Pertama Solo Hiking Pertama Tersasar di Gunung Bekel

Setelah menyelesaikan perjalanan napak tilas peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan, aku mulai menelusuri cagar budaya lain yang belum aku kenal. Tertujulah aku pada channel youtube BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur. Awal mulanya aku mengikuti perkembangan ekskavasi situs Kumitir melalui channel ini. Setelah seluruh berita mengenai situs Kumitir kulahap abis, mulailah aku scroll-scroll konten lama mereka. Aku tertarik dengan konten yang berjudul BPCB Jatim-Cagar Budaya Gunung Bekel dan Gunung Penanggungan. Langsung aku klik dan tonton.


"Gila! Ternyata banyak candi di Gunung Bekel. Wajib main ke Candi Kendalisodo nih. Pemandangan puncaknya bagus juga. Bisa langsung melihat Gunung Penanggungan," aku berbicara kepada diriku sendiri. Aku sudah terlanjur terpelet oleh keindahan Candi Kendalisodo. Tidak berlama-lama, aku langsung melanjutkan dengan browsing informasi yang lebih mendalam mengenai pendakian ke Gunung Bekel.


Informasi yang kudapatkan adalah jalur masuk pendakian melalui Petirtaan Jolotundo yang terletak di kecamatan Trawas, waktu tempuh pendakian untuk sampai puncak kurang lebih 3 jam, dan syarat pendakian cukup fotokopi KTP saja. "Baiklah, berarti aku bisa berangkat sendiri dengan sepeda motor", kesimpulanku setelah mendapatkan keseluruhan informasi. Aku memilih rute menuju Trawas dari Mojosari karena naiknya lebih mencicil dibandingkan rute dari Pasuruan. Perjalanan kali ini akan sangat menguntungkan karena dalam sekali jalan aku bisa eksplorasi 2 tempat sekaligus, yaitu Petirtaan Jolotundo dan Gunung Bekel.


Untuk detail menuju ke lokasi akan aku sajikan pada cerita eksplorasi Petirtaan Jolotundo. Singkat cerita, pada hari itu setelah selesai eksplorasi Jolotundo, aku berlanjut menuju pos pendaftaran. Ada tangga di kiri pintu masuk Petirtaan Jolotundo. Itulah jalan naiknya. Fotokopi KTP yang sudah kupersiapan tidak terpakai. Ternyata syarat administrasi pendakian hanya sehat jiwa dan raga, membawa perlengkapan pendakian yang selayaknya, patuh terhadap protokol kesehatan (memakai masker dan jaga jarak), memberikan data diri (perwakilan kelompok saja) dan membayar biaya masuk sebesar 10.000 rupiah/orang. Tidak perlu ada lampiran surat sehat.


Setelah administrasi terpenuhi, mas (sebutan dalam bahasa Jawa untuk lelaki muda) penjaga pos akan memberikan peta perjalanan dan menjelaskan rute pendakian. Sayang sekali jalur pendakian yang kuinginkan seperti konten youtube BPCB Jatim sedang ditutup karena vegetasi masih terlalu rimbun hingga menutupi jalur pendakian. Jalur itu bernama jalur 1, jalur 2, dan jalur 3. Sebagai alternatif, dipakailah jalur pendakian Gunung Penanggungan melalui Candi Bayi. Lebih detailnya bisa kamu lihat gambar di bawah ini.


Peta Pendakian Gunung Bekel & Gunung Penanggungan

Total waktu pendakian hingga puncak menurut mas penjaga pos adalah 3 jam dengan berjalan normal, sesuai dengan informasi awal yang kudapatkan hasil dari browsing. Sekarang sudah jam 1 siang yang berarti aku akan sampai puncak jam 4 sore dan bisa-bisa turun tembus malam, sedangkan aku tidak membawa headlamp. Setelah berpikir panjang, aku putuskan tetap mencoba mendaki. Target maksimal jam 3 sore aku sudah harus kembali turun. Keinginan mencoba solo hiking pertama kalinya menjadi dorongan terkuatku untuk tetap melanjutkan pendakian.


