Merasakan Bahagia ala Penduduk Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo, nama yang sudah tidak asing bagi penduduk Indonesia yang sadar dan cinta akan pariwisata tanah airnya sendiri. Desa tertinggi di tanah Flores yang masih bertahan dengan kekayaan budayanya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Sayangnya lebih banyak dilirik oleh wisatawan asing dibandingkan wisatawan dalam negeri. Wisatawan dalam negeri lebih bangga menginjakan kaki di desa-desa negeri seberang.


Perjalanan wisataku menuju tempat ini kumulai setelah menuntaskan rangkaian perjalanan wisata di Labuan Bajo. Perjalananku ditemani oleh dua orang teman sekantorku yaitu Citra dan Linda. Perjalanan cukup panjang dan lama sampai membuat kami tertidur dan bangun berkali-kali. Awalnya perjalanan melewati jalan utama yang besar sampai berganti mulai memasuki jalan kecil melewati beberapa desa. Seringkali kami berpapasan dengan anak-anak desa disana yang jalan berkelompok menggunakan seragam pramuka. Mereka tidak segan-segan melambaikan tangan kepada kami yang notabene adalah orang asing dan berlari mengejar mobil yang kami tumpangi. Dalam hati aku berpikir, ramah sekali anak-anak di sini dan sederhana sekali cara mereka bahagia bermain. Kami bertiga membalas lambaian tangan mereka sebagai bentuk keramahan yang ditawarkan oleh orang asing yang sebenarnya sama-sama warga Indonesia.



Jalanan tadi terus turun sampai akhirnya kami tiba pada jalan yang terletak tepat dibibir pantai yang penuh dengan batuan berukuran besar. Jalan ini beraspal dengan kondisi bagus, tetapi sayangnya sempit sekali. Ukuran lebarnya hanya cukup untuk satu setengah mobil. Akibatnya apabila berpapasan dengan mobil dari arah sebaliknya, salah satu harus berhenti mengalah terlebih dahulu. Untung saat itu, perjalanan kami hanya berpapasan dengan mobil lainnya 2 kali saja. Menolong mempercepat perjalanan kami.


Selesai dari jalan ini, kami diajak berhenti istirahat makan siang terlebih dahulu oleh supir yang menemani kami. Berhentilah kami di suatu tempat makan dengan suguhan spesial nasi merah. Usut punya usut di sekitar daerah situ memang banyak menghasilkan nasi merah. Lauk yang kami makan adalah ikan bakar. Kami bertiga makan banyak saat itu mengingat kami terakhir kali makan di hotel yang hanya menyediakan sarapan roti tawar dan pelengkapnya. Dari tempat makan ini, kami bisa melihat pulau yang ada diseberang. Entah apa nama pulau itu dan entah bagaimana bisa mencapai pulau itu. Apabila ada kesempatan kembali ke Flores, aku ingin mencoba menggapai pulau tersebut.


Puas menikmati waktu istirahat, saatnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Tidak lama setelah perjalanan dilanjutkan, kami bertiga memejamkan mata kembali karena terlalu kenyang. Bawaannya menjadi mengantuk. Kami terbangun ketika mobil sudah berhenti di suatu area parkir umum. Ini adalah titik terakhir mobil bisa mengantarkan kami. Dari sini, kami memilih berjalan sampai titik awal pendakian dibandingkan menggunakan ojek motor. Keputusan ini adalah keputusan bodoh yang kami ambil saat itu karena kami berjalan di aspal dengan kondisi matahari sedang terik-teriknya. Aspal membuat perjalanan kami terasa sangat capai kepanasan. Tenaga kami bertiga sudah terkuras diawal. Cukup lama berjalan dengan berhenti berkali-kali, akhirnya kami tiba di titik awal pendakian sekaligus tempat terakhir ojek berhenti. Kami sempatkan berhenti terlebih dahulu untuk berisitirahat sambil membaca papan informasi mengenai Desa Wae Rebo.


