Wisata Karimun Jawa Dulu Tak Begini

Banyak dari kalian pasti sudah mengenal ketenaran dari nama Pulau Karimun Jawa. Pulau kecil diatas Jepara yang terkenal akan sajian wisata penangkaran hiu dan keindahan pantainya. Kalian mempunya 2 pilhan moda transportasi untuk menuju ke tempat ini, yaitu kapal atau pesawat. Cerita perjalanan wisataku ke sana menggunakan moda kapal. Perjalanan dimulai dengan menaiki bus tujuan arah Jepara. Aku tidak sendiri. Dua orang teman kantorku yang bernama Fena dan Pingkan ikut meluangkan waktunya untuk rekreasi bersamaku. Kami tiba di terminal bus Jepara dini hari. Ketika turun dari bus, abang becak langsung menawarkan jasanya untuk mengantarkan ke pelabuhan. Aku pribadi merasa terkejut kenapa bisa ada abang becak cukup banyak padahal waktu sudah menunjukan dini hari sekitar jam 2. Setelah kucari info dengan bertanya kepada abang becak yang mengantarkanku, ternyata mereka memang sudah terbiasa bersiaga dini hari khusus untuk melayani wisatawan yang perlu dibantu ke pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, kami harus menunggu hingga pagi terlebih dahulu untuk menunggu kapal ke Karimun Jawa. Makin pagi jumlah wisatawan yang datang makin bertambah banyak.


Kapal yang dinanti datang. Perjalanan kapal menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya. Sialnya kami, pendingin udara dikapal tidak berfungsi dengan baik. Udara terasa panas atau bahasa daerahnya sumuk. Untungnya sirkulasi udaranya tetap baik jadi kami tidak sampai merasa pengap meskipun kapal terisi penuh. Selama perjalanan kami bertiga tertidur karena kondisi kami kurang waktu istirahat. Dua jam perjalanan tidak terasa. Tiba-tiba kami terbangun karena merasakan kapal dalam kondisi perlambatan pertanda akan segera bersandar. Yes akhirnya kami bisa sampai di Karimun Jawa dengan penuh kebahagiaan dan pengharapan. Capai perjalanan panjang seakan tertinggal di kursi kapal. Selanjutnya kami mencari orang yang sebelumnya sudah membuat janji penjemputan dengan kami. Orang tersebut kami temukan bersama mobil yang dibawanya. Saatnya kami diantar menuju penginapan. Tidak sampai 10 menit, kami tiba di penginapan. Ternyata penginapan kami tidak jauh dari pelabuhan. Kami memesan kamar yang berada di atas laut. Letaknya dipaling belakang lahan penginapan. Kamar berdiri diatas papan kayu perpanjangan dari lahan utama.



Kami sempatkan mengistirahatkan badan sejenak, dan bermain mata kepada pemandangan sekitar. Setelah itu saatnya kami keliling pulau. Kami mencari penyewaan sepeda motor. Terima kasih kepada pihak penginapan yang membantu mencarikan dua sepeda motor untuk kami sewa. Terima kasih atas keramahan kalian yang bagi kami merepresentasikan penduduk setempat. Motor kami tancap melaju untuk menuju tujuan pertama kali, yaitu Bukit Love. Tanpa tahu posisi lokasi secara pastinya, kami tetap berjalan pasti menjauhi arah pelabuhan tempat kami datang. Senangnya aku bisa kembali berkendara dengan bebas seperti ini. Jalanan yang sepi membuat motor bisa dipacu kencang, dan terpaan angin yang masih segar membuatku termanjakan. Untuk bisa sampai di atas bukit, harus menempuh jalan naik terlebih dahulu. Pintar-pintarlah mengontrol kendaraan yang dibawa. Sesampainya dilokasi, pemandangan pantai terbentang luas. Di sini terdapat banyak fasilitas pendukung untuk mengambil foto. Bagiku pribadi yang paling berkesan di tempat ini adalah berfoto di tulisan Karimun Jawa yang sangat besar. Penanda terbaik bahwa pernah mengunjungi Karimun Jawa. Tiba-tiba hujan turun. Kami terpaksa menghentikan aktivitas sejenak lalu segera mencari tempat berteduh. Untungnya hujan turun tidak lama. Selesai bermain-main dengan lokasi Bukit Love, kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak tahu harus kemana. Berjalan tanpa tujuan. Kembali lagi yang penting menyusuri jalan beraspal dengan harapan dapat memutari pulau.