Sebelum berangkat, mas penjaga pos mengingatkan kembali bahwa tiap individu harus membawa air minimal 3 liter. Air harus dibawa dari bawah karena selama pendakian tidak ada mata air dan bisa diambil secara gratis di dekat pos pendaftaran. Air ini adalah air yang sama dengan air yang keluar di Petirtaan Jolotundo. Sama-sama air gunung dan sama-sama masih murni. Bedanya hanya air yang ada Petirtaan Jolotundo lebih dingin dan lebih menyegarkan. Entahlah kenapa bisa begitu. Saat itu aku hanya membawa 850 liter air saja. Jauh dari kata cukup. Mau tidak mau, aku kembali turun ke warung yang ada diparkiran dan membeli air mineral ukuran 1,5 liter. Sebenarnya kamu bisa untuk tidak membeli air di warung apabila masih kekurangan. Cukup ambil botol plastik bekas yang ada di pos pendaftaran lalu cuci dan isi dengan air gratis tadi.


Semua persiapan sudah selesai. Mental sudah aku kuatkan. Saatnya jalan sendiri untuk pertama kalinya. Tidak lupa aku panjatkan doa terlebih dahulu meminta keselamatan dalam perjalanan kepada Tuhan. Pesan dari mas penjaga pos betul-betul aku ingat. Setelah selesai anak tangga diawal, jangan belok kiri karena itu jalur yang ditutup. Setelah melewati itu ambil kanan terus. Nanti akan sampai di pos pertama berupa gubub warung. Setelah dari gubug bakal bertemu pohon tumbang. Ambil jalan di sisi kirinya saja untuk memutari. Kalau bingung bisa kontak saya ke nomer yang tertera di peta. Sinyal ada di atas.


Solo Hiking Dimulai


Anak tangga diawal aku tapaki dengan semangat. Setelah itu jalan terpecah menjadi dua. Inilah persimpangan pertama. Sisi kiri mengarah ke atas, sisi kanan mengarah ke bawah. Peta yang tadinya kusimpan mulai kulihat kembali. Sambil melihat peta, aku sambil mengingat pesan mas penjaga pos "Jangan belok kiri setelah anak tangga."


Titik Awal Pendakian Via Jolotundo

Baiklah, berarti aku harus mengambil jalan yang ke arah kanan. Baru berjalan sedikit, dari balik pepohonan aku bisa melihat Petirtaan Jolotundo. "Loh, kenapa aku jadi jalan di atas Jolotundo. Wah salah jalan!" ucapku dalam hati. Aku kembali naik ke persimpangan jalan. Sewaktu naik aku melihat di depanku ada satu jalan lagi yang tertutup semak belukar dan dihalangi oleh bambu kecil di tanah. Kalau dari posisi awal baru naik, berarti jalan ini berada di sisi kiriku. "Oh, jangan-jangan ini adalah jalan yang ditutup." Dengan begini, berarti pilihannya tinggal satu jalan saja. Pendakian aku lanjutkan. Tidak lama berjalan aku bertemu dengan persimpangan lagi. Persimpangan kedua. Suasana pendakian melewati hutan mulai terasa karena sekeliling terdapat banyak pohon besar yang menghalangi cahaya matahari masuk.


Aku kembali mengingat-ingat pesan mas penjaga pos. Setelah larangan belok kiri, aku harus terus ambil kanan. Dengan yakin aku putuskan mengambil jalan ke kanan. Kondisi jalan menurun dan banyak bebatuan yang memudahkan berpijak. Tentunya aku merasa bahagia karena mendapatkan jalan turun. Sangking santainya, aku berjalan turun sambil mencoba berlatih vlog. Sekitar 10 menit berjalan, dari kejauhan aku melihat ada sebuah bangunan. Perasaanku semakin bahagia karena merasa berada di jalan yang benar. "Pasti ini yang dimaksud warung gubug," dalam hati aku berkata. Semakin mendekati bangunan, kondisi jalan mulai tertutupi oleh kapuk. Memang banyak pohon kapuk dihutan ini. Tiba sudah aku di bangunan tersebut dengan aman dan selamat.


"Mana warungnya. Gak ada model warung-warungnya sama sekali! Ini bangunan bagus gini, tidak ada kesan gubug-gubugnya sama sekali," aku bergumam sendiri di dalam hati. Alih-alih mirip gubug warung, bangunan ini justru mirip gudang yang bertembok. Tetapi, akhirnya aku tetap menganggap bangunan ini sebagai warung gubug. Mungkin menurut kesederhaan gaya bicara penduduk sekitar, bangunan bertembok ini masih termasuk gubug. Itulah pembenaran yang kumasukan kedalam pikiranku agar suasana pikiran dan hatiku tetap positif sambil aku melihat sekitar mencari jalan selanjutnya.


