Rinjani Panggung Pertunjukan-Bagian 2

Fisik dan napas sudah sedikit kembali normal. Sebelum mesin dibadan menjadi dingin kembali, roda dikaki kami pacu berputar kembali. Adi sang porter dan adiknya kami instruksikan berjalan dulu, mencarikan tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda di pos 3. Naikan terjal dijalani dengan sangat perlahan mengingat masing-masing sudah membawa beban berat. Ada satu pohon ikonik di sebelah kanan yang menjadi saksi mata setiap langkah pendaki di jalur ini. Dari dulu hingga sekarang, pohon itu tetap sama. Medan mulai berubah tidak terlalu tajam menukik naik. Pertanda pos 3 sudah dekat. Sampailah kami di pos 3 sekitar jam setengah 6 sore. Tenda didirikan disekitar bangunan pos.


Melihat pemandangan sekitar yang memanjakan mata dan sekaligus menunggu damainya matahari terbenam, aku, Triasni, dan Ayu mengambil banyak dokumentasi. Tidak berlaku untuk Ncus, dia lebih memilih langsung masuk ke tenda, memberikan istirahat pada pahanya yang cedera. Selesai menikmati matahari tenggelam, Ncus terusik dari kenyamanannya. Triasni dan Ayu membutuhkan privasi di dalam tenda untuk bebersih dan mempersiapkan kondisi malam. Kami berempat tidur di dalam tenda yang sama. Sambil menunggu, aku dan Ncus mengobrol di bangunan pos 3. Setelah mereka berdua selesai, giliranku melakukan hal yang sama. Ketika aku selesai, kondisi diluar sudah gelap pertanda saatnya makan malam disiapkan.



Nasi putih kami bawa dari basecamp Sembalun. Terkadang kami panaskan kembali dengan tambahan margarin. Tinggal menyiapkan lauknya saja. Logistik yang kami bawa ada beberapa yang berupa makanan kaleng. Memang berat, apalagi kalau dibawa sendiri. Taktik kami selalu menghabiskan makanan kaleng terlebih dahulu supaya cepat berkurang beban yang ditopang punggung. Tetapi beban yang ditopang perut bertambah. Oleh karena itu, jangan ragu-ragu buang air besar ya supaya semuanya menjadi ringan. Menurut pendapat pribadiku, menikmati makanan yang nikmat setelah perjalanan panjang dan melelahkan itu suatu kemewahan yang pantas didapatkan. Kalau kalian tau, ada makanan kaleng brand Bernadi yang memiliki varian lauk soto ayam dan rawon daging. Aku rekomendasikan brand tersebut kepada kalian karena enak dan praktis. Cukup dibuka lalu dipanaskan. Selesai dan nikmat. Kami buka lauk soto ayam terlebih dahulu. Tidak hanya makanan kaleng, ada menu langganan kami lainnya setiap naik gunung. Teri kacang dan tempe kering buatan Ibunda Ncus. Pelengkap yang mantap. Oh iya lauk ini juga awet untuk dibawa berhari-hari. Untuk minumnya adalah nutrisari hangat. Perut kenyang dan tentram hari itu. Ada satu fakta di kelompokku yang mungkin kalian juga alami, kalau sudah di gunung, meskipun perut lapar karena perjalanan panjang dan melelahkan, napsu makan kami tidak bisa sebanyak di kota. Bukan takut untuk sering buang air besar. Entah kenapa bisa seperi itu.


Tidak langsung kembali masuk ke dalam tenda, kami ngobrol banyak hal terlebih dahulu. Sambil mengulas drama yang terjadi. Drama paha ketarik dan drama lupa ganti peran pembawa tas. Menertawakan detail cerita yang konyol. Memaafkan detail cerita yang memang itu salah. Dari sesi obrolan malam itu, kami tahu ternyata kondisi Ncus tidak terlalu fit. Tenggorokannya sudah tidak enak sejak pertama berangkat. Kalau dibiarkan bisa makin paraht. Untung saat itu aku membawa lo han kou. Jadi, khusus Ncus, setelah nutrisari hangat berlanjut ke lo han kou hangat. Dingin makin menusuk karena badan kami diam. Akhirnya diputuskan mengakhiri malam ini dengan kembali ke tenda untuk tidur. Rencana berangkat besok tidak terlalu pagi karena kalau pagi jalan, berarti di Pelawangan Sembalun jatuhnya akan siang. Di sana jarang terdapat pohon yang rimbun. Matahari terik akan sangat mengganggu. Mau berteduh didalam tenda juga tidak bisa. Suhu dalam tenda panas. Diluar dan didalam sama-sama panas. Jadi, lebih baik panas dialami ketika masih perjalanan naik dan sampai di Pelawangan Sembalun sudah sore.



