Pendakian Puncak Gunung Rinjani Membuatku Berkenalan Dengan Dualitas Diriku-Bagian 2

Sampailah aku disuatu medan yang berbeda lagi. Tersusun atas batuan yang lebih besar-besar. Di sini lebih banyak orang. Pada akhirnya kutemukan juga 2 temanku, Ayu dan Ncus. Nahasnya Ncus pada saat itu menggigil sambil berdiri dibawah sinar matahari. Entahlah pada saat itu aku sudah tidak peduli dengan kondisi Ncus. Kalau dipikir sekarang, jahat juga aku kala itu. Rasa senang menguasaiku. Rasa senang sekali karena telah menemukan temanku kembali. Pada saat itu hatiku menangis terharu.


Aku melihat ada sebotol teh pucuk harum ditangan Ayu. Spontan kuminta berbagi. Lagi-lagi, teh itu benar-benar menjadi teh terenak yang kuminum seumur hidup. Sama seperti matahari tadi, rasa manis yang mengaliri tenggorokan dan sensasi dingin teh kala itu seperti rejeki yang dinanti-nanti. Terima kasih kepada Ayu yang mau berbagi teh itu dengan 3 orang. Tak berlama, kami bertiga melanjutkan perjalanan karena kalau diam terus, Ncus pasti akan semakin menggigil. Badannya harus dibuat panas dengan bergerak. Untungnya seiring matahari naik, kondisi dia juga ikut membaik.



Tantangan sebenarnya akhirnya datang. Dari medan tanah landai yang enak tiba-tiba berganti menjadi bebatuan kecil dan naik curam. Medan ini menunjukan puncak sudah sebentar lagi. Sebelum menjalaninya, aku sempatkan melihat medan di belakang. Ternyata track yang semalam itu panjang juga. Bentuk tracknya panjang melengkung dan naik tetapi perlahan naiknya. Kita menyusuri punggung Rinjani. Selain itu, kalau lihat kekanan, Danau Segara Anak terlihat sangat jelas. Pemandangan sudah sangat amat memanjakan mata. Tapi sekali lagi, mimpiku adalah menggapai puncak. Jadi, harus terus melangkah.


Bertemu lagi dengan medan yang bikin emosi. Maju 1 langkah mundur 2 langkah. Aku juga bertemu dengan diriku yang satunya. Dia berkata "sudah tidak perlu diteruskan, toh pemandangan dikanan juga sudah sangat indah." Posisi waktu itu aku sudah setengah perjalanan. Matahari juga sudah cukup diatas. Jadi, panas menyengat menambah berat pendakian. Aku sempatkan berhenti sambil tiduran dengan maksud mencoba berkompromi dengan semua ini, mencoba menjinakan diriku yang ingin kembali. Eh aku malah tertidur pulas. Bangun-bangun aku melihat Ayu dan Ncus sudah mendahului aku. Tidak terlalu jauh menurutku. Kulihat mereka terlihat juga sangat kelelehan. 


Semangat kembali terpacu untuk menyusul mereka. Diriku yang mengatakan turun sudah hilang bersama tidurku. Tampak di depan mata tetapi lucu dan kesalnya lagi adalah kenapa tidak sampai sampai menyusul mereka. Emosi mulai timbul. Inisiatif bodoh mengikuti, seperti berlari. Nahas hasilnya berlawanan dengan ekspetasi. Semakin berlari, kaki juga semakin meluncur ke bawah. Harus dijalani perlahan dan dinikmati. Itulah seni memuncak. Disaat itu hanya kekuatan mewujudkan mimpi yang membuatku terus melangkah.

Ketika sampai puncak, aku langsung menangis. Sungguh menjadi saat-saat yang mengharukan dalam hidup. Puncak gunung pertama yang kucapai. Mimpiku tergapai juga. Tidak hanya mengharukan tetapi juga peristiwa dimana kemenangan mengalahkan diriku sendiri. Diriku yang mudah menyerah. Diriku yang tidak tau arti berusaha. Diriku yang senang ada di zona nyaman.


Lahan Puncak Rinjani sangatlah sempit. Jadi, kalau sedang ramai pasti mengantri lama untuk mengambil foto dan menikmati sensasi di puncak. Untungnya saat itu sepi. Aku, Ncus, dan Ayu bebas berlama-lama di puncak. Dibelakang kita juga sudah jarang orang. Kita sampai puncak sudah terlalu siang dimana sudah banyak orang yang turun. Ternyata di puncak ada sinyal. Sontak langsung aku menelpon orang dirumah untuk memberi kabar bahwa aku sudah di puncak dan baik-baik saja. Setelah selesai bersantai dan menyiapkan tenaga untuk turun, perjalanan kami lanjutkan.


Sesampainya di medan tanah lagi, kami bertemu dengan pemandu kelompok kami. Dia mengatakan khawatir mencari kami. Sudah terlewat lama waktu kami untuk memuncak kata dia. Aku tidak ambil pusing dengan kekhawatiran itu. Bayangku perjalanan masih dalam waktu yang normal.



Sesampainya di bawah, aku terkejut. Aku, Ayu, dan Ncus sampai dibawah jam 3 sore. Berarti kami melakukan perjalanan memuncak selama 15 jam. Sangat amat diluar batas normal yang seharusnya 6-8 jam. Disaat itu aku berpikir pantas pemandu kelompok kebingungan mencari kami. Yang dia katakan benar adanya.


Itulah cerita perjalanan pendakian memuncaku yang akan selalu terpaku dalam ingatanku. Aku pulang menjadi pribadi yang berbeda. Aku banyak belajar dari Rinjani. Aku yakin Ayu dan Ncus pasti banyak belajar juga. Aku menjadi tertarik melanjutkan perjalanan selanjutnya ke gunung lainnya. Tetap ikuti cerita menarik memuncakku selanjutnya.


Salam Gunung itu Guru.

0 tampilan