Berjalan lurus cukup jauh, kami mulai kebingungan karena kami sudah tidak melihat pertanda adanya pantai. Akhirnya terlihat ada penanda ke arah kiri bertuliskan ‘Pantai’. Langsung saja kami berbelok. Medan sudah tidak beraspal. Di ujung jalan terpecah menjadi dua cabang yang berakhir di dua pantai yang berbeda. Mohon maaf tidak bisa kutuliskan nama pantainya karena aku sudah lupa namanya dan lupa untuk mendokumentasikan pula. Kami sempatkan untuk mengeksplorasi keduanya. Tak lupa di salah satu pantai, kami sempatkan beristirahat sejenak sambil menikmati air kelapa dan menunggu matahari terbenam. Setelah menikmati indah dan syahdunya suasana matahari terbenam, suasana yang tidak bisa kami nikmati dalam kehidupan kota, kami bergegas pulang kembali ke penginapan. Sisa hari kami habiskan dipenginapan. Makan malam di penginapan. Setelah itu, kembali ke kamar dan beristirahat menyipakan fisik untuk aktivitas besok.


Hari baru tiba membangunkan kami. Kami sudah berangkat dari pagi menuju pelabuhan yang berbeda dengan perlabuhan kami datang. Pelabuhan ini terletak didekat alun-alun dan berukuran lebih kecil. Setibanya di sana kami berkumpul dengan sesama wisatawan yang tergabung dalam open trip yang sama dengan kami. Mayoritas adalah wisatawan lokal. Wisatawan asingnya mungkin hanya 1 atau 2 orang saja. Kami memesan open trip untuk 2 hari. Hari itu dan besoknya.


Aktivitas pertama dimulai dengan snorkling. Untuk lokasi yang pertama, secara pribadi aku tidak suka dan merasa kecewa. Karang yang aku lihat di bawah seperti karang yang sudah mati. Sejauh mata memandangan hanya nampak warna abu-abu. Tidak ada keindahan kombinasi warna karang. Tidak ada ikan karang yang berenang. Lelah terombang-ambing ombak tidak terbayar. Setelah selesai di situ, perjalanan berlanjut ke Pulau Menjangan Kecil untuk menyantap makan siang. Sambil menunggu persiapan makan siang, kami bermain-main dipinggir pantai. Tidur mengambang di atas air laut dan mengambil foto. Selain itu, kami mencoba berinteraksi dengan salah satu wisatawan asing. Aku jujur penasaran kenapa jumlah wisatawan asing di sini dikit sekali. Aku membandingkan dengan pulau kecil yang ada di Lombok dan Bali. Dari obrolan itu, kami mendapatkan info bahwa wanita Perancis ini sedang bertugas mengajar di Jepara. Oleh karena itu, dia bisa mengisi waktu kosongnya ke sini, tempat yang dekat dengan Jepara. Dari situ aku menarik kesimpulan, sepertinya memang Karimun Jawa ini bukan tempat wisata yang ada dalam bucket list wisatawan asing. Entah kenapa. Akhirnya kami dipanggil untuk menyantap makan siang yang sudah selesai dimasak. Ikan laut bakar! Menu terbaik karena aku sangat menyukai ikan. Makanku lahap sekali. Rasa lapar setelah snorkling hilang terpuaskan dengan sempurna.



Makan siang selesai, aktivitas perjalanan dilanjutkan kembali dengan snorkling di titik kedua. Pada titik ini, jauh lebih bagus dibandingkan titik pertama tadi. Aku masih bisa melihat warna-warni terumbu karang. Rasa kecewa yang terbawa dari titik pertama menjadi terobati. Tujuan utama di sini adalah mencari ikan Nemo. Petugas trip akan menyelam mempersiapkan segalanya. Setelah itu, kami mengantri satu-persatu untuk menyelam berfoto dengan Nemo yang keluar masuk dari rumahnya yaitu Anemon Laut. Untuk yang kesusahan menyelam seperti aku, tidak perlu khawatir karena nanti akan dibantu ditekan ditenggelamkan oleh petugas. Intinya jangan panik saja supaya bisa mendapatkan foto dengan hasil terbaik. Selesai dari titik kedua, kapal melaju kembali menuju pelabuhan.


Sebelum bersandar, kapal memutar arah terlebih dahulu ke penangkaran hiu. Ini adalah tempat paling tersohor di Karimun Jawa karena kita akan berfoto dengan hiu yang berenang disekitaran badan kita. Akan ada petugas yang memegang pancing berumpan. Umpan tadi sengaja dikeluar masukan ke air agar hiu-hiu aktif bergerak mendekat. Orang yang ingin berfoto akan berdiri tidak jauh dari umpan tersebut. Penasaran dengan sensasinya, aku memberanikan diri mencoba. Jangan panik saja. Tetap diam santai adalah cara terbaik mendapatkan foto terbaik. Selesai dari situ, kami kembali ke daratan pulau utama dan menuju penginapan.


