Rinjani Panggung Pertunjukan-Bagian 1

Sekian lama kita berempat tidak pernah melakukan pendakian bersama. Rasa rindu mulai menyuarakan eksistensinya. Akhirnya datanglah kesempatan dimana bisa meluangkan waktu kosong yang bersamaan. Kami putuskan perjalanan mengarah kembali ke Gunung Rinjani. Dari sisi Triasni, dia belum pernah ke sana sama sekali. Sudah jelas rasa penasaran sangat besar. Apalagi ketika melihat foto-foto kenangan bertiga (aku, Ncus, dan Ayu) melakukan pendakian Gunung Rinjani. Semakin besar kobaran api rasa pensarannya. Sedangkan kami bertiga ingin mengulang kembali dan memperbaiki kesalahan pendakian Rinjani pertama kali. Mempersiapkan fisik lebih baik dengan harapan membuat kenangan baru yang lebih baik. Perdebatan muncul mengenai jalur yang ingin diambil. Aku pribadi sendiri berambisi mengusulkan agar perjalanan kali ini sampai ke Danau Segara Anak. Kuusulkan juga masuk dari Sembalun lalu turun di Senaru. Terima kasih kepada sahabat pendakianku, kalian mau menerima ambisiku ini. Diputuskanlah seperti ambisiku yaitu masuk dari jalur Sembalun lalu turun keluar di jalur Senaru dengan waktu perjalanan 4 hari 3 malam.


Singkat cerita kami sudah berada di pos Sembalun. Satu perubahan yang bikin aku kaget dibandingkan pendakian tahun 2015 silam (2 tahun perbedaan dibandingkan dengan pendakianku sekarang) adalah sudah ada jasa ojek untuk pengantaran sampai di pos 2. Kami tergoda dengan tawaran abang ojeknya. Dengan harga 200.000 rupiah bisa diantar sampai pos 2, dan pos 2 itu sangat jauh dari basecamp Sembalun. Prinsip kami: satu jalan semua harus jalan. Senasib sepenanggungan. Jadi, yang kami jasakan memakai ojek hanya tas carrier kami. Tiga dari empat tas yang dibawa, kami serahkan untuk berjalan dulu. Maksimal angka yang bisa dibawa sekali jalan. Tas mendapat fasilitas yang lebih mewah dibandingkan pemiliknya. Soal kemanan dijamin, karena ada yang menjaga di pos 2. Tidak akan ada pencurian. Mungkin adanya salah ambil tas. Oleh karena itu, jangan lupa beri tanda unik pada tas kalian agar tidak tertukar. Yang tidak membawa tas carrier, hanya membawa tas kecil yang biasa dipakai untuk muncak. Makanan ringan dan air isinya. Bisa dikatakan perjalanannya ringan.


Ringan sih... Tapi bukan berarti ringan untuk satu orang terpilih. Ada 1 tas carrier berat yang tetap harus dibawa. Tas biru milik Ncus. Ncus dengan senang hati menawarkan diri untuk membawa pertama kali. Lantas aku mengikuti menawarkan diri untuk menjadi orang kedua yang membawa tas tersebut ketika sudah sampai di pos 1. Sedikit cerita, dari kami berempat selalu tas ku yang paling berat. Secara kapasitas memang punyaku lebih besar. Barang berat memang sudah menjadi tanggung jawabku dan Ncus. Tapi ada satu kebiasaan ku dalam pengaturan berat isi tas yang sedang kuusahakan berubah untuk pendakian selanjutnya yaitu membawa baju dalam jumlah yang tidak berlebih. Entah aku selalu takut kekurangan. Padahal seharusnya 1 hari 1 baju itu cukup.


Perjalanan kami kali ini membawa porter. Namanya Adi. Dia masih jauh lebih muda dari kita. Pendidikan masih dia jalani. Dia tidak sendiri. Ada adiknya yang masih kecil ikut menemani. Mereka berdua warga Senaru. Akan menjadi tepat ketika perjalanan sudah selesai karena kita keluar di Senaru. Seperti biasa, bahan makanan kami titipkan beberapa kepada dia. Kami salut, meskipun perawakannya kurus, Adi kuat membawa beban yang berat bermodalkan sebatang bambu yang diberi beban dikedua ujungnya. Satu sisi barang kami, satu sisi barang dia dan adiknya. Tidak lupa doa selalu kami panjatkan sebelum mulai pendakian. Doa menurut agama masing-masing dan selesai. Kaki mulai melangkah dimulai pada jam 1 siang.


Masih sama seperti pendakian sebelumnya, langkah pertama kita bisa menyapa sedikit kebun warga dan warung. Kenangan kembali muncul terhadap warung ini. Teh Pucuk Harum menjadi saksi senyuman aku, Ncus, dan Ayu ketika rasa haus dan panas dari perjalanan turun yang jauh, hilang terpuaskan akibat rasa manisnya. Maju sedikit kulihat hal baru lagi. Sekarang penjagaan sudah ketat dan lebih baik. Kami sampai di pos pengecekan surat-surat izin pendakian. Salut kepada pengurusan administrasi di Rinjani yang terus berkembang menjadi lebih baik. Selesainya dari sana, kenangan lainnya menanti diceritakan kembali sambil menemani langkah kami berempat. Tanjakan tajam ke atas pertama menyambut dan kami lewati dengan biasa. Sesampainya di atas, istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan Desa Sembalun dari ketinggian.


