Pendakian Gunung Buthak: Perjalanan Tanpa Ujung

Hatiku terpanggil untuk mencoba yang namanya Gunung Buthak, gunung di tanah Jawa yang terkenal akan panjangnya waktu perjalanan hingga ke pos terakhir sebelum puncak. Banyak orang bilang Gunung Buthak adalah versi mini dari Gunung Argopuro.


Perjalanan dari Surabaya aku mulai pada hari Kamis, 3 Desember 2020. Aku menginap terlebih dahulu di Batu, tepatnya di homestay SendjaPagi milik Juan. Buat kamu yang lagi main ke Batu, aku rekomendasikan homestay ini sebagai salah satu pilihan yang patut kalian pertimbangkan. Meskipun konsep industrial yang diusung, kesan hommy-nya tetap terasa. Lokasinya juga sangat strategis karena sangat dekat dengan Jatim Park 3 sehingga menuju kesana cukup dengan berjalan kaki, kurang lebih 5 menit saja. Yang tidak kalah menari adalah pemandangan dari homestay ini. Kalau langit sedang cerah, kamu akan bisa melihat jajaran perbukitan Gunung Bromo dan Gunung Semeru yang nampak dikejauhan. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa langsung cek instagram SendjaPagi.


Keesokan harinya, aku berangkat dari homestay pagi hari dengan maksud agar tidak terlalu sore sampai di lokasi nenda yang seringnya kalau sudah sore akan turun hujan. Basecamp Gunung Buthak bisa kamu temukan di Google Maps dengan nama Parkir Panderman. Namun, tidak semua kendaraan bisa naik hingga ke lokasi tersebut. Hanya motor non-matic dan mobil yang boleh naik, sedangkan motor matic harus diparkirkan di bawah dengan tarif 15.000 rupiah untuk 2 hari. Tidak sulit untuk menemukan lokasi penitipan ini. Ikuti saja arahan Google Maps dengan titik tujuan tadi. Parkiran ini bisa kamu temukan di sisi kananmu. Motor maticku aku titipkan di sini lalu berlanjut dengan sewa ojek yang bertarif 15.000 rupiah untuk sekali jalan.


Sampailah aku di depan pos pendaftaran sekitar jam setengah 8 pagi. Syarat umum pendakian adalah KTP (bisa fotocopy) dan surat sehat. Aku serahkan kedua dokumen tersebut, membayar biaya pendakian sebesar 10.000 rupiah, lalu mengisi data diri dan selesai. Untuk informasi selengkapnya mengenai aturan pendakian bisa kalian cek melalui akun instagram Gunung Panderman Buthak.


Pendakianku kali ini hanya seorang diri. Gunung Buthak termasuk gunung yang ramai pendaki. Hal inilah yang memberanikan diriku solo hiking meskipun ini baru pertama kalinya aku naik ke Gunung Buthak. Aku berencana mencari teman sewaktu perjalanan pendakian saja. Kala itu aku hanya sendiri yang mendaftar di pos. Namun, kata bapak penjaga sudah ada 2 rombongan yang berangkat duluan tadi pagi. Tidak pakai lama, aku segera berangkat dengan harapan bisa menyusul rombongan tersebut. Jam setengah 8 aku mulai pendakian Gunung Buthak.


Lama perjalanan hingga ke pos 4 atau sabana yang merupakan lokasi nenda dalam kondisi normal adalah 6 jam. Kurang lebih ada 3 bukit yang harus dinaiki. Medan selama perjalanan adalah tanah yang sangat membuat nyaman langkah kaki. Namun, perjalananku ada di musim hujan yang membuat medan tanah ini menjadi tanah liat. Perlu konsentrasi tambahan untuk memilih jalan. Uniknya adalah ditengah jalur pendakian terdapat cekungan bekas kendaraan. Jadi, kalau hujan turun, cekungan tadi akan menjadi jalur air yang menyerupai aliran sungai. Tentu hal ini membuat pendakian makin menantang.


Dengan kondisi siap sedia akan resiko berjalan sendiri, yaitu tidak ada teman yang membantu mental untuk tetap kuat berjalanan, aku terus berusaha menjaga tempoku dalam berjalan dan beristirahat. Berjalan dengan kecepatan konstan dan tidak boleh terlalu lama beristirahat. Setelah kurang lebih 45 menit berjalan dan bergulat dengan kesendirian, akhirnya aku mendengar ada suara musik dari kejauhan. Tiba-tiba seperti ada energi baru yang langsung mengisi ruang lelah di kakiku. Aku berjalan lebih cepat ingin segera menghampiri sumber suara tersebut. Akhirnya aku bertemu dengan rombongan pendaki yang sama-sama akan naik.


