Pendopo Agung, Pendengar Sumpah Palapa Berkumandang

Selepas kunjunganku ke Gapura Wringin Lawang, aku berkendara menuju Pendopo Agung. Lokasi ini wajib kamu kunjungi karena konon katanya Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa di sini.


Arah menuju Pendopo Agung sama seperti arah menuju komplek Trowulan lainnya. Ketika kamu sudah menemukan Kolam Segaran, terus ikuti jalan lurus saja hingga menemukan perempatan. Ambil arah yang lurus. Tidak jauh setelah itu, pintu masuk Pendopo Agung akan terlihat di sisi kananmu.


Lokasi parkir yang tersedia sangat luas. Parkir motor berada didekat pintu masuk dengan tarif parkir sebesar 3.000 rupiah. Aku melihat di sekitar area parkir terdapat banyak tempat makan dan ada penangkaran rusa yang menjadi tujuan favorit banyak orang untuk berkunjung. Ternyata tempat ini sudah bertambah fungsinya. Tidak hanya sebagai tujuan wisata napak tilas Kerajaan Majapahit saja, tetapi juga dipakai sebagai tujuan rekreasi keluarga dan tujuan istirahat. Pengunjung yang datang mayoritas adalah keluarga. Mereka datang hanya untuk mampir memberi makan rusa dan menyenangkan hati anak mereka. Setelah itu pulang. Makanan rusa bisa dibeli di petugas parkir motor.



Aku mulai melangkah masuk. Tidak lupa aku mencuci tangan terlebih dahulu, lalu jalan melewati gapura dan menyelesaikan administrasi. Biaya masuk ke lokasi sebesar 3.000 rupiah. Selesai dengan urusan administrasi berarti saatnya menikmati lokasi. Apabila kamu ingin menggunakan toilet, kamu bisa berjalanan ke arah kanan terlebih dahulu.


Awal kedatanganku langsung disambut oleh 2 patung. Pada sisi kiri terdapat patung Mahapatih Gajah Mada dan pada sisi depan terdapat patung Raden Wijaya (Raja pertama Kerajaan Majapahit atau Wilwatikta). Dibelakang patung Raden Wijaya nampak bangunan besar. Itulah Pendopo Agung.


Bangunan Pendopo Agung berbentuk kotak dengan ukuran yang besar dan memiliki atap yang tinggi. Bangunan ditopang oleh pilar-pilar besar yang berdiri di atas pondasi/umpak dari batu yang masih asli dari zaman Kerajaan Majapahit. Keseluruhan arsitektur Pendopo Agung mengikuti kaidah-kaidah Jawa kuno yang masih dibawa dan diterapkan hingga sekarang, contohnya pada pendopo Keraton Yogyakarta. Atap yang tinggi tadi membuat sirkulasi udara berjalan dengan baik dan memberikan efek dingin. Oleh karena itu, tidak kaget kalau banyak pengunjung yang betah duduk dan tidur di dalam pendopo.


Pondasi Batu Asli dari Era Majapahit

Aku mulai memasuki pendopo. Semua yang ingin masuk wajib melepas alas kaki. Aku mulai menelusuri sisi kiri terlebih dahulu. Nampak jejeran koleksi foto kuno mengenai wajah militer yang mengesahkan pendopo ini. Berlanjut ke sisi sebelah kanan, nampak jejeran koleksi foto kuno mengenai situs-situs yang ditemukan di Trowulan, baik itu candi, gapura, petilasan, dan makam. Terakhir aku melanjutkan dengan suguhan utamanya yang berada di sisi depan.


Aku melihat terdapat 3 relief. Satu relief berada di sisi kiri dan dua relief di sisi kanan. Relief diapit oleh plakat bertuliskan nama-nama Raja yang memimpin Kerajaan Majapahit, mulai dari pendiri pertama yaitu Raden Wijaya hingga berakhir pada masa kepemimpinan Raja Brawijaya. Relief pertama dengan relief kedua dan ketiga dipisahkan oleh plakat berisikan nama-nama pejabat Pangdam V/Brawijaya.


Aku mulai dengan memperhatikan relief yang terletak di sisi kiri. Relief ini menceritakan mengenai suasana penobatan Raden Wijaya menjadi Raja pertama Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya berdiri dengan ageman/pakaian lengkap yang terbuat dari emas. Banyak prajurit dan pemuka agama ikut datang menyaksikan peristiwa tersebut. Acara pengangkatan dimeriahkan juga dengan banyaknya umbul-umbul atau bendera berwarna. Aku lihat terdapat unsur warna merah dan putih. Taukah kamu bahwa Sang Saka Merah Putih yang sekarang kita hormati, inspirasinya berasal dari bendera Majapahit yang sama berwarna merah dan putih, tetapi memiliki lebih banyak garis.