Setelah itu, perjalanan menembus vegetasi rimbun seperti hutan. Tawa canda mulai menghilang tergantikan hembusan napas terbata. Kami berempat mulai mengatur napas masing-masing. Langkah sudah tidak mampu mengikuti ritme porter yang selalu berada didepan kami. Adi sudah kami minta jalan duluan. Medan masih teringat di memori aku, Ncus, dan Ayu. Tidak ada jalan yang membingungkan. Tidak ada rasa khawatir. Melihat Adi yang berjalan cepat, begitu juga adiknya membuat kami berpikir "memang hebat kalau sudah namanya akamsi (anak kampung sini, sebutan santai kami untuk penduduk sekitar) mau tua, mau muda, semuanya kuat-kuat. Jalannya cepat padahal beban yang dibawa berat." Jalan digunung sudah jadi kebiasaan mereka. Sama seperti orang kota yang terbiasa jalan ke mall.


Dari kami berempat yang menjadi jiwa kelompok adalah Triasni. Meskipun capai masih saja banyak tingkah lakunya. Bersiul. Mencari ranting ditanah. Berjabat tangan dengan daun sekitar. Ada-ada saja tingkahnya itu. Disisi lain, dia juga yang selalu semangat mengambil dokumentasi perjalanan. Berfoto-foto ria dengan melakukan banyak aksi konyol kami lakukan sambil istirahat. Kami sempat berpapasan dengan ojek pembawa tas. Ojek tersebut sudah arah balik dari pos 2 menuju bawah mencari pesanan kembali. Tak lama perjalanan dilanjutkan dan sampailah kami di hamparan savana hijau luas dengan hiasan jajaran perbukitan yang hijau juga. Mental sudah lebih kusiapkan karena seingatku dari titik ini ke pos 1 masih jauh. Meskipun medan relatif landai tapi seingatku tetap menguras energi. Jalan terus berjalan, tanpa terasa sudah sampai di pos 1. Benar-benar membuatku kaget tidak menyangka jauh berbeda dengan yang dulu. Entah karena sekarang langkah lebih cepat atau tawa canda dan obrolan mengalihkan semuanya. Kalau direnungkan, ada kalanya kita sudah tahu terlebih dahulu panjangnya perjalanan itu baik, ada kalanya tidak tahu itu lebih baik. Tergantung situasi yang dihadapi.



Berhenti di pos 1 sambil menikmati sekitar yang dulunya tak bisa kunikmati karena malam sudah menyelimuti. Melihat bangunan pos 1 yang dulu dipakai untuk memasak makan malam bersama. Melihat tanah letak tenda didirikan. Satu hal yang harus kucari adalah lokasi semak-semak dimana dulu aku pernah buang air besar malam hari. Ketika sudah kutemukan, tawa ini muncul dengan sendirinya. Mengenang kejadian dulu itu seru dan lucu. Satu kejadian lucu yang masih jadi pembahasan kami hingga hari ini, yaitu aku lupa untuk menggantikan Ncus membawa sang tas carrier biru. Setelah istirahat selesai, aku langsung lanjut berjalan dengan posisi paling depan. Ncus sendiri tidak memanggilku. Mungkin dia sudah lelah dan capai. Menuntut kesadaran dari aku yang ternyata tidak ada. Kalau Ncus membaca cerita ini, maafkan kelakuanku ya Cus. Tidak ada maksud kesengajaan. Terima kasih atas ketabahan yang dikorbankan. Terima kasih atas kepentingan bersama yang didahulukan. Terima kasih atas tidak mempermasalahkan hal ini. Ncus... Anda Terbaik!



Perjalanan berlanjut sampailah kita di sumber air pertama sebelum pos 2. Aku hanya bisa kembali kecewa. Kondisi disana tidak membaik. Masih saja banyak sampah berserakan dan baunya menyengat. Menurutku tidak layak mengambil air disitu. Entah setan apa yang merasuki Ncus, tiba-tiba dia inisiatif berlari. Kami melihat prosesnya biasa saja. Tetapi melihat hasilnya yang bikin kaget dan ada sedikit tertawanya sih. Ternyata urat paha dia ketarik. Sekarang dia menjadi berjalan dengan agak menahan rasa sakit dipahanya. Sudah tau bawa tas carrier berat tapi masih saja petakilan. Sekali lagi, Ncus kalau anda membaca cerita ini, aku hanya bisa berkata Ncus... Anda Terbaik! Tidak ada batasan untuk tetap aktif! Akhirnya sampailah kami di pos 2. Tiga tas kami sudah terjaga dengan baik ditenda warung yang buka disitu. Kami ambil lalu beristirahat cukup lama mempersiapkan fisik karena di depan medan sudah bisa dilihat mata naik. Target mendirikan tenda di pos 3.


Bersambung ke bagian 2




17 tampilan