Pendakian Gunung Bekel: Pendek Tapi Pedas

Pendakian pertamaku menuju Gunung Bekel yang berujung tersasar tidak menghentikan keinginanku untuk mencobanya kembali. Tetapi, kali ini persiapanku jauh lebih matang dan tentunya aku mengajak satu orang teman pendakian baru. Namanya Sigit, adik kelasku sewaktu kuliah.


Kami berdua merencanakan waktu perjalanan menjadi 2 hari 1 malam, tidak tektok. Berangkat hari Jumat pagi, dan pulang hari Sabtu siang dengan maksud menghindari keramaian arus pendakian di akhir minggu. Lokasi menginap dalam tenda kami targetkan di Candi Pura, tepat di titik persimpangan jalur ke Gunung Bekel dan Gunung Penanggungan.


Tiba juga hari yang ditunggu-tunggu. Aku dan Sigit masing-masing memakai kendaraan roda dua dan janjian bertemu di Indomaret jam 7 pagi untuk membeli roti dan perbekalan yang masih kurang. Logistik sudah lengkap, kami segera berangkat. Belajar dari pengalaman kemarin yang berputar terlalu jauh, maka kali ini aku mengarahkan perjalanan ke Petirtaan Jolotundo melalui Ngoro. Sebenarnya kami ada rencana untuk membawa bekal makan siang berupa pizza Domino yang akan kami beli sewaktu melewati Kota Sidoarjo. Namun, ketika sudah sampai di lokasi, toko masih tutup. Kedatangan kami terlalu pagi. Akhirnya aku putuskan lanjut berkendara saja langsung menuju Petirtaan Jolotundo. Bekal makan siang akan kami beli di warung yang ada di sekitar parkiran.


Peta Pendakian Gunung Bekel dan Penanggungan

Kurang lebih satu setengah jam perjalanan yang lancar, sampailah kami di parkiran Petirtaan Jolotundo. Tarif parkir kendaraan roda dua untuk tiap hari sebesar 5.000 rupiah. Jadi, kami masing-masing membayar 10.000 rupiah untuk menginap 2 hari. Suasana pagi di sini sungguh menenangkan. Suara burung yang berbunyi diantara pepohonan hutan bisa terdengar jelas karena masih belum banyak orang yang datang. Sinar matahari juga tidak terik karena terhalang oleh rindangnya pepohonan. Terakhir, kenikmatan ini dibungkus dalam kesegaran udara khas pegunungan.


Kami mampir ke warung yang ada didekat parkiran kendaraan roda dua. Kami pesan 2 porsi nasi campur (isi tahu, tempe, dadar jagung, dan sayur terong) dengan lauk ikan mujair dan 2 porsi nasi putih saja. Jarang-jarang di gunung bisa dapat lauk ikan mujair! Semuanya dibungkus untuk bekal pendakian. Nasi campur untuk makan siang jam 12 nanti, sedangkan nasi putih untuk makan malam. Lauk makan malam sudah kami bawa dari rumah, yaitu irisan daging sapi dan daging babi kaleng yang sudah dibumbui. Makan malam memang pantas kalau mewah karena sebagai hadiah atas lelahnya berjalan seharian. Energi sebelum berangkat, kami dapatkan dengan memakan roti yang sudah dibeli sebelumnya di Indomaret.


Sejak berangkat perutku mengeluarkan tanda-tanda bergejolak. Bukan lapar, melainkan butuh dikuras. Oleh karena itu, daripada harus repot-repot menguras ditengah perjalanan, alangkah baiknya aku kuras dulu dibawah. Aku putuskan memakai WC yang ada di warung terlebih dahulu dengan biaya untuk mandi dan BAB sebesar 2.000 rupiah saja. Setiap perjalanan harus dimulai dengan perut plong alias lega!


Peta Pendakian Gunung Penanggungan Untuk Dibawa

Perut sudah lega, dan badan tidak berat lagi tepat dengan makanan pesanan kami selesai dibungkus. Tiap orang hanya membayar 20.000 rupiah saja untuk 1 porsi nasi campur dan 1 porsi nasi putih. Murah sekali. Mantab! Kami lalu segera beranjak menuju pos pendaftaran. Jalan ada dikiri gerbang masuk ke Petirtaan Jolotundo. Aku bertemu lagi dengan mas penjaga pos yang minggu lalu. Aku kira dia sudah tidak mengingatku, apalagi setengah mukaku tertutup masker. Eh.. ternyata dia masih ingat saja. Melekat diingatannya karena aku satu-satunya pengunjung yang tersasar dan jalan dengan membawa dua peta, peta pendakian Gunung Penanggungan dan Gunung Bekel.


