Pendakian Puncak Rinjani Membuatku Berkenalan Dengan Dualitas Diriku-Bagian 1

Perjalanan pertamaku mendekatkan diri dengan alam adalah melakukan pendakian ke Gunung Rinjani. Modal terkuatku sewaktu itu hanyalah rasa penasaran yang besar dengan rasa/sensasi mendaki. Rasa penasaran tersebut kudapatkan setelah menonton film karya anak bangsa, yaitu 5 cm. Tidak ada latihan fisik sedikitpun dalam persiapanku. Memang itu sebuah kesalahan besar. Tapi dibalik itu ada pembelajaran manis yang kuingat sampai sekarang dan menjadi modalku melakukan pendakian selanjutnya.



Kali ini aku akan ceritakan pembelajaran manis yang kurasakan selama perjalanan pendakian Gunung Rinjani dan berdampak terbesar dalam hidupku. Pembelajaran kudapatkan tepat pada saat melakukan perjalanan ke puncak Rinjani yang dimulai dari Pelawangan Sembalun. Pada saat itu perjalananku tergabung/mengikuti open trip. Jadi, kami berjalanan dalam rombongan. Aku pribadi, ditemani 2 teman kantorku yang bernama Ayu dan Ncus (aslinya adalah Fransiskus). Perjalanan dimulai jam 12 malam.


Track di awal menyambung langsung menukik tajam ke atas dengan medan tersusun dari pasir. Banyak pendaki menyebutnya dengan medan yang bikin maju 1 langkah mundur 2 langkah. Ya benar sekali, hal itulah yang aku alami. Ditambah fisiku yang tidak siap dan tenaga sudah dikuras di perjalanan sebelumnya terutama ketika melewati 7 bukit penyiksaan yang semakin membuat pendakian kala itu berat sekali. Alhasil tubuh sudah tidak mampu dipaksakan, aku mengambil istirahat sebentar untuk duduk dan makan snack kecil yang manis. Pada saat kejadian ini aku mulai terpisah dengan rombongan. Aku sempat mengatakan kepada Ayu dan Ncus untuk melanjutkan perjalanan dulu, nanti aku akan menyusul. Tidak lama setelah itu langkah segera aku lanjutkan menyusuri pasir secara perlahan. Tidak ada istirahat lagi yang kuambil tetapi tetap minum sambil mendaki. Perlahan tapi pasti akhirnya aku sampai di lahan yang sudah datar. Terima kasih kepada gelapnya malam itu yang membantu menguatkan mentalku dengan tidak melihat ujung jalan menukik tadi.


Sesampainya di lahan yang datar tadi aku sempatkan beristirahat, minum dan makan snack manis kembali. Sambil istirahat, mataku menjelajah kesekitar mencoba melihat medan yang bersembunyi di balik gelapnya malam sembari mencari Ayu dan Ncus. Sejauh mata memandang hanya ada track yang nampak lurus tanpa naikan yang berarti.



Aku segera melanjutkan perjalanan kembali. Disini mentalku mulai ditempa. Muncul dualitas dalam diriku. Kenapa bisa muncul? Jelas yang pertama aku berjalan sendiri. Depan belakang tidak ada pendaki lainnya. Kedua, diatas angin kencang dan dingin menerpa kencang sekali. Sudah tidak ada bebatuan besar sebagai penghalang. Satu-satunya cara supaya tetap hangat adalah berjalan. Istirahatpun tidak bisa berlama-lama karena semakin lama diam, maka dingin terasa semakin menjadi-jadi. Satu diriku berkata untuk tetap melanjutkan perjalanan karena di depan adalah mimpimu. Satunya berkata sudah turun saja, toh jalan kembalinya masih dekat. Sambil perlahan berjalan kuputuskan tetap melanjutkan perjalanan.


Ditengah perjalanan sering kali aku merasa "apakah ini jalan yang benar? apakah aku tersesat?" Depan belakang tidak ada orang sama sekali. Aku berjalan sendiri. Tidak ada arah. Aku hanya berusaha mempertahankan fokusku untuk berjalan lurus. Musik alam kala itu yang menjadi teman perjalananku. Suara hembusan angin kencang, serta suara pasir yang tertiup angin terdengar terus di telingaku. Selain itu, aku juga sering berhenti beristirahat meskipun tidak bisa lama berdiam diri. Entah berapa kali aku berhentinya. Mungkin terlalu banyak.


Kaki terus melangkah dan akhirnya sampai disebuah lahan yang terdapat susunan bebatuannya. Disitu aku lega sekali karena aku melihat banyak sesama pendaki yang menghangatkan diri dicelah bebatuan. "Ok im on the right track" batinku. Tidak lupa aku sempatkan berhenti sejenak juga karena menemukan titik bisa merasakan hangat. Tantangan kalau menemukan tempat hangat begini adalah terus terjaga. Tidak boleh terlena untuk tidur. Sekalinya kita tertidur, hipotermia akan menghampiri.


Waktu sudah tidak kuperhatikan. Tiba-tiba ditengah perjalanan matahari mulai terbit. Kala itu benar-benar pertama kalinya dalam sumur hidup, aku bersyukur kulit ini merasakan sinar matahari. Hangat dari matahari sudah seperti rejeki yang dinanti-nanti. Nikmat sekali. Bahkan sampai aku menulis artikel ini, aku menjadi teringat kembali sensasi kala itu. Karena suasana yang mulai hangat, semangat juga mulai terbakar. Langkah menjadi lebih tertata.



Bersambung ke Bagian 2

0 tampilan