Rinjani Panggung Pertunjukan-Bagian 4

Alaram hp berbunyi tanpa permisi. Menyambut pagi di hari yang baru. Dari kami berempat tidak ada yang bermalas-malasan karena ini adalah hari terakhir menikmati udara pagi yang segar khas sajian gunung. Begitu keluar dari tenda, nyawa langsung terisi 100% secara instan oleh pemandangan yang luar biasa membuat takjub. Aku sebagai orang pertama yang keluar dari tenda sontak mengajak Triasni, Ayu, dan Ncus segera keluar dari tenda juga. Aku merasa jerih payah kemarin seharian menuju lokasi ini terbayar lunas. Aku yakin mereka bertiga juga merasakan hal yang sama.



Puncak Rinjani, Danau Segara Anak, dan Anak Rinjani berada di satu jendela penglihatan yang bersih tanpa terhalang kabut. Oh sungguh indahnya. Menurutku pribadi, pemandangan ini jauh lebih bagus di bandingkan pemandangan dari Pelawangan Sembalun. Aku terus menatap ke arah kiri, mencari letak Pelawangan Sembalun. Membayangkan seberapa jauhnya perjalanan kemarin. Puncak Rinjani juga aku tatap lama. Lokasi dimana kenangan dan pembelajaran pertamaku tertinggal. Kulanjutkan dengan memperhatikan sekitar. Lokasi Pelawangan Senaru tidak selebar dan senyaman di Pelawangan Sembalun untuk mendirikan tenda. Lahannya sempit dan bertingkat. Tidak banyak lahan datar. Jarak antara tenda menjadi berdekatan karena harus berbagi satu sama lain.


Puas dengan menatap, saatnya mengabadikan. Kamera aku ambil dari dalam tenda. Perasaan ini kembali seperti anak kecil yang sangat gembira karena diberi ice cream. Tombol kamera menjadi aku tekan berkali-kali. Tenda milik kami berada di lahan terbawah. Pandangan belakang dari tenda kami tertutup oleh bukit yang mengharuskan kami berjalan sedikit naik ke lahan yang paling tinggi untuk mendapatkan foto yang lebih jelas. Sesampainya diatas, lagi-lagi mata ini dibuat terbuka tanpa bisa menutup. Jika kita menoleh ke sisi yang berlawanan, negeri di atas awan! Itulah gambaran terbaik. Bonusnya adalah melihat 3 Gili: Gili Meno, Gili Air, Gili Trawangan dan tentunya Gunung Agung yang berada di Bali. Sungguh ada sensasi berbeda ketika bisa melihat tempat-tempat yang pernah kita injak dari sudut pandang yang berbeda, dari posisi yang berbeda, bahkan dari ketinggian yang berbeda. Tidak lupa kami berempat foto bersama sebagai bukti pencapaian hebat kami.



Waktu terus melangkah. Saatnya kami bersiap-siap mengikuti langkah waktu. Kembali ke tenda untuk membereskan semuanya. Aku memasakan makanan yang masih tersisa. Menghabiskan semua logistik. Di Pelawangan Senaru tidak ada sumber air. Jadi, buat kalian yang ingin ke sini, persiapakan stok air kalian dari Segara Anak. Stok air kami sudah tidak melimpah mengingat perjalanan naik kemarin mengharuskan kami meneguk banyak air. Tenda sudah terbungkus kembali. Tas carrier sudah dipunggung masing-masing. Saatnya berpisah meskipun berat rasanya. Aku mengambil foto untuk terakhir kalinya sebelum kaki mulai melangkah menuju arah pulang.


Kami berjalan menuju balik bukit. Nampak jalan turun yang panjang. Tanpa berpikir panjang segera kami berjalan. Medan pertama terbentuk dari susunan bebatuan. Langkah kaki menjadi mudah. Tetapi harus tetap berhati-hati karena apabila salah melangkah dan terjatuh, badan bisa beradu dengan batu yang dipastikan jauh lebih keras. Setelah bebatuan ini selesai, medan menjadi tanah dengan kondisi tetap menurun. Meskipun tanah, tetap saja licin dan mudah membuat terjatuh apabila tidak pintar-pintar mencari langkah. Berlari jelas bukan menjadi pilihan yang bisa dilakukan. Aku melangkah perlahan dengan rasa takut terjungkal ke depan. Posisiku menjadi berada di paling belakang, tertinggal cukup jauh dengan mereka bertiga. Penggunaan tracking pole sangatlah membantu langkahku. Tidak hanya lurus, ada kalanya medan berbentuk anak tangga yang mengharuskan semakin berhati-hati. Selama menempuh di medan ini kami terekspose secara utuh oleh sinar matahari. Semakin lama berjalan, semakin lama panas yang dirasakan. Sama sekali tidak ada vegatasi yang menjadi penghalang. Untungnya masih ada angin yang membantu meredakan rasa panas itu. Bingung melihat kebawah terus, akhirnya nampak sebuah pos di depan yang menandakan medan sudah kembali menjadi landai. Sampailah kami di pos itu untuk beristirahat sejenak. Adi kami minta terus mengawal karena kami tidak tahu jalur di sini.