Rombongan yang kutemui ini sama-sama dari Surabaya. Awalnya aku berniat bergabung dalam rombongan ini, mengekor dari belakang. Tetapi, sayangnya tempo perjalanan rombongan ini terlalu santai, sedangkan aku berusaha cepat sampai di pos 4 agar sebisa mungkin menghindari basah-basahan kena hujan. Kuputuskan aku pamit mendahului mereka dan kembali berjalan sendiri. Setelah 15 menit berjalan sendiri lagi, tiba juga aku di pos 1.


Hiruk Pikuk Pos 1

Suasana pos 1 lumayan ramai kala itu. Ada dua rombongan yang kemarin bermalam di sini karena kondisi cuaca sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Pos 1 memiliki warung. Namun waktu itu tutup. Mungkin dikarenakan masih terlalu pagi. Selain warung, pos 1 juga memiliki sumber air yang namanya pet bocor/pipa bocor. Ambilah air di sini. Saranku paling tidak bawa 2 liter karena tidak ada lagi sumber air hingga sampai di pos 4, sedangkan perjalanan masih jauh dan menanjak. Aku ambil istirahat kurang lebih 30 menit di pos ini.


Perjalanan ke Pos 2


Jam 9 perjalanan aku mulai kembali. Aku bertemu dengan rombongan baru dari Sampang, Madura yang juga akan naik. Aku putuskan bergabung berjalan dengan rombongan mereka yang ternyata ritme berjalannya termasuk cepat. Sesuai dengan apa yang kubutuhkan. Awal perjalanan dari pos 1 ke pos 2, medannya berupa tanah liat yang cukup parah. Hampir sepanjang jalan seperti itu hingga vegetasinya agak terbuka. Beberapa kali sepatu mau tidak mau menginjak genangan air karena tidak ada jalan tanah yang kering. Jalan terus naik secara perlahan tapi pasti. Setelah 1 jam berjalan dengan ritme yang cepat, aku sampai di pos 2.


Istirahat di Pos 2

Pos 2 memiliki pemandangan yang terbuka dan sinyal 4G. Rombongan Madura yang kuikuti memutuskan untuk berhenti istirahat makan siang terlebih dahulu karena sejak pagi mereka belum makan. Terima kasih buat rombongan ini karena atas kebaikan mereka, aku mendapatkan jatah makan buah naga dan melon yang menjadi bekal mereka. Aku menunggu mereka sambil memperhatikan sekitar.


Sangat mengenaskan. Gunung Buthak sudah seperti tempat sampah. Kalau aku bilang, kotornya parah! Pos 1 dan pos 2 sama-sama memiliki sampah yang banyak dan berserakan. Semoga mereka yang kesini bisa lebih bertanggung jawab. Bisa memegang amanah menjaga kebersihan meskipun pemeriksaan di pos pendaftaran tidak ketat. Setelah 1 jam menunggu, saatnya kami kembali berjalan menuju pos 3. Waktu sudah menunjukan jam 11 siang.


Perjalanan ke Pos 3


Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 termasuk kategori panjang tapi banyak datarnya dan melewati vegetasi yang rapat, seperti melewati rapatnya hutan. Lagi-lagi tanah liat menjadi tantangan dalam perjalanan. Setelah 1 setengah jam berjalan dengan hemat istirahat, sampai juga aku di pos 3. Aku bertemu dengan rombongan lain lagi yang kemarin bermalam di pos 2. Sama seperti pos-pos sebelumnya, di sini sampah juga banyak. Manfaatkan istirahat sebaik mungkin di sini karena setelah ini perjalanan akan full menanjak hingga sampai di pos 4 atau sabana. Aku dan rombongan Madura memutuskan berhenti sejenak, 30 menit saja agar mesin di badan tidak terlalu dingin.


Suasana di Pos 3

Perjalanan ke Pos 4


Jam 1 siang aku menyambut tantangan menanjak. Rombongan Madura mulai terpecah menjadi 3 bagian. Aku berjalan bersama salah satu dari mereka yang berada di tengah. Performa tubuh mulai dihajar. Berhenti untuk mengambil nafas semakin sering aku lakukan. Kira-kira baru seperempat perjalanan naik, hujan deras mulai menambah beban perjalanan. Aku segera memakai jas hujan ponco dan tetap melanjutkan perjalanan karena percuma menunggu hujan yang sepertinya tidak akan berhenti.