Pagi sudah datang. Ayu dan Triasni bangun terlebih dahulu karena ingin menikmati kemagisan matahari pagi yang muncul dibalik barisan bukit. Aku dan Ncus cukup menikmatinya dari alam bawah sadar saja. Akhirnya kami berdua dibangunkan oleh kelakuan Ayu dan Triasni. Hari aku mulai dengan peregangan sedikit lalu dilanjutkan memasak sarapan. Adi yang berada di tenda sebelah sudah menyiapkan nasi putih. Lauk sarapan adalah telur dadar yang diberi potongan sosis dan teri kacang tempe kering yang sengaja kemarin malam kami sisakan. Medan di depan adalah bukit yang sering disebut 7 bukit penyiksaan. Faktanya kalau dihitung lebih dari 7. Tenaga harus benar-benar dipersiapkan. Aku jadi teringat peristiwa pndakian yang pertama dulu. Pada posisi yang sama, perjalanan yang dulu berhenti untuk istirahat makan siang. Namun, makan siang hanyalah mie instan dengan lauk tempe. Padahal perjalan selanjutnya membutuhkan tenaga banyak. Disisi lain, mie instant itu membuat kita ingin minum terus menerus. Konsumsi air menjadi lebih banyak. Itulah salah satu kekurangan mengikuti open trip. Kita tidak bisa mengatur menu makanan sesuai keinginan. Dari pengalaman itu, aku tidak ingin terjadi kembali pada perjalanan kali ini. Tidak apa-apa membawa beban makanan yang jauh lebih berat. Yang terpenting asupan energinya cukup.


Selesai makan, kami mulai beberes. Perut kenyang dan badan dalam kondisi prima, kecuali Ncus yang sakit tapi sudah jauh lebih membaik. Perjalanan siap berlanjut. Tujuh Bukit penyiksaan tempat di mana dulu aku merasa benar-benar disiksa. Apakah sekarang akan tersiksa kembali? Tanpa banyak ekspetasi, kaki terus melangkah naik. Seperti biasa, Adi dan adiknya jalan duluan dengan kecepatan yang tidak bisa kami ikuti. Tanpa diduga, Ayu yang dulunya lebih kuat daripada aku, sekarang dia menjadi orang yang paling tidak kuat. Mungkin aku terpacu mengikuti ritme langkah cepat Triasni yang berada di depanku. Ayu ditemani Ncus sebagai orang paling belakang. Triasni terus menjalankan perannya sebagai jiwa dari kelompok. Lontaran kata-kata penyemangat terus diusahakan terucap meskipun dia sendiri berusaha mengatur napasnya. Terkadang kami berempat terpisah saling berjauhan, kemudian berkumpul lagi disatu titik beristirahat bersama. Seringkali terlihat ujung yang sepertinya Pelawangan Sembalun. Tetapi sering juga itu hanya tipuan karena masih ada lanjutan bukit lagi yang masih harus dilalui. Saranku bagi kalian yang baru pertama kali menghadapi bukit ini, jangan terlalu berekspetasi. Lebih baik tidak berekspetasi sehingga kaki terus melangkah tanpa beban rasa kecewa dan mental menjadi lebih kuat.



Ujung mulai terlihat. Benar-benar ujung Pelawangan Sembalun. Aku masih ingat ciri-ciri medan yang menadankan bukit terakhir. Berani kukatakan kepada Triasni "Seikit lagi, Pelawangan Sembalun sudah didepan." Benar adanya, akhirnya kami berempat sampai di Pelawangan Sembalun. Kami istirahat sebentar sebelum lanjut berjalan mencari Adi. Dalam istirahatku, aku merasa benar-benar berbeda dalam melewati 7 bukti penyiksaan kali ini. Capai iya tetap ada. Tapi, capai itu terasa lebih ringan. Selain karena fisikku yang lebih siap, keberadaan sahabat pendakian itu memang krusial adanya. Secara tidak sadar, beban mental bisa teringankan dengan terbagi kepada mereka. Meskipun capai di kaki belum hilang, kami harus melanjutkan berjalan cukup panjang hingga sampai ke tempat mendirikan tenda. Kami sudah instruksikan kepada Adi agar mendirikan tenda di dekat jalur pendakian puncak yang berarti berada di titik terjauh dari posisi kami sekarang. Medan relatif landai. Tetapi karena sudah membayangkan enaknya rebahan, kaki ini menjadi terasa makin berat.


