Ayo Selamatkan Hutan dari Rumah!

Siapa dari kita yang tidak mengenal arti kata 'hutan?' Menurutku tidak ada satupun yang tidak mengenal. Kata 'hutan' kita kenal tanpa perlu berjabat tangan karena sudah masuk ke dalam alam bawah sadar pikiran sejak masih kecil melalui cerita-cerita ringan dan dongeng yang dibacakan untuk kita.


Hutan adalah rumah bagi hewan-hewan dan tumbuhan. Itulah cara anak kecil mengenal hutan. Seiring pertumbuhan usia dan kesadaran akan lingkungan di sekitarnya, cara mengenal hutan turut ikut bertumbuh pula. Hutan adalah paru-paru dunia. Itulah cara dewasa mengenal hutan, terutama mereka yang hidup di kota/biasa kita kenal dengan sebutan masyarakat urban.


Keindahan Hutan

Masyarakat urban yang faktanya sudah terlalu lama terputus hubungannya dengan alam, kurang tepat dalam mengenal hutan. Ketidaktepatan tersebut adalah hutan hanya dianggap sebagai sebagai suatu objek. Oleh karena itu, meskipun mayoritas mengenal hutan, eksploitasi tetap saja akan susah dihentikan karena tidak ada rasa memiliki.


Hal ini berbeda dengan cara mengenal hutan bagi mereka yang hidup berdampingan dengannya/bisa dikatakan masih terkoneksi dengan alam. Bagi mereka, hutan adalah Ibu. Hutan dianggap sebagai subjek dan hutan adalah suatu sosok makhluk hidup yang butuh diberi kasih sayang serta dijaga layaknya yang dilakukan terhadap seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan. Mereka adalah masyarakat rimba.


Suku Dayak Iban adalah contoh masyarakat rimba yang lahir dan tumbuh dari hutan. Menjaga hutan sudah menjadi tradisi turun-menurun dari nenek moyang mereka. Tindakan yang mereka lakukan selalu mempertimbangkan kepentingan hutan. Seluruh aspek kehidupan masyarakat ini bergantung pada hutan, seperti makan dari hasil hutan, minum air yang diambil hutan, membangun rumah dari kayu hutan, dan hingga budaya mereka terbentuk juga karena hubungannya dengan hutan. Lebih lengkapnya mengenai kehidupan Suku Dayak Iban, bisa kamu saksikan melalui film Semes7a.


Ada sebuah cerita menarik mengenai konsep kulkas yang bisa memberi tambahan gambaran kepada kamu mengenai betapa besarnya rasa sayang masyarakat rimba kepada hutan. Cerita ini aku kutip dari film dokumenter berjudul Diam & Denarkan karya Anatman Pictures. Film dokumenter ini wajib kamu tonton!


Bagi masyarakat urban, kulkas adalah tempat untuk menyimpan makanan agar awet dan bisa dikonsumsi keesokan harinya. Akibatnya, pola hidup mereka lebih mengarah kepada eksploitasi dimana membeli/mengambil melebihi kebutuhannya saat itu. Berbeda dengan pendapat masyarakat rimba. Setelah mendengar penjelasan masyarakat urban, hutan adalah kulkas bagi mereka. Masyarakat rimba hanya mengambil hasil hutan berdasarkan kebutuhan hari itu saja. Untuk kebutuhan besok, mereka akan kembali lagi ke hutan esok hari. Sungguh berkebalikan cara hidup mereka.


Hutan di Bukit Watu Jengger

Apabila masyarakat urban terus-menerus membiarkan terjadi eksploitasi hingga hutan habis, secara tidak langsung masyarakat urban juga membiarkan masyarakat rimba ikut terbunuh bersama dengan kekayaan budaya mereka. Tidak hanya Suku Dayak Iban, tapi juga masyarakat rimba lainnya yang banyak tersebar di seluruh wilayah Indonesia.


Perlu dilakukan suatu upaya pendekatan kembali antara masyarakat urban dengan alam khususnya hutan. Harus ada rasa memiliki diantara hubungan mereka. "Bagaimana caranya masyarakat urban bisa bersentuhan dengan hutan dengan kondisi mereka yang memiliki kesibukan yang sangat padat?" Inilah yang sering menjadi pertanyaan dan pertentangan.


Tenang! Sudah ada jawaban untuk pertanyaan ini.



Program adopsi pohon adalah jawabannya. Program ini disosialisasikan secara massal bertepatan dengan Hari Hutan Indonesia pada tanggal 7 Agustus 2020. Adopsi pohon adalah cara masyarakat urban bisa ikut memiliki, merawat dan menyayangi pohon yang ada di hutan Indonesia layaknya mengadopsi sesama manusia. Perawatan dikhususkan untuk pohon berdiri tegak yang ukurannya sudah besar dimana diameter batangnya tidak bisa dijangkau dengan pelukan satu orang. Nantinya, perawatan akan dilakukan oleh mereka yang hidup disekitar hutan.


Tidak dipungkiri merawat pohon membutuhkan biaya. Disitulah celah masyarakat urban bisa berkontribusi. Kontribusi jaga hutan ini bisa disalurkan melalui penggalangan dana dari Hutan Itu Indonesia melalui website kitabisa. Sekecil apapun sumbanganmu sangatlah berarti.


Ayo! Segera bergerak sebelum terlambat. Mulailah berkontribusi agar rasa sayangmu timbul. Selamatkan hutan kita bersama agar keindahan hutan Indonesia masih bisa dirasakan oleh anak cucu kita. Selain itu, tidak hanya hutannya yang kamu selamatkan. Tetapi, masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dan telah menjaga hutan secara turun-temurun turut ikut terselamatkan.


Salam Hutan itu Ibu!