Napas makin berat.

Dingin makin menjadi.


Setengah perjalanan naik aku selesaikan dan mulai memasuki hutan pinus. Pada lokasi ini kalau mau nenda juga bisa. Banyak lahan luasnya. Dalam kondisi masih hujan deras, aku dan salah satu anggota rombongan Madura terus berjalan. Kalau aku bilang, mulai sini sudah seperti 7 bukit penyiksaan di Gunung Rinjani. Ujung naik sepertinya sudah ada di depan mata. Namun, itu hanya ilusi. Justru masih ada tanjakan selanjutnya.


Tengah perjalanan naik, tanda-tanda energi di badanku habis mulai muncul. Sedikit berjalan sudah tidak kuat. Harus berhenti untuk istirahat lagi. Akhirnya, aku putuskan berhenti sejenak mengisi energi kembali dengan madu dan fitbar saja. Berhenti tidak boleh berlama-lama juga karena udara makin dingin. Kami berdua paksakan berjalan dengan metode dari pohon ke pohon agar perjalanan terasa lebih ringan. Setelah sampai di ujung tanjakan naik, ternyata masih belum ketemu sabana. Kami masih harus berjalan memutari bukit. Sabana berada di balik bukit ini. Akhirnya setelah bersusah payah dan bertarung dengan mental selama 3 jam, sampai juga aku di sabana dengan kondisi hujan berhenti. YES! Akhirnya sampai! Sudah lama aku tidak merasakan dan mengatakan sensasi ini.


Namanya sabana, pastilah luas. Untuk penggambarannya, sabana di sini seperti Kalimati di Gunung Semeru. Sama persis! Tidak pakai lama aku segera mencari lokasi mendirikan tenda. Aku pilih tempat yang dekat dengan sumber mata air dan dekat dengan jalur naik ke puncak.


Benar sudah keputusanku. Tidak lama setelah aku selesai mendirikan tenda, hujan mulai turun lagi. Kondisiku sudah aman. Kasihan mereka yang berada di belakangku. Mereka harus membangun tenda di bawah guyuran air hujan. Itu berat sob! Harus menahan dingin dan harus cepat membangun tendanya. Emosi mudah tersulut kalau sudah dalam kondisi begini. Aku mendengar beberapa kali maki-makian yang dilontarkan oleh mereka yang baru datang dan membangun tenda.


Sabana Dilihat Dari Puncak

Setelah melepas semua pakaian basah dan membersihkan diri, aku segera mempersiapkan makan malam. Menu makan malam yang kubawa mashed potato sebagai sumber karbohidrat dan babi sei sebagai lauknya. Tanpa perlu persiapan yang lama, aku sudah bisa menikmati makan malam hingga kenyang dan langsung lanjut dengan tidur. Badan terasa sangat capai. Kondisi di luar juga masih hujan, tidak ada malam yang bisa dinikmati.


Hari Baru Telah Tiba


Pagi telah datang. Suasana ramai di luar tenda membangunkanku. Pagi ini cerah, tapi hanya untuk di sekitar lokasi nenda saja. Puncak tertutup kabut yang tebal sekaligus menutup niatanku untuk muncak. Aku memulai pagi ini dengan sarapan sambil berharap kabut ini segera hilang. Aku tidak memaksakan diri untuk muncak, tapi sayang juga kalau tidak muncak karena perjuangan sampai di sini berat. Ada dilema yang muncul. Aku sudah selesai sarapan dan ngopi, kabut masih tebal juga.


Akhirnya aku putuskan untuk eksplorasi sabana saja. Waw, ternyata bisa melihat Gunung Semeru dari salah satu sudut sabana. Aku kembali ke tenda ingin memberitahukan ke rombongan Madura kalau masih ada hiburan keindahan alam yang bisa dinikmati selain puncak. Ketika aku kembali, kabut mulai menyingkir dari puncak. Syukurlah! Aku dan rombongan Madura segera bersiap dan berangkat muncak.


Bukit letak puncak berada sudah ada di depan mata. Perjalanan cukup menaiki bukit itu secara langsung. Naik menukik. Awal perjalanan, naikan berbentuk anak tangga masih terasa nyaman. Begitu mulai mendekati puncak, medan makin menantang. Kadang aku harus merayap berpegangan pada akar pohon di tanah. Pijakan juga ada saatnya hanya dari batu yang kondisinya licin. Setengah jam saja berjalan, sampai juga di puncak!