Pohon Tumbang


Terdapat jalan berbentuk tangga menurun di sebelah kanan warung gubug. Aku ambil jalan itu. Sesampainya dibawah, jalan menjadi persimpangan lagi dengan kursi bambu panjang berada ditengah. Persimpangan ketiga. Pada sisi kanan aku lihat ada pohon tumbang yang menandakan adanya kesesuaian dengan pesan mas penjaga pos. Berarti aku harus mencari jalan ke kiri untuk memutari pohon tumbang ini. Tanpa ragu aku berjalan mendekati pohon. Begitu sampai di depannya, aku malah menjadi bingung karena tidak ada akses jalan ke kiri. Aku putuskan kembali ke kursi bambu, lalu mencoba jalan satunya. Jalan ini sedikit menurun, lalu tidak lama aku menemukan pohon tumbang lagi.


Rumah yang Kukira Gubug Warung

"Lah, kok justru jadi ada 2 pohon tumbang?!" Rasa kebingungan merasuki pikiranku lagi.


Kali ini ada bekas jalan di sisi kiriku. Dengan harapan bisa memutari pohon yang ada didepan, aku nekat mencoba jalan ini. Baru sampai disamping pohon, jalan menjadi buntu tertutup tanaman. "Ambil kiri kok justru buntu! Wah salah informasi nih," aku bergumam dalam hati. Aku putuskan kembali ke kursi bambu untuk melihat sekitar lagi, berharap menemukan jalan lainnya yang kemungkinan aku terlewat. Namun, tidak ada hasilnya. Dua pohon tumbang ini benar-benar membuatku pusing. Pada kondisi ini aku mulai berpikir untuk kembali saja mengakhiri pendakian.


"Ok coba sekali lagi ke pohon tumbang kedua lagi. Kalau masih tidak nemu jalan berarti harus balik," aku membuat keputusan terhadap diriku sendiri.


Kembalilah aku ke pohon tersebut. Setelah aku benar-benar perhatikan, ternyata sisi kanan ada jalan tapi harus menunduk dan menerobos semak. Jalan ini akan memutari pohon dari kanan dan hasilnya adalah aku berhasil berada di sisi balik pohon tumbang tadi. Tetapi, lengan menjadi dapat oleh-oleh. Tercakar oleh ranting-ranting semak. "Sip! jalannya ketemu," aku kembali yakin berada pada jalan yang benar, apalagi ketika aku lihat botol air mineral yang digantung di pohon. Biasanya jalur pendakian memang diberi tanda-tanda tertentu seperti ini.


Pendakianku berlanjut. Jalan terus turun kemudian tak lama menjadi datar. Untuk keempat kalinya kalinya aku dihadapkan lagi dengan persimpangan jalan, tapi jalan yang ke kanan lumayan tertutup rumput. Tanpa lama berhenti dan berpikir, aku mantab memilih jalan lurus saja yang lebih jelas. Mulai sini jalan menjadi naik. Dalam hati aku berpikir, ini dia tantangan pendakian yang sebenarnya.


Jalan naik lumayan curam dengan ranting-ranting semak yang menjulur sering mencakar lenganku. Tengah perjalanan, aku temukan sebuah kayu tertebang menyisakan bagian bawah dan akarnya saja. Aku berpikir bahwa ini tanda selanjutnya bahwa masih berada di jalan yang benar. Aku istirahat terlebih dahulu di dekat kayu tersebut. Minum madu dan air supaya energi kembali mengisi badan karena jalan di depan mata masih terus menanjak.


Kaki lanjut menanjak. Baru berjalan sedikit dan tidak sampai 5 menit, aku bertemu jalan buntu. Jalan benar-benar tertutup semak belukar. Tidak akan bisa lewat kalau tidak ditebas. "Haduh kenapa buntu lagi. Tidak mungkin ini jalur pendakian," aku mengomel di dalam hati. Aku segera turun sambil berbicara kepada Tuhan memohon keselamatan dan diberi petunjuk.


