Terintimidasi Gapura Wringin Lawang

Kalau Gapura Bajang Ratu adalah pintu belakang distrik pusat pemerintahan/keraton Kerajaan Majapahit, sekarang aku akan mengajak kamu menuju pintu depan distrik metropolitan/pusat ekonomi Kerajaan Majapahit. Pintu depan ini namanya Gapura Wringin Lawang yang tepatnya terletak di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.


Lokasi situs ini terpencar cukup jauh dari kompleks wisata Majapahit. Dari jalan utama Totok Kerot, kamu akan bisa menemukan SPBU di sebelah kiri kamu yang akan menjadi penanda kalau sudah dekat. Susahnya adalah kecilnya tanda informasi untuk menuju situs dan jalan masuknya bukan belok ke arah kiri, melainkan ke arah barat daya. Jadi, cukup susah apabila sedikit terlewat dan kamu mau belok dadakan. Apalagi ini jalan besar yang ramai lalu lintas kendaraannya. Saranku, begitu menemukan SPBU tadi, langsung kurangi saja kecepatan kendaraan dan fokus kepada sisi kiri. Atau gampangnya bagi kamu ikuti saja arahan Google Maps. Titik lokasi yang ada di aplikasi benar adanya kok.


Tampak Depan Gapura Wringin Lawang

Setelah berhasil belok, perjalananmu akan sedikit melewati kampung warga. Dari kejauhan gapura sudah terlihat di ujung kampung. Ketika sudah berada di pintu masuk situs, kamu akan menemukan portal. Lewati saja portal itu dan masuk menuju parkiran kendaraan roda 2 dan roda 4 yang ada di dalam. Lahan parkirnya sangat luas.


Sama seperti biasanya, sebelum memulai eksplorasi, aku patuhi protokol kesehatan yang berlaku di sini. Mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker. Setelah itu melaporkan data diri kepada petugas yang berjaga. Lokasi pos bersebelahan dengan toilet yang bagiku jumlahnya cukup banyak. Tidak ada biaya tiket masuk, cukup menulis data diri saja. Selesai dengan administrasi, saatnya lanjut eksplorasi. Tetapi, sebelum itu aku sempatkan membaca informasi yang ada didekat pos jaga terlebih dahulu.


Pada saat ditemukan, kondisi gapura cukup rusak. Bangunan sisi utara, kondisinya telah runtuh dan hilang pada sebagian tubuh dan puncaknya. Sedangkan bangunan sisi selatan, kondisinya relatif utuh, hanya bagian puncak yang hilang. Kaki dan tubuh gapura masih berdiri dengan baik.


Pemugaran gapura mulai dilakukan pada tahun 1991 dan diakhiri dengan peresmian purnapugar yang dilakukan pada tanggal 9 September 1995. Pada saat penemuan gapura ini, ikut ditemukan juga 15 sumur kuno dengan bentuk segi empat dan silinder yang sekarang sudah dibawah menuju Museum Majapahit Trowulan.


Dokumentasi Awal Penemuan

Aku mulai berjalan mendekati gapura. Situs ini memiliki taman hijau yang cantik dan terjaga kerapiannya. Sama dengan Candi Tikus, situs ini punya tanaman yang dipotong membentuk tulisan 'wringin lawang.' Tetapi, cukup susah untuk dibaca kalau tidak memakai drone karena tanaman tidak berada di lahan yang miring.


"Waw besar banget gapura ini!" dalam hati aku berkata seiring langkah kaki berjalan. Kebesaran gapura ini serasa mengintimidasi mereka yang akan melangkah masuk. Rasa penasaran mendorongku untuk menaiki gapura ini. Tidak ada larangan mengenai hal ini. Aku menaiki sedikit anak tangga yang ada di depan hingga sampailah aku di sebuah lorong lebar yang diapit dua bangunan besar. Dalam kondisi ini, kemegahan gapura benar-benar terasa sekali. Sampai aku berhasil dibuat merasa kecil.


Kalau melihat ke atas, aku bisa melihat adanya perbedaan antara batu bata hasil pemugaran dengan batu bata asli. Yang berada dibawah adalah batu bata asli. Menyentuh bata asli yang menyimpan banyak kenangan masa lampau ini luar biasa istimewa bagi aku. Coba bayangkan, bata ini menjadi saksi mata padatnya arus simpang siur nenek moyang kita keluar masuk distrik. Untung aku masih bisa menyentuhnya. Jangan sampai nanti generasi penerus tidak bisa.


Tangga Menuju Lorong Gapura

Ada sesaji kecil yang ditaruh oleh warga di lorong ini. Bagiku pribadi, hal ini merupakan suatu bentuk sikap yang harusnya bisa dilestarikan dimana masih ada penghormatan terhadap peninggalan nenek moyang tanpa harus diributkan/dibenturkan dengan konteks agama.


Terus menelusuri lorong ini hingga ke belakang, aku bisa melihat hamparan persawahan yang sudah menghijau. Aku iseng mencoba peruntungan apa bisa melihat Gapura Bajang Ratu dari sini. Ternyata tidak bisa. Mungkin bisa terlihat kalau memakai drone. Dalam hati aku berpikir 'luar biasa luas ya distrik ekonominya!'


Foto Bersama Gapura Bersejarah

Aku berlanjut keluar dari lorong menuruni anak tangga kembali yang ada di belakang gapura. Jadi, Gapura Wringin Lawang mempunyai total 2 susunan anak tangga yang masing-masing berada di sisi depan dan sisi belakang. Mulaiku perhatikan sisi luar gapura. Dulunya, pada sisi kiri dan kanan gapura memiliki tembok keliling, sama seperti Gapura Bajang Ratu. Namun, sekarang yang tersisa dan bisa dilihat hanyalah sisa pondasinya saja. Badan gapura tidak memiliki relief.


Selesai memutari gapura, aku mulai mengambil dokumentasi. Setelah itu, aku istirahat sebentar dengan duduk beralaskan rumput yang rindang tertutup bayangan pohon. Jadinya seperti piknik kecil-kecilan. Duduk santai sambil memandangi kemegahan gapura. Sempurna!


Tiba-tiba moment kesendirianku yang tenang terhentikan oleh datangnya satu rombongan mobil pengunjung dari Ibu Kota. 'Kok bisa sama ya dengan kejadian di Candi Tikus? Apa iya Idul Adha membuat mereka pulang kampung' aku bertanya sendiri di dalam hati. Akhirnya, aku putuskan menyudahi eksplorasi di situs ini. Membayar kewajiban biaya parkir sebesar 3.000 rupiah lalu kendaraan aku gas keluar situs. Kalau kamu sedang ingin mencari kesenian patung, didekat portal masuk ada rumah warga yang menjual patung hasil pahatan. Bisa coba kamu kunjungi. Siapa tau cocok ya kan?!


Tampak Dekat Gapura Wringin Lawang

Sekian cerita jalan-jalanku ke Gapura Wringin Lawang. Semoga ceritaku ini bisa menstimulus kamu untuk ikut menyambangi kompleks wisata Majapahit di Trowulan. Jangan sampai kamu lupakan sejarah bangsa ini ya!


Dukung terus eksplorasiku mengelilingi candi-candi di Indonesia dan menceritakannya kembali dalam bentuk virtual tour yang bisa kamu akses dengan klik ini


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di lokasi, website candi perpusnas, dan Museum Majapahit Trowulan.