Sama seperti minggu lalu, aku menyerahkan data diriku dan membayar 20.000 rupiah untuk dua orang sebagai syarat administrasi pendakian. Jalur pendakian Gunung Bekel sudah tidak kutanyakan lagi. Aku masih ingat betul persimpangan yang menyesatkanku. Justru aku bertanya mengenai pendakian ke Gunung Penanggungan. Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk jalan dari Candi Pura sampai ke camping ground Penanggungan. Ternyata masih butuh 3 jam lagi. Jadi, total dari Jolotundo ke camping ground Penanggungan (di sekitar Candi Wisnu, Guruh dan Siwa) adalah 6 jam dengan jalan naik. Aku langsung berpikir panjang. Mas penjaga pos menyarankan jangan ke Gunung Penanggungan dulu karena jalur setelah Goa Gerduwatu ke puncak belum bersih. Masih banyak pasir licin dengan kiri kanan jurang. Bahaya katanya.

Peta Pendakian Gunung Bekel Untuk Dibawa

Akhirnya kami putuskan ke Gunung Bekel saja sesuai dengan keputusan sebelum berangkat bahwa prioritas adalah Gunung Bekel. Selain itu, banyak orang bilang termasuk mas penjaga pos bahwa puncak Bekel lebih memberikan pengalaman manis dibandingkan puncak Gunung Penanggungan. Sebagai gantinya kami targetkan bermain ke Candi Kendalisodo saja karena kalau perhitungannya tepat, kami akan sampai di Candi Pura, tempat kami mendirikan tenda sekitar jam 12 ke atas dan itu siang bolong. Kalau di dalam tenda yang ada justru terpanggang. Lebih baik jalan-jalan saja. Candi Kendalisodo adalah candi yang bagus karena berbentuk teras bertingkat dan terletak di lereng gunung.


Persiapan terakhir, semua botol minum yang ada di tas, kami isi dengan air gunung segar yang ada didekat pos pendaftaran. Tiap orang wajib membawa air minimal 3 liter. Saat itu kami total membawa 6,8 liter. Setelah air terisi, saatnya pembagian beban. Aku yang bertugas membawa beban berat dari tenda, sedangkan Sigit yang membawa beban berat dari makanan dan nesting. Setelah semuanya beres, saatnya kami berdoa sebelum memulai pendakian memohon keselamatan. "Jangan nyasar lagi mas," celetuk mas penjaga pos setelah kami selesai berdoa. "Siap mas, tidak bakal nyasar. Aku ingat dengan jelas persimpangan kemarin!" jawabku dengan tegas.


Perjalanan Dimulai, Menuju Pos 1-Warung Gubug


Pukul 09.15 kami berangkat dari pos pendaftaran. Target berjalan menuju pos pertama yaitu selama 1 jam. Menapaki anak tangga yang ada diawal, membawaku kembali kepada kenangan minggu lalu. Tetapi, kali ini aku menapak dengan kondisi yang berbeda. Aku jauh lebih yakin dan percaya diri. Sampailah kami di persimpangan yang pernah menyesatkanku. Aku ambil ke kiri kali ini, tanpa berhenti dan tanpa berpikir dua kali. Ini baru namanya pendakian! Naik gunung, bukan turun gunung hahaha.... Salah satu tanda bahwa berada di jalur yang benar adalah ketemu pohon tua besar dengan akarnya yang magis. Pohon ini tidak mungkin terlewat dilihat.


Akar Magis Pohon Tua dan Besar

Kondisi jalan awal pendakian masih enak meskipun tidak ada bonus datarnya. Jalan melewati hutan dengan suasana dingin karena udara segar yang dihembuskan pepohonan sekitar ditambah cahaya matahari yang susah menembus karena terhalang rimbunnya daun pepohon hutan. Meskipun jalan terus naik, rasa dahaga tetap terkontrol. Beberapa kali kami berdua mengambil istirahat tanpa perlu meminum air. Dinginnya suasana membuat istirahat terasa nikmat.


