutuhan primer. Kenapa menurut aku begitu ? Tekanan kerja yang semakin berat membuat diri dan mental kalian butuh rehat. Ketika tubuh sudah dalam kondisi tersebut, tubuh dan mental pasti meminta untuk diberi penghargaan. Sama halnya dengan ketika tubuh lapar. Tubuh akan meminta kepada kalian untuk diberi asupan makanan. Sama halnya dengan sebutan self reward yang sudah sering diucapkan di masyarakat. Selain itu, pasti ada porsi uang yang kalian prioritaskan untuk wisata terlebih dahulu, sama halnya dengan uang yang diprioritaskan untuk membeli makanan terlebih dahulu. Contohnya seperti ketika kalian menghargai/memberi hadiah kepada tubuh dan mental melalui wisata kuliner. Dengan makan dan minum yang nikmat untuk dikonsumsi, diri kalian akan bahagia. Dengan bahagia, tubuh dan mental akan merasa dihargai setimpal dengan tekanan yang dirasakan. Pasti ada uang yang prioritas disisihkan untuk wisata kuliner nikmat. Atau mungkin kalian belum sadar pola pengeluaran uang kalian ? Jadi, ada irisan antara wisata yang berupa kebutuhan tersier dengan makan yang kebutuhan primer. Wisata menjadi bisa dikatakan kebutuhan primer juga.


Bagiku pribadi, wisata juga sudah membelah diri menjadi banyak bentuk seiring perkembangan teknologi dan zaman. Wisata bukan lagi soal jalan-jalan melihat pemandangan atau keluar kota/negeri. Ambil contoh wisata kuliner kembali. Wisata kuliner bisa dilakukan dimanapun, bahkan di tempat makan di dekat rumah kalian semua. Wisata kuliner bukan soal melihat pemandangan alam atau bangunan. Contoh lainnya adalah staycation yang seringnya dilakukan dengan cara berlibur menikmati fasilitas hotel dikota kalian tinggal. Konsep wisata ini sendiri terus berkembang. Tembok pembatas konsep ruang dan waktu mulai hilang. Semua yang membuat diri kita menjadi bahagia bisa dikatakan wisata.


Tapi dari keseluruhan wisata yang kalian lakukan itu, pernahkan kalian sadar bahwa ada jurang hedonisme di depan ? Pernahkan kalian memaknai wisata kalian lebih dari sekedar kebahagiaan self reward dan kebahagiaan mendapat gengsi/pengkauan ? Pernahkan dalam wisata kalian tersebut kalian mencari nilai kehidupan yang bisa memanusiakan manusia ? Pernahkah kalian wisata dengan tema keluar dari zona nyaman ?


Perkenalkan namaku Denny Sudjianto Wijono. Aku dulu adalah seorang pegawai kantoran yang terikat oleh waktu dan tekanan. Seperti kalian pada umumnya para pegawai, karena tekanan besar itu, aku mencari kebahagiaan self reward dengan wisata. Wisata sudah menjadi kebutuhan primerku. Wisata kuliner dan wisata jalan-jalan ke alam kulakukan. Namun, aku paling cocok dengan wisata jalan-jalan menikmati alam. Aku melakukan itu hanya sebatas ingin self reward dan bonus gengsi. Menjadi budak wisata trending. Suatu saat aku tertarik untuk wisata jalan-jalan menikmati alam melalui cara naik gunung. Wisata itu menjadi saat dimana aku keluar dari zona nyaman. Bukan lagi duduk santai tanpa keringat. Bukan lagi mengandalkan kendaraan untuk mencapai tujuan tanpa membuat lelah kaki. Naik gunung memberiku pelajaran banyak mengenai nilai dasar hidup sebagai manusia. Sejak saat itu aku lebih bisa memanusiakan manusia baik terhadap diriku sendiri maupun orang lain. Aku menjadi lebih senang memilih wisata yang jauh dari zona nyaman, jauh dari trending. Aku lebih senang memilih wisata yang mengandung makna yang bisa kugali. Aku lebih senang memilih wisata yang memberiku pelajaran hidup.


Aku hidup dalam keresahan karena aku hidup di zaman Indonesia yang makin hari makin banyak konflik. Konflik yang kebanyakan berujung hanya untuk kepentingan masing-masing kelompok dengan mengatasnamakan hal-hal sensitif, contohnya agama. Agama makin lama dijadikan sepatu penginjak kemanusiaan. Hal ini jelas salah besar. Justru agama itu menjunjung tinggi kemanusiaan. Dari situ aku berfikir kenapa manusia khususnya di Indonesia makin lama makin meninggalkan nilai-nilai luhurnya. Aku merasa ingin ikut andil dalam pembenahan masalah ini.


Dalam pengalaman hidupku, wisata menjadi salah satu media terapi pencari kembali nilai luhur hidup dan kemanusiaan. Jadi, aku ingin bercerita mengenai perjalanan wisataku. Tidak hanya sekedar bercerita manisnya, melainkan juga menceritakan nilai luhur kemanusiaan, dan nilai luhur hidup yang aku dapatkan. Harapanku artikel yang kutulis ini bisa menjadi sentilan penggerak hati nurani kalian untuk mulai mencari dan belajar nilai-nilai hidup dan kemanusiaan dengan cara kalian sendiri atau bisa juga mengikuti jejak langkahku. Perubahan baiknya dimulai dari diri sendiri dulu agar kelak bisa menggapai perubahan yang lebih besar.


Selamat membaca.


0 tampilan