Bertemu Warga


Ketika sampai kembali di persimpangan keempat, aku mendengar suara motor berjalan dan orang tertawa. "Coba kesanalah, sekalian tanya jalur pendakian." Aku lewati jalan yang tadi lumayan tertutup rumput. Jalan ini tembus ke jalan tanah yang cukup luas dan bisa dilewati oleh motor. Jalan terus kuikuti hingga kutemukan lahan luas seperti bumi perkemahan. Tidak ada siapa-siapa di sini. Perjalanan turun aku lanjutkan dengan masih berharap bisa bertemu orang yang tadi mengendarai motor. Suara orang mengobrol mulai terdengar.


Aku sampai dilokasi yang kali ini benar-benar terdefinisikan sebagai gubug warung. "Jangan-jangan ini gubug warung yang dimaksud." Aku coba melihat ke dalam warung. Tidak ada barang jualan dan tidak ada orang. Kulanjutkan saja berjalan ke belakang warung. Terdapat dua orang sedang asyik ngobrol di sebuah gasebo sederhana. Sontak aku datangi dan bertanya.


"Permisi mas, ini benar yang namanya gubug warung?" aku bertanya sambil menunjukan peta yang kubawa.

"Bukan mas. Masnya mau kemana?"

"Ke Bekel mas."

"Oh kalau bekel lewatnya bukan di sini. Diatas tadi jalannya."


"Gapleki (sial) aku tersasar!" aku mengumpat dalam hati. Kalau begitu bangunan diawal benar adalah gubug warung. Aku beranggapan diatas itu adalah jalan yang tadi aku tempuh dan berakhir dengan kebuntuan. Kebingungan dan dilema mulai timbul. Jalan mana lagi yang harus kutempuh. Pilihannya sudah habis.


Aku duduk dan istirahat sebentar. Tali sepatu aku kencangkan kembali untuk memulai perjalanan naik. "Mari mas, saya lanjut lagi," aku berpamit kepada mereka berdua. Tempat itu seperti tempat istirahat dan nongkrong penduduk sekitar. Mentalku sudah kalah. Habis sudah niat berjuang melanjutkan solo hiking. Akhirnya, aku putuskan kembali pulang saja tak perlu melanjutkan pendakian. Untung aku orangnya mudah mengingat jalan, jadi kembali ke warung gubug di atas masih aku ingat dengan baik.


Aku berhasil kembali ke botol air mineral yang digantung, lalu mengitari pohon tumbang lagi. Mau tidak mau lengan tercakar lagi oleh ranting semak. Kemudian naik hingga ketemu warung gubug. Aku terus berjalan tanpa istirahat dengan keinginan cepat kembali ke pos pendaftaran, meskipun sehabis ini jalan akan naik.


Kebablasan


"Loh kok kelihatan jalan aspal? Itu kan jalan naik masuk ke arah Jolotundo." Aku kembali mundur. Ternyata ada jalan kekanan yang terlewat. Aku berjalan kembali ke jalan yang seharusnya. "Kenapa rute pendakian dibuat memutari Jolotundo, padahal bisa cepat kalau memakai jalan aspal," aku berpikir sambil berjalan. Jalan naik terus aku hajar dengan sisa semangat yang ada. Tibalah aku di persimpangan nomor dua. Tanpa pikir panjang aku tetap berjalan maju terus karena seingatku sewaktu berangkat aku turun cukup panjang dan belum saatnya berbelok.


Tiba-tiba ada pohon yang sangat tua dan besar dengan akar magisnya. Pohon ini ada di sisi kiriku. Aku mengagumi pohon sambil istirahat didekatnya. Tak lama, aku lanjut melangkah dengan jalan terus naik. Makin lama ritme istirahatku makin sering. Dalam istirahatku yang terakhir, aku baru tersadar. "Pohon tadi seharusnya tidak kulihat sewaktu berangkat. Pohon sebesar itu tidak mungkin kalau tidak aku lihat. Walah aku nyasar lagi! Harusnya aku tadi belok di persimpangan," aku bergumam. Akhirnya aku kembali menuruni jalan yang sudah susah payah aku naiki. Ketemulah aku di persimpangan nomer dua dan kalu ini aku berbelok.