Pemandangan di puncak luar biasa bagus! Bayaran atas rasa capai mencapi puncak ini setimpal! Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Semeru, Perbukitan Bromo, dan Gunung Kelud terlihat semua. Kami semua langsung berfoto-foto dengan papan bertuliskan 2.868 mdpl. Tatapanku tidak bisa lepas dari Gunung Semeru yang masih sedikit tertutupi oleh awan. Selesai berfoto-foto, aku hanya duduk terdiam melihat Gunung Semeru, menanti dirinya terlihat jelas. Tapi sayang semua itu tak ada hasilnya. Awan makin menutup semua pemandangan. Akhirnya aku putuskan mengajak rombongan Madura untuk turun saja. Hati-hati kalau turun karena medannya mantab. Oh ya di puncak sinyal 4G bisa kembali muncul.


Semeru Terlihat Dari Puncak Gunung Buthak

Sesampainya di tenda, aku makan siang. Begitu juga dengan rombongan Madura. Aku akan turun bersama dengan mereka lagi. Selesai makan aku langsung berberes. Tiba-tiba hujan turun kira-kira di jam 12 siang. Mau tidak mau semua barang aku bawa masuk tenda lagi. Untung saja tenda belum aku bereskan. Aku terjebak di dalam tenda kurang lebih 2 jam hingga tertidur lagi.


Turun Gunung


Hujan juga tidak menunjukan tanda-tanda untuk berhenti. Kadang kabut tebal juga datang menyelimuti sabana. Jarak pandang sangat pendek. Kondisi seperti ini percuma juga ditunggu. Akhirnya kami paksakan beberes begitu hujan agak reda. Jam 2 kami memulai perjalanan turun dengan jas hujan ponco terpakai.


Selama perjalanan turun, hujan terus mengikuti. Dari sabana ke pos 3, hujan tidak terlalu deras, bahkan sempat berhenti ketika aku sampai di pos 3. Tapi itu hanya sementara. Hujan turun kembali dan makin lebat. Makin malam makin menggila. Aku dan rombongan Madura terus berjalan turun. Sampai di pos 2 kami tidak berhenti. Kaki terus berjalan hingga sampai di pos 1.


Perjalanan dari pos 2 ke pos 1 sungguh luar biasa gila! Cekungan di tengah menjadi seperti sungai. Aku berjalan ke arah kanan dan kiri jalur. Terkadang harus jalan mengkangkang juga dan terkadang mau tidak mau sepatu harus menyelam karena sudah tidak ada pilihan lain. Baru kali ini kurasakan melewati jalur yang kondisinya parah ketika di musim hujan. What an experience! Ketika di pos 1 kami istirahat setengah jam karena ada perapian dan warung sedang buka. Menghangatkan badan dekat api, minum teh hangat, dan makan gorengan.


Hujan masih tidak ada tanda-tanda mereda. Jam setengah 6 sore perjalanan segera kami lanjutkan. Kali ini aku dapat jackpot. Aku terjatuh pantat menyentuh tanah 4 kali. Jalannya benar-benar licin. Perjalanan kami menembus gelapnya malam. Akhirnya sampai juga aku di pos pendaftaran lagi jam 7 malam. Kondisi hujan makin menggila karena angin mulai menemani. Dalam hatiku berkata "Wah, yang diatas kasihan nih. Bisa-bisa kena hujan badai." Setelah check-out dari pos pendaftaran, aku segera mengabari orang rumah terlebih dahulu, setelah itu berlanjut kembali pulang.


Inilah cerita pendakianku ke Gunung Buthak di musim hujan. Aku akui panjang perjalanan gunung ini luar biasa menantang. Naikan dari pos 3 ke pos 4 juara! Aku ingin mencoba kembali ke gunung ini, tapi di musim kemarau saja. Semoga cerita dan informasi yang kubagikan ini bermanfaat bagi kamu. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Salam Gunung itu Guru!


Rangkuman perjalanan

Berangkat jam setengah 8 pagi

Perjalanan ke Pos 1: 1 jam (istirahat 30 menit)

Perjalanan ke Pos 2: 1 jam (istirahat 1 jam)

Perjalanan ke Pos 3: 1 setengah jam

Perjalanan ke Pos 4: 3 jam

Total perjalanan naik 7 jam 30 menit


Turun jam 2 siang

Sampai di pos pendaftaran 7 malam

Total perjalanan turun 5 jam


Sumber air ada di Pos 1 dan Pos 4/Sabana (air mengalir)