Lokasi Tersimpannya Cerita Terakhir Hidup Prabu Sri Aji Joyoboyo

Mengunjungi Kota Kediri jangan terbatas pada wisata kuliner saja. Jeprat-jepret makanan lalu diposting ke media sosial sebagai pencarian validasi eksistensi dari orang lain itu sudah sangat biasa. Mau yang luar biasa? Kota Kediri memiliki hal yang jauh lebih keren dibandingkan wisata kulinernya, yaitu wisata sejarah. Salah satu wisata sejarah yang dimiliki Kediri adalah sejarah keberadaan Kerajaan Kediri yang sangat termasyur pada waktunya dan dipercaya merupakan kerjaan yang menurunkan banyak raja-raja besar kerajaan lainnya di Indonesia. Raja Kediri yang terkenal adalah Prabu Sri Aji Joyoboyo. Perjalanan wisata sejarahku kali ini berupa napak tilas/ziarah ke Petilasan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Perjalanan napak tilas akan terbagi ke 4 situs yaitu: Sendang Tirto Kamandanu, Loka Mahkota, Loka Busana, dan yang terakhir adalah Loka Muksa.


Kalau kalian cari tempat ini di Google Maps dengan mengetik 'petilasan', kalian tidak akan menemukan apa-apa. Yang terdaftar justru pemakaman Prabu Sri Aji Joyoboyo. Padahal faktanya adalah Prabu Sri Aji Joyoboyo tidak pernah meninggal, melainkan muksa/kembali menghadap Tuhan bersama dengan raganya. Jadi, tidak ada jasad yang tertinggal di dunia. Selain itu, lokasi pemakaman yang tertera di Google Maps juga salah titik. Jadi, apabila mengunjungi tempat ini lebih baik bertanyalah kepada penduduk sekitar. Penunjuk arah tetap ada, tapi tulisannya kurang jelas karena ukura papannya yang kecil.


Perjalanan napak tilas aku mulai dengan mengunjungi Sendang Tirto Kamandanu. Tempat ini merupakan tempat Prabu Sri Aji Joyoboyo melukad (mandi dan bersuci) sebelum melakukan muksa. Pertama masuk, aku mengisi buku tamu terlebih dahulu lalu memberikan uang masuk secara sukarela besarnya. Situs ini dibuka dengan pemandangan awal adalah taman yang luas dengan pepohonan yang sangat besar yang sekiranya sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Nampak diujung taman ini ada sebuah bangunan seperti gerbang dengan desain khas peninggalan zaman kerjaan Hindu.



Setelah melewati gerbang, perjalanan pertamaku disambut oleh patung Trimurti, yaitu Dewa Wisnu, Siwa, dan Brahma. Aku sempatkan memberikan penghormatan dan memanjatkan ucapan terima kasih karena diizinkan mengunjungi situs ini. Napak tilas aku lanjutkan menuju permandian yang berlokasi di belakang patung Trimurti. Terdapat 2 kolam besar, di sisi kiri dan kanan patung. Pada kunjunganku kali ini, kolam di sisi kananlah yang terisi oleh air. Air yang ada dikolam ini diyakini suci. Pengunjung dibebaskan untuk mandi di kolam ini atau mengambil airnya untuk dibawa pulang. Bagi yang mandi di sini, dipersilahkan memohon sesuai kepercayaan masing-masing. Air disini hanya sebagai lantaran penyucian diri dan penghantar doa. Dari posisi berdiri di kolam, kalian bisa melihat patung Dewa Ganesha yang menghadap ke arah kolam permandian. Patung ini tepat berbelakangan dengan patung Trimurti.


Selesai dari kolam permandian, tepat disebelah kanan kolam ada lokasi beringin sembilan. Kala itu aku tidak bisa masuk karena gerbang dikunci dan membutuhkan izin kepada juru kunci setempat. Singkat cerita, lokasi itu adalah lokasi yang paling sakral di situs ini dan pohon beringin yang ada di sana adalah beringin yang umurnya sudah sangat tua. Sebelum meninggalkan situs ini, aku menyempatkan diri bertemu dengan juru kunci. Bertanya mengenai sejarah situs ini dan mencoba meminta izin mengunjungi beringin sembilan tetapi tidak diperkenankan.


Perjalanan napak tilas berlanjut ke Loka Mahkota. Loka Mahkota, Loka Busana, dan Loka Muksa berada di situs yang sama menjadi satu. Situs ini tidak jauh dari situs sendang. Sesampainya di sini, pada gerbang awal, aku menjumpai banyak warga yang berjualan dupa dan suvenir. Cukup berjalan lurus sedikit saja, aku sudah sampai di gerbang situs yang terakhir. Sama seperti sebelumnya, untuk masuk, aku harus mengisi buku tamu terlebih dahulu dan membayar uang masuk serelanya. Culup berjalan terus ke belakang dari pos pendaftaran aku sampai di situs Loka Mahkota. Nampak sebuah monumen menyerupai mahkota. Situs ini merupakan tempat Prabu Sri Aji Joyoboyo melepaskan mahkota yang menjadi simbol pelepasan seluruh jabatan.


Napak tilas berlanjut ke situs ke empat yaitu Loka Busana. Situs ini terletak di tengah-tengah, bersebelahan dengan Loka Muksa. Situs ini merupakan tempat Prabu Sri Aji Joyoboyo melepaskan semua ageman/pakaian.


Situs terakhir dalam rangkaian napak tilas ini adalah Loka Muksa, situs dimana Prabu Sri Aji Joyoboyo melakukan tapa muksa. Dari situs terakhir ini, aku melihat sebuah gentong yang berlubang. Menurut penjelasan dari juru kunci di sini, gentong berlubang ini melambangkan Jangka Joyoboyo, kemampuan Prabu Sri Aji Joyoboyo dalam meneropong masa depan yang kemudian beliau tuliskan dalam syair-syair ramalan. Sebelum mengakhiri perjalanan, aku sempatkan beramah-tamah dengan juru kunci terlebih dahulu.



Sekian cerita napak tilasku. Tidak ada perasaan yang tidak enak ketika mengunjungi tempat ini. Asal niat kita untuk napak tilas itu baik, maka pasti sambutan baik yang didapatkan. Yuk ingat kembali sejarah besar bangsa ini!


Sebagai info penutup bahwasanya Kota Kediri memiliki suatu mitos yang mengatakan: tidak ada presiden yang berani ke Kediri karena kalau ke Kediri itu berarti presiden mengembalikan jabatan yang dititipkan karena Kediri itu dulunya adalah pencetus nusantara.



Salam Jasmerah


10 tampilan