Aku berjalan turun sampai ketemu dengan bambu kecil penutup jalan yang ada di awal pendakian. Dari sini aku sudah yakin berada dijalur yang benar untuk pulang. Selanjutnya ketemu dengan anak tangga. Aku turuni dan sampailah aku kembali di pos pendaftaran. Tanpa duduk istirahat, aku langsung mencari mas penjaga pos pendaftaran.


Tersasar


Oborolan dibawah ini seharusnya memakai bahasa Jawa, tapi akan aku tuliskan dalam bahasa Indonesia supaya lebih mudah dicerna.


Peta Pendakian Gunung Bekel

"Kenapa cepat mas. Sampai mana pendakiannya?" dia duluan yang bertanya kepadaku.


"Tidak sampai mana-mana mas. Kamu kenapa memberi aku jalan yang memutari Jolotundo, padahal ada jalan yang lebih dekat, tinggal turun jalan aspal ini," protesku kepadanya sambil menunjuk ke arah parkian. Mas penjaga pos mulai kebingungan.


"Yang kamu maksud gubug warung ini kah?" tanyaku kembali sambil menunjukan foto dari hp.


"Bukan mas. Wah kamu tersasar." Dia menjawab sambil tertawa. (Lihat peta, di kiri atas gambar candi Jolotundo ada tanda panah. Jalan lurus terus ke atas. Aku tersasar di situ. Aku ambil ke bawah, kalau di tempuh berarti ke kanan)


"Wealah mas, tanganku sudah lecet semua" Aku konfirmasi ulang peta dan semua kata-kata petunjuk yang dia berikan terhadap jalur yang kuambil. Sambil berbincang, aku mengumpulkan kembali napas dan mulai meminum air. Air mineral 1,5 liter baru kubuka di sini.


Kesimpulan obrolan kami adalah aku tersasar di persimpangan kedua. Harusnya aku ambil kiri, tapi aku malah ambil kanan. "Itu jalur warga lokal kalau nebang kayu mas. Sudah sering ditutup tapi sama warga dibuka lagi. Kapan hari juga ada kelompok yang nyasar persis kamu mas. Orang paling depan mengarahkannya salah. Akhirnya sewaktu balik, orang yang paling belakang ngomel: niatnya naik gunung, kenapa justru jalan turun. Padahal disana sudah ada tandanya untuk belok kiri."


"Tidak ada mas. Hm... apa aku yang tidak kelihatan ya? Sudahlah mas aku kembali lagi lain hari saja. Sekalian aku bawa teman naik. Sudah tidak lagi jalan sendiri kalau belum tahu jalannya. Kapok aku."


"Yo mas. Tapi biasannya juga banyak yang jalan sendiri. Tidak apa-apa mas."


"Berarti memang belum waktuku. Untunglah ini masih bisa kembali dengan selamat"


Obrolan kami berlanjut sambil bercanda-canda. Aku bertanya lebih dalam mengenai jalur dan lama pendakian, bagaimana mekanisme kalau mau lanjut ke Gunung Penanggungan, dan masih banyak lagi. Aku juga meminta peta pendakian kalau mau ke Gunung Penanggungan. Semua informasi ini aku jadikan bekal pendakian selanjutnya yaitu kembali ke sini. Aku harus menuntaskan Gunung Bekel. Candi Kendalisodo masih menanti!


Akhirnya aku pulang dengan segudang pengalaman. Pengalaman solo hiking pertama ini sungguh luar biasa! Mungkin aku masih mau kembali mencoba untuk solo hiking, tapi kondisinya adalah aku sudah tahu jalannya atau ada kelompok lain yang bisa aku buntuti. Sewaktu berkendara pulang, aku juga baru mengetahui bahwa menuju Petirtaan Jolotundo lebih dekat melalui Ngoro dibandingkan harus melalui Trawas.


Inilah ceritaku tersasar dalam solo hiking pertama kalinya. Semoga berbagi pengalaman ini bisa bermanfaat buat kamu dan mohon maaf kalau dokumentasi tidak banyak. Yah namanya juga tersasar, yang ada panik. Tidak kepikiran untuk buka smartphone. Aku fokus mencari jalan. Setelah ini aku akan lanjutkan dengan pendakian Bekel yang sukses. Tunggu kelanjutan ceritanya ya!


Salam Gunung itu Guru