Setelah fisik sudah kembali siap, perjalanan kami lanjutkan berjalan menaiki bukit dengan jalur berbentuk zig-zag. Panjang tapi memudahkan perjalanan naik. Perjalanan naik ini membuka fakta baru dimana Citra yang tidak pernah naik gunung bisa berjalan naik lebih cepat dibandingkan aku yang punya pengalaman mendaki. Entah apa yang menjadi bensin mesin di dalam badannya. Citra kalau kamu membaca artikel ini, kala itu aku benar-benar salut. Anda luar biasa!


Kurang lebih selama 1 jam menaiki jalur zig-zag tersebut, sampailah kami di medan yang lebih terbuka dengan suguhan pemandangan perbukitan hijau. Nampak di depan mata, jalur sudah menjadi landai. Hati ikut tersenyum ketika mata menyaksikan hal tersebut. Setelah istirahat sebentar, kaki kembali kami pacu. Kali ini perjalanan jauh lebih santai dan waktu menjadi tidak terasa. Tiba-tiba kami sudah melihat sebuah bangunan adat besar yang banyak berisikan wisatawan lainnya. Kami ikut masuk. Dari bangunan ini, kami bisa melihat Desa Wae Rebo yang sudah berada di bawah. Sedikit lagi kami sampai.



Turun sedikit, kami sudah mulai memasuki daerah rumah penduduk yang banyak menanam pohon kopi dan akhirnya kami bertemu dengan gerbang pintu masuk Desa Wae Rebo. Suasana desa saat itu ramai dengan aktivitas penduduk. Kami diarahkan untuk bertemu dengan tetua terlebih dahulu untuk mendapatkan izin sehari menjadi bagian dari penduduk desa ini. Setelah izin didapatkan, kami diajak menuju rumah adat yang dipakai sebagai penginapan. Bentuk penginapanya melingkar. Pengunjung tidur berjejer melingkar.


Kami istirahat sebentar, tiduran santai di alas yang sudah disediakan. Tiba-tiba suguhan selamat datang berupa kopi dan teh datang menghampiri kami. Dalam hati aku berpikir, pelayanan penduduk di sini tidak kalah dengan pelayanan penginapan hotel. Sambil menikmati suguhan tersebut, kami bertiga menguping obrolan guide penduduk lokal yang menjelaskan cerita asal usul desa kepada wisatawan asing dari Belanda. Penduduk lokal tersebut fasih berbahasa inggris. Dari obrolan tersebut, kami mendapatkan info bahwasanya penduduk di sini sudah banyak yang belajar di luar desa termasuk berlajar bahasa inggris. Boleh namanya desa adat, tetapi penduduknya tetap mengenal ilmu pengetahuan. Pikiran tetap maju. Selain itu, bentuk rumah adat seperti yang kami tempati sekarang, dulunya tersebar hampir di seluruh Flores. Namun, sejak kedatangan para penjajah, banyak bangunan tersebut dibumi hanguskan.


Setelah puas menguping, kami bertiga beranjak keluar dari penginapan mencoba mengamati dan berinteraksi dengan penduduk sekitar. Kunjungan kami bersamaan dengan kunjungan suatu komunitas yang sedang mengadakan acara saat itu. Anak-anak desa dikumpulkan ditengah dan diajak bermain bersama suatu permainan sederhana yang sudah lama tidak kujumpai di kota. Tidak lupa kakak-kakak komunitas tadi juga memberikan hadiah.


Melirik sisi belakang rumah tempat kami menginap, kami melihat ibu-ibu sedang memasak di dapur yang sederhana. Sedangkan apabila melirik kesisi seberang, kami melihat para tetua sedang asik duduk santai sambil mengawasi seluruh aktivitas di desa. Sempat kami berinteraksi sebentar dengan beberapa anak kecil yang asik berlari-lari. Tidak terasa matahari sudah mulai tenggelam dan saatnya kami kembali ke dalam penginapan. Bagi yang ingin mandi dipersilahkan saja, tetapi air yang dipakai luar biasa dingin. Kami bertiga memilih tidak mandi. Membayangkan dinginnya air saja sudah membuat badan ini malas bergerak.