Relief Penobatan Raden Wijaya

Aku lanjut memperhatikan relief kedua yang berada di sisi kanan. Relief ini menceritakan mengenai suasana ketika Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa.


"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana insun amukti palapa."


Artinya: Setelah berhasil menundukan nusantara, saya akan beristirahat. Sesudah mengalahkan Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik barulah saya akan beristirahat.


Begitu bunyi Sumpah Palapa yang diikrarkan dihadapan Tribhuwana Tunggadewi (gelar pemimpin Kerajaan Majapahit ke-3), para mentri, dan para prajurit. Sumpah yang begitu tinggi ini tentunya menarik banyak reaksi dari berbagai pihak. Ra Kembar dan Ra Banyak yang menjadi rival Mahapatih Gajah Mada adalah contohnya. Dua sosok ini bisa aku saksikan pada relief. Mereka berdua sedang asik mencibir dan berada pada sisi kanan Mahapatih Gajah Mada dengan ageman yang sama dengan beliau.


Relief Mahapatih Gajah Mada Mengikrarkan Sumpah Palapa

Terakhir aku menuju relief ketiga. Relief ini menggambarkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit hingga bisa membawa kesejahteraan pada rakyatnya. Kekayaan kerajaan berasal dari hasil bumi yang berupa padi, sayur-sayuran, buah-buah, bambu, dan hewan ternak seperti kuda, kambing, celeng/babi, dan bebek. Tahukah kamu bahwa celeng/babi pada saat itu merupakan simbol kekayaan. Oleh karena itu, munculah istilah celengan yang dipakai untuk menyimpan kekayaan.


Masih pada relief yang sama, sisi kanan atas terdapat gambar kapal yang dipakai pada masa itu dan tergambarkan kehebatan kekuatan maritim Kerajaan Majapahit. Di atas kapal aku lihat ada gambar buah maja yang terkenal dengan rasanya yang pahit. Inilah cikal bakal penamaan Majapahit. Di bawah gambar kapal, tergambarkan situasi para prajurit memasang pasak dari batu yang dipakai sebagai pengikat gajah tunggangan Mahapatih Gajah Mada.


Relief Kekayaan dan Kekuatan Majapahit

Ternyata ada jalan tersembunyi dibalik plakat yang bertuliskan nama-nama pejabat Pangdam V/Brawijaya. Rasa penasaranku membawaku berlanjut eksplorasi halaman belakang dari Pendopo Agung. Aku temukan yang namanya puser bumi. Puser bumi inilah yang dipercaya sebagai pasak batu pengikat gajah tunggangan Mahapatih Gajah Mada, sama seperti penggambaran relief di depan. Dipercaya juga apabila puser bumi ini tercabut maka nusantara akan runtuh. Dibalik puser bumi aku lihat lambang Kerajaan Majapahit yang bernama Surya Majapahit. Bentuknya adalah cahaya matahari yang didalamnya terdapat dewa penjaga mata angin yang disebut dengan Dewata Nawa Sanga.


Puser Bumi dan Surya Majapahit

Aku masih terus berjalan ke belakang lagi. Aku melihat bangunan besar yang bernama Panggung Agung. Lokasi ini dipercaya menjadi tempat bertapanya Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada mengikrarkan Sumpah Palapa. Panggung Agung dikitari oleh makam dan terdapat satu pohon beringin besar. Aku mengurungkan keinginan memasuki Panggung Agung karena ada tulisan yang mengatakan harus izin juru kunci terlebih dahulu untuk memasuki Panggung Agung. Suasana di sini bagiku pribadi tidak menakutkan, meskipun banyak terdapat makam . Justru, aku merasa hawa dan suasana disini tenang dan dingin.

Ujung eksplorasi Pendopo Agung sudah tercapai. Tidak ada lagi yang bisa dinikmati dan dipelajari. Aku berjalan kembali ke depan. Aku pulang dengan membawa segudang ilmu dan cerita baru yang tidak pernah kudapatkan selama berada di bangku sekolah.


Panggung Agung

Sekian ceritaku menikmati Pendopo Agung. Semoga cerita perjalananku ini bisa bermanfaat bagi kamu dan menstimulusmu untuk mengunjungi Trowulan juga. Ayo belajar sejarah. Belajar sejarah itu menyenangkan.


Dukung terus eksplorasiku menelusuri keindahan alam dan budaya Indonesia dan menceritakannya kembali kedalam bentuk virtual tour yang bisa kamu akses dengan klik ini.


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari Museum Majapahit Trowulan, Youtube channel Kisah Tanah Jawa, dan website historia.id