Sampailah kami disebuah jalan tanjakan dan berpapasan dengan dua anak remaja yang berjalan bersama pamannya. Melalui papasan inilah tercipta obrolan antara kami dengan paman tersebut. Dimulai dengan basa-basi dan diakhiri dengan pertanyaan. Aku jadi mengetahui bahwa kalau mau berkemah tidak harus di Candi Pura, melainkan bisa dilanjut sampai ke puncak. Informasi ini sangat menggoda kami berdua yang belum tau rasanya berkemah di puncak. Keinginan mewujudkannya mulai muncul karena tergoda dengan rasa jalan santai menuju puncak di pagi hari.


Rute Awal Melewati Hutan

Perjalanan kami lanjutkan. Kurang lebih 50 menit berjalan, tibalah kami di ujung hutan yang menandakan setelah ini sudah tidak ada atap lagi. Kulit akan langsung bercumbu dengan teriknya sinar matahari. Benar sudah! Panasnya menggila. Panas ditambah tanjakan benar-benar menjadi suatu tantangan. Kali ini kami tidak bisa sembarangan berhenti untuk istirahat. Kami harus menemukan tempat yang rindang terlebih dahulu. Seadanya bayangan tanaman akan kami incar.


Frekuensi istirahat mulai bertambah. Air minum mengucur deras, berpindah dari botol minum menuju ke dalam perut kami masing-masing. Perjalanan mulai menunjukan hiburannya kepada kami. Aku dan Sigit bisa melihat Gunung Bekel, Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang yang ada di kejauhan. 10 menit berjalan akhirnya sampai juga di pos 1, yaitu gubug warung. Gubug warung yang memiliki banyak stiker dan bendera partai banteng hitam. Dimana benderanya? Kalau kamu kesana coba tengok ke atas pohon yang ada didepan gubug warung. Target perjalanan kami terpenuhi yaitu 1 jam berjalan menuju pos 1.


Pos 1 Warung Gubug

Menuju Pos 2-Candi Bayi


Setelah 10 menit istirahat, kami mulai berjalan lagi menuju pos 2, yaitu Candi Bayi. Tidak jauh dari warung gubug, terdapat papan petunjuk berwarna hijau. Candi Bayi mengarah ke kiri. Arahan ini sesuai dengan peta yang kami bawa dari bawah. Perjalanan masih terus menanjak tanpa henti. Kaki terkadang harus melangkah besar, dan terkadang melangkah kecil. Jalan yang tersusun dari pasir halus dan kering membuat setiap kali kaki menapak selalu menimbulkan kebulan debu. Sepatu sangat cepat menjadi kotor dan Sigit yang berjalan di belakangku terkena debu dari hentakan kakiku. Kasihan dia. Jarak kami berdua tidak bisa terlalu dekat, harus ada pengaturan jarak. Ketika ada tanjakan seperti anak tangga, aku naik dulu sampai lumayan jauh, baru kemudian Sigit menyusul.


Teman Pendakian, Sigit

Matahari terus mencumbu kulit kami terutama kulit lengan dan tengkuk leher. Untungnya aku masih memakai topi. Kalau tidak, mukaku pasti ikut bercumbu hingga gosong menghitam. Kami bertemu dengan pohon tumbang. Tidak perlu dilompati. Cukup ambil jalur ke arah kiri, sesuai dengan arahan mas penjaga pos.


Setelah 30 menit berjalan akhirnya sampai juga di Candi Bayi. Sedikit turun dari Candi Bayi ada lahan camping yang luas dan terlindung dari angin. Namun, tidak ada bayangan pohon yang menutupi. Langsung bersentuhan dengan panas matahari. Candi Bayi memiliki ukuran yang kecil dengan bentuk yang bagiku pribadi seperti altar untuk persembahan. Sejarah candi ini masih misteri karena tidak ada literatur yang menceritakan tentang keberadaan candi ini. Lokasinya juga sempit untuk istirahat sehingga kami tidak berlama-lama disini. Perjalanan segera berlanjut.


Pos 2 Candi Bayi

Menuju Pos 3-Candi Putri


Sedikit berjalan naik, jalan akan