Sensasi Tek-Tok di Gunung Gede-Bagian 1

Menginginkan pengalaman mendaki yang berbeda. Itulah yang menjadi materi pembahasan kami. Pengalaman berbeda tidak melulu mengenai beda gunung. Perbedaan konsep bisa diperhitungkan. Mendaki tanpa membawa beban berat. Pasti enak bisa berjalan dengan cepat, bahu tidak capek menahan beban berat, dan masih banyak imajinasi positif lainnya yang terlintas dalam diskusi kami. Sering terdengar istilah diantara para pendaki yaitu tek-tok. Tek-tok adalah cara mendaki yang hanya ditempuh dalam 1 hari untuk naik sampai puncak lalu turun kembali ke basecamp di bawah. Beban utama yang dibawa hanya makanan dan minuman.


Kami putuskan mengusung konsep ini untuk mewujudkan keinginan kami. Untuk gunung yang didaki, kami tentukan Gunung Gede. Pemilihan ini didasarkan pada reputasi Gunung Gede yang terkenal dengan gunung yang santai dan tidak terlalu tinggi. Fakta-fakta ini menguatkan keputusan kami memilih Gunung Gede. Pendakian dipilih melalui jalur Cibodas. Yang berangkat aku, Ncus, dan Triasni.


Kami bertiga sampai di parkiran dini hari. Sambil menunggu pagi datang, kami beristirahat di dalam mobil. Perjalanan kami mulai dari pos pendaftaran jam 9 pagi. Kami mendaki berempat dengan masing-masing membawa tas kecil. Medan awal sangat santai. Lurus dengan susunan bebatuan yang landai, tidak membuat kaki sakit. Perjalanan diteruskan dan tak lama menjumpai jembatan kayu yang sangat panjang dan lebar.

Jembatan ini seperti menyambut para pengunjung. Sekaligus jembatan ini berkata, “Bersiaplah untuk memulai pendakian sebenarnya setelah ini!”. Tidak lama setelah selesai melewati jembatan ini, anak tangga siap menyambut. Medan pendakian di Gunung Gede itu seperti anak tangga yang sangat panjang dan jalurnya zig-zag perlahan naik. Karena beban yang kami bawa tidak berat, mental kami menanggapi situasi ini santai saja. Langkah demi langkah kami jalani perlahan tapi pasti. Beda seperti biasanya. Biasanya kalau sudah menghadapi anak tangga, kami pasti diam sibuk mengatur napas masing-masing. Tapi kali ini, kami tertawa bersenda gurau. Sedikit-sedikit berhenti mengambil foto. Ada kalanya kami juga membuat video parodi sebagai kenangan.



Waktu aku mendaki, jalur pendakian rame sekali dengan orang yang berolahraga hash. Baik yang muda sampai sudah tua, semuanya ada. Aku salut dengan mereka yang sudah usia tua tetapi tetap memiliki daya juang tinggi tidak mau dikalahkan oleh usia. Karena banyak bertemu orang selama perjalanan naik, kami jadi murah sapa dan senyum. Sudah jadi tradisi para pendaki ketika berpapasan. Baiknya menghaturkan ramah tamah dengan cara sapa dan senyumnya. Kalau tidak capai ya silahkan sapa. Kalau sibuk mengatur napas cukup senyum saja. Vegetasi di sini rapat. Jadi, selama pendakian, udara yang kalian terasa sejuk dan dingin.


Hal baru kutemukan dari pengalaman mendaki gunung di Jawa Barat dan Jawa Timur. Perbedaan mencolok antara gunung yang ada di Jawa Barat dibandingkan dengan gunung yang ada di Jawa Timur adalah sumber airnya. Di Gunung Gede sumber airnya sangat banyak. Kalian akan menjumpai air terjun, dan aliran air seperti sungai kecil selama pendakian. Selain itu, pengalaman menantangnya adalah melewati jalan di balik derasnya air terjun. Tetap berhati-hati ketika berjalan karena pijakan kaki kalian adalah batu licin dengan penyeimbang pegangan tangan adalah tali di kiri dan kanan kalian. Lokasi ini cukup iconic sehingga sering dipakai orang berfoto. Tidak hanya Gunung Gede, dari artikel yang aku baca, gunung lainnya di Jawa Barat juga memiliki sumber air yang melimpah. Hal ini berbeda dengan gunung di Jawa Timur yang rata-rata mata airnya tidak melimpah.


Sampailah kami di pos terakhir sebelum puncak, yaitu Kandang Badak. Benar-benar ramai sekali waktu itu. Sejauh mata memandang hanya ada tenda dan manusia. Tidak ada lahan kosong. Kami sempat bersyukur tidak membuat rencana mendirikan tenda di situ. Lahan seadanya kami tempati di dekat penanda lahan Kandang Badak untuk berisitrahat sejenak makan siang. Menu kami kala itu adalah ransum. Pertama kalinya bagi kami untuk memakan ransum. Meskipun bentuknya yang tidak indah, ternyata rasanya enak sekali menyerupai makanan aslinya. Praktis untuk dibawa karena tidak memakan banyak tempat dan praktis dalam pengolahan, cukup ditambah air panas. Pilihan yang sangat tepat untuk membawa ransum kala itu.


Bersambung ke Bagian 2


17 tampilan