Malam sudah tiba pertanda kami harus mencari makan malam. Rasa lama beraktivitas seharian harus segera dipuaskan. Kami berjalan kaki dari penginapan ke arah alun-alun. Nampak deretan penjual ikan laut segar. Lagi-lagi penggemar ikan seperi aku gini akan sontak senang. Pilhanku jatuh kepada salah satu bentuk udang yang tidak pernah aku lihat di kota. Aku sendiri tidak tahu apa namanya. Aku sangat senang mencoba hal-hal baru seperti ini. Pada saat perjalanan kembali dari sana, kami sempatkan mampir ke beberapa toko souvenir yang buka. Sesampainya di penginapan, hari kami akhiri dengan bersantai dikamar hingga tertidur lelap.


Pagi baru datang kembali dengan membawa harapan baru. Kami bangun pagi-pagi seperti kemarin. Setelah selesai sarapan langsung berangkat menuju pelabuhan. Kami bersemangat sekali karena dibayangan kami akan eksplorasi tempat yang baru. Nyatanya tidak sama sekali. Trip dihari kedua ini sama persis dengan kemarin. Tempat yang dikunjungi dan rangkaian acaranya tidak ada yang berbeda. Yang berbeda hanya kawan sesama pengukit trip. Kami mengunjungi titik pertama snorkling yang buruk itu kembali. Setelah itu, kembali ke Pulau Menjangan Kecil untuk makan siang dengan menu yang sama. Namun, kali ini untuk mengisi waktu kosong menunggu makanan dimasak, kami mengunjungi sisi pulau yang berbeda. Kami hanya duduk dan rebahan santai sambil mendengarkan musik disebuah gasebo. Selesai makan siang, kami lanjut kembali lagi ke titik snorkling bertemu Nemo. Kami tidak berfoto dengan Nemo, melainkan memilih snorkling berputar-putar saja berharap menemukan hal baru. Selesai dari situ, kembali lagi ke penangkaran hiu. Tidak lama, akhirnya kami kembali ke pelabuhan. Turun dari kapal dengan perasaan kecewa karena tidak ada pengalaman baru yang didapat. Jadi, kusarankan kepada kalian yang membaca artikel ini, cukup sekali saja untuk mengikuti open trip di Karimun Jawa. Malamnya kami kembali ke alun-alun mencari makan. Hari kami akhiri seperti sebelumnya.



Hari terkahir datang. Saatnya mengakhiri liburan. Kami kembali dengan cara yang sama seperti berangkat. Lagi-lagi kapal yang kami naiki memiliki sistem pendingin yang rusak. Kali ini jauh lebih panas dibandingkan sewaktu berangkat. Aku sudah mencoba melewatkan waktu dengan tidur, tapi tidak bisa. Kipas angin portable menjadi senjata terkahir kami untuk menikmati perjalanan. Baterai kipas sampai habis padahal kami belum sampai Jepara. Akhirnya nampak patung kura-kura besar pertanda sudah dekat dengan Jepara. Kami sampai kembali di Pulau utama Jawa dengan selamat. Sebelum kembali ke Surabaya, kami sempatkan mampir ke Kudus dulu untuk mencicipi nikmatnya Soto Kudus.


Dari perjalanan kali ini, aku menyimpulkan bahwa sebenarnya Karimun Jawa ini tidak seindah yang orang tunjukan dan katakan. Tidak seindah yang kalian lihat di media sosial. Mungkin kalau ingin menikmati pantainya masih bisa dikategorikan bagus. Tetapi kalau sudah membahas mengenai snorkling, aku merasa tidak puas dan kecewa. Pernah aku melihat suatu video yang berjudul Sexy Killers. Mungkin memang penjelasan yang ada di video itu benar adanya. Dulu memang Karimun Jawa masih seperti surga kecil. Namun sekarang, keindahan Karimun Jawa sudah rusak.


Apabila kalian mencari pantai yang lebih bebas dimana kalian bisa mengekspresikan diri sebagaimana mestinya kalau bermain di pantai, misal dalam hal berpakaian, lebih baik kalian tidak memilih pantai di Karimun Jawa. Di sini masih terikat budaya lokal tanah Jawa yang relatif tidak bisa menerima kebebasan seperti itu. Yang ada di pantai kebanyakan ibu-ibu lengkap dengan pakaian panjang dan topi besar untuk menghalau sinar matahari yang membuat gosong dan bapak-bapak. Mereka kebanyakan datang dalam rangka gathering acara kantor.


Sekian cerita pengalamanku mengunjungi Karimun Jawa. Semoga Karimun Jawa mendapatkan kesempatan untuk berbenah menjadi lebih baik. Sampai jumpa dicerita selanjutnya.


Salam Mantai Tidak Takut Panas!

15 tampilan