Adi dan adiknya akhirnya kami temukan. Tenda sudah didirikan. Kami rebahan sebentar. Dalam situasi seperti ini, aku lebih senang rebahan beralaskan tas diluar tenda. Udara segar diketinggian itu nikmat. Adi meminta izin meninggalkan kami untuk mengambil air di bawah. Kami berempat tidak ada yang ikut. Aku, Ncus, dan Ayu sudah tau bentukan tempat itu. Sedangkan Triasni lebih memilih menikmati pemandangan melihat Segara Anak. Kabut kadang datang, kadang pergi membuat kami harus bersabar untuk mengambil dokumentasi. Untungnya ketika matahari sudah mulai terbenam, kabut ikut pergi. Dokumentasi bisa diambil dengan kondisi yang baik. Sisa hari dihabiskan dengan mengobrol dan makan malam. Menu makan malam kami spesial sebagai persiapan memuncak. Daging Rendang menunya. Salah satu menu rekomendasiku yang harus kalian bawa ketika ke gunung karena daya tahan dan kenikmatannya tidak perlu diragukan. Kali ini tidak ada bubur kacang hijau sebagai sarapan sebelum memuncak. Makan ringan saja yang kami siapkan. Tidur kami percepat karena harus bangun jam 12 malam.



Jam 12 tiba. Aku mendengar tenda-tenda sebelah sudah mulai bersiap-siap juga. Cuaca juga cerah yang menandakan Puncak Rinjani memberi izinnya untuk dikunjungi. Aku membanguni mereka bertiga. Hanya Triasni yang menanggapi dengan suara tapi tidak bangun. Aku tidak ambil pusing karena mumpung mereka masih tidur, aku punya ruang untuk bersiap-siap. Pakaian lengkap dan jaket sudah terpakai sejak sebelum tidur. Hanya perlu memasang gaiter dan memastikan pelengkap lainnya seperti lampu kepala, sarung tangan, air, dan makan ringan terbawa semua. Persiapanku sudah selesai. Sekali lagi aku bangunkan mereka sebelum keluar dari tenda. Diluar aku melihat belum banyak deretan lampu berjalan. Aku berpikir ini waktu yang pas untuk berangkat karena tidak akan ada antrian. Macet ketika muncak itu tidak enak. Kita mau cepat tidak akan bisa karena ada orang di depan. Jadinya akan lebih banyak berhenti dan pendakian menjadi lebih berat. Masih belum ada tanda-tanda mereka bertiga bangun, aku bangunkan lagi untuk ketiga kalinya. Aku mencoba bersabar menunggu ada tanggapan. Tetapi lama kelamaan kesabaran ini habis dimakan dinginnya udara malam. Awalnya yang merasa semangat muncak, langsung rasa itu hilang dalam sekejap diganti dengan ngambek. Aku kembali masuk kedalam tenda, melepas semua pelengkap, dan masuk lagi ke dalam sleeping bag. "Ya udah lanjut tidur aja. Ga usah muncak" kata-kata terakhir yang kuucapkan sebelum memejamkan mata.


Sudah mulai hilang kesadaran mendekati masuk alam mimpi, tiba-tiba dibangunkan oleh Triasni dengan kata-kata "Den, kita enda muncak nih?" Sontak aku jawab "Enda Tri." "Lah kenapa? udah ramai tuh diluar" kata Triasni. "Kalian udah aku banguni dari tadi jam 12 tapi ga bangun-bangun. Aku sudah nunggu diluar lama. Masih aja enda ada yang bangun. Ya uda aku masuk tenda tidur lagi" jawabku dengan kesal dengan mata terpejam dan posisi badan membelakangi mereka. Benar-benar keinginan muncaknya hilang total. Triasni akhirnya mengajak dan membangunkan Ayu. Ayu terbangun dan bersedia menemani Triasni. Ncus juga dibanguni olehnya tapi mengatakan tidak ikut muncak karena pahanya masih sakit. Akhirnya hanya mereka berdua yang berangkat memuncak.


Ketika mereka sudah berangkat, hatiku menjadi gusar. Tidak bisa lanjut tidur. Aku kepikiran bagaimana nasib mereka berdua mengingat namanya ke puncak pasti berat dan apalagi kalau teringat beratnya pengalamanku yang dulu. Ncus aku ajak ngobrol. Dia kaget ketika mendengar suaraku masih ada didalam tenda. Dikiranya aku ikut dengan Triasni dan Ayu. "Loh lu masih disini den." "Gua nda ikut Cus. Gimana ya mereka berdua tu. Aman nda ya? Apa aku susul aja ya?" tanyaku kepada Ncus. "Udah gapapa. Ayu juga sudah pernah naik. Tahu medan. Aman aman." jawab Ncus. Perkataan Ncus itu seperti obat penenang dan ninabobo untuk aku kembali tertidur. Aku resapi sebentar sambil berpikir positif. Setelah itu kembali ditelan alam mimpi.


Berlanjut ke bagian 3

0 tampilan