Setelah dari pos ini, vegetasi mulai rapat. Kami mulai memasuki hutan. Jujur aku merasa senang karena tidak akan kepanasan lagi. Kosumsi air bisa semakin aku hemat. Perjalanan kami mulai tanpa mengetahui seberapa panjang jalur ini. Medan anak tangga menyambut. Awalnya kami masih bisa banyak bertingkah. Lama-kelamaan kami mulai sadar bahwa tidak ada perubahan dengan medan. Lutut mulai merasakan efeknya. Kami mulai banyak terdiam. Karena jalurnya turun, bawaan langkah kaki menjadi cepat. Tetapi semain cepat kami berjalan, semakin besar pula tekanan dilutut. Sungguh dilema. Akhirnya sampailah kami disebuah pos lagi. Benar sekali, begitu duduk, rasa lega aku rasakan pertama kali di lutut. Bukan di pundak yang membawa beban. Kami mengambil istirahat sebentar untuk makan makanan ringan yang tinggal sedikit.


Tidak berlama-lama beristirahat, berjalan menuruni anak tangga kami lanjutkan karena target kami jam 1-2 siang sudah harus di bawah. Kali ini alam memberikan tantangan tambahan yaitu berkali-kali adanya akar pohon yang melintang. Benar-benar disaat itu kami berempat harus percaya dengan langkah kaki masing-masing yang lama-kelamaan seperti memiliki otak dan kemauan sendiri. Kondisi yang sama seperti ketika aku, Triasni, dan Ncus turun dari Puncak Gunung Gede. Seringkali kami mengingatkan satu sama lain untuk tetap mengutamakan hati-hati dibandingkan cepat. Satu-satunya medan yang landai hanyalah ketika bertemu pos. Selebihnya anak tangga semua. Terbayang dan menjadi bahan pembicaraan kami berempat: pasti menyiksa kalau posisi kami sedang naik dari jalur Senaru.


Sampailah kami kalau tidak salah di pos 2. Pos ini berada di lahan yang sangat luas dengan gasebo yang cukup besar di tengah-tengahnya. Grup tur yang berisi wisatawan asing dari Malaysia memenuhi tempat ini. Gasebo tersebut dipakai untuk tempat mereka makan siang. Kami merasa tersiksa saat itu karena kami melihat minuman soda kaleng menjadi konsumsi mereka. Sedangkan kondisi kami kehabisan air. Adi sudah mencoba mengambilkan air didekat area kami beristirahat. Namun, ketika dibawa ke kami, airnya nampak keruh. Kami memilih tidak minum dari air itu. Jadi, lebih tepatnya kami tersiksa karena menginginkan minuman segar itu tapi tidak bisa. Sudah terbayangkan ketika nanti dibawah, minuman itu pasti kami cari. Tidak hanya air, kondisi kami diperburuk dengan kehabisan bahan makanan. Kami tidak menyangka menuruni jalur Senaru semelelahkan ini sehingga membutuhkan istirahat untuk makan besar. Yang bisa kami lakukan hanya memakan makanan ringan yang mulai habis.



Dengan sisa air, sisa makanan, dan sisa tenaga seadanya, kami kembali melangkah. Kalau ini pos 2 berarti tinggal sedikit lagi sampai bawah. Berjalan tanpa banyak suara. Berjalan tanpa banyak pikiran. Kami tiba di pos 1. Kaki terutama lutut kami istirahatkan. "Tinggal sedikit lagi, ayo jalan" ajakan Triasni sebagai penanda istirahat berakhir dengan cepat. Cukup berjalan sedikit saja, dari kejauhan kami sudah bisa melihat gerbang Senaru. "Oh akhirnya sebentar lagi berhenti penderitaan lututku" kataku dalam hati. Begitu gerbang kami lewati, kami langsung mendatangi warung yang berada disebelah kiri. Tas kami lepas lalu langsung membeli minuman pelepas dahaga pilihan kami masing-masing. Tidak hanya minuman, kami juga membeli pisang dan gorengan untuk mengisi perut. Sampai di posisi ini bukan berarti perjalan selesai. Kami masih harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke parkiran mobil penjemput. Oleh karena itu, kami puas-puaskan dulu di warung ini untuk menghilangkan lapar, haus, dan lelah.



Setengah jam sudah kami lewati untuk beristirahat Saatnya kami beranjak pulang. Selama perjalanan kami melewati objek wisata kebun kopi dan air terjun. Adi mengatakan "Apa tidak sekalian ke sana? mumpung sudah di sini." Kami berempat kompak menjawab "Tidak di, lain kali saja kalau kesini lagi" Adi membalas dengan tertawa saja. Cukup sudah rasa lelah ini. Yang ada dipikiran kami hanya ingin rebahan dan makan yang enak. Sampailah kami di mobil yang menjemput kami. Kami ucapkan terima kasih, meminta maaf, dan terakhir adalah berpisah kepada Adi dan adiknya. Selesai sudah perjalanan 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani yang penuh dengan drama, tawa, nilai, dan, tentunya pengalaman baru. Selesai bukan berarti tidak mendatangi lagi. Kalau ada kesempatan aku masih ingin mencoba jalur pendakian Torean. Sekian cerita perjalananku. Sampai bertemu di cerita selanjutnya.


Salam Gunung itu Guru


14 tampilan