Jadwal selanjutnya adalah makan malam. Sambil menunggu makanan dihidangkan, kami bergerak ke sudut tempat seorang ibu menjual oleh-oleh khas desa yaitu kain tenun, dan kopi. Selain itu juga dijual beberapa buku yang membahas mengenai Desa Wae Rebo. Aku membeli kopi yang dijual sebagai bentuk bantuan terhadap perekonomian lokal.


Makan malam sudah tiba saatnya dihidangkan. Sistem pembagiannya secara bergantian dari satu orang ke orang yang lain. Pembagian dimulai dari membagikan piring beserta alat makannya. Setelah itu dilanjutkan dengan membagikan nasi dan lauk. Terakhir membagikan teh atau air putih sebagai minumnya. Satu nilai yang kuambil dari aktivitas makan malam ini yaitu berbagi. Dari beberapa wadah lauk dan nasi harus cukup dibagikan kepada semua orang yang ada di penginapan. Bisa saja kalau kita tidak peka akan rasa berbagi, kita mengambil nasi dan lauk dengan porsi banyak seperti yang biasa kita lakukan di kota. Bisa jadi akibatnya ada orang yang tidak makan.


Selesai makan malam, acara sudah bebas. Beberapa wisatawan ada yang keluar mencoba mengambil foto bintang. Aku mencoba keluar tapi tidak bertahan lama. Dinginnya malam itu mendorongku kembali ke dalam penginapan. Pada akhirnya, kami bertiga memutuskan mengakhiri hari itu. Badan kami juga capai hasil perjalanan dari pagi sampai sore, butuh istirahat yang baik. Tidurlah kami lebih cepat dibandingkan jadwal tidur kami biasanya.


Keesokan harinya, kami terbangun ketika matahari sudah muncul. Dengan kondisi belum sadar penuh, kami keluar dari penginapan mencari segarnya udara pagi. Nampak beberapa aktivitas penduduk sudah dimulai. Beberapa anak-anak sudah keluar rumah. Kami mencoba berinteraksi dengan mereka kembali sambil menikmati indahnya alam sekitar.



Kami tidak tahu dan tidak merencanakan waktu untuk kembali turun, sampai akhirnya kami melihat orang-orang sudah mulai meninggalkan penginapan. Tidak lama setelah tersegarkan kembali oleh udara pagi, kami kembali kedalam penginapan dan beberes mempersiapkan perjalanan kembali. Tidak ada sarapan yang disediakan. Modal energi untuk berjalan turun harus disiapkan sendiri. Perjalanan kembali kami nikmati setiap langkahnya karena sebenarnya hati masih ingin meluangkan waktu lebih lama di desa ini.


Singkat cerita kami sudah sampai di titik yang ada papan informasinya. Melihat kondisi matahari yang belum di atas kepala, kami putuskan mengabaikan tawaran ojek dan berjalan turun saja. Toh jalannya juga turun. Pasti ringan. Akhirnya kami tiba kembali di mobil dan harus segera melanjutkan perjalanan ke Ruteng.


Berinteraksi dan merasakan langsung nilai kesederhanaan penduduk Desa Wae Rebo membuatku memikirkan kembali perjalanan hidupku. Mereka bisa merasakan bahagia meskipun mereka hidup jauh dari kemajuan teknologi. Mereka bisa merasakan bahagia dari apa yang mereka miliki sekarang. Cara pandang bahagia seperti ini sering aku lupakan karena terlalu banyak menyaksikan kehidupan kota yang sarat akan tuntutan. Oleh karena itu, aku ucapkan terima kasih kepada Desa Wae Rebo yang sudah membuatku berpikir dan memberiku pelajaran hidup yaitu bahagia itu sederhana. Artikel mengenai opiniku menyikapi kebahagiaan bisa klik ini.



Sekian cerita perjalananku mengunjungi salah satu permata Tanah Air yang masih butuh diperjuangkan eksistensinya di mata wisatawan dalam negeri. Semoga ceritaku ini bisa menjadi motivasi kalian mengunjungi Desa Wae Rebo. Sampai jumpa di cerita perjalananku berikutnya.


Salam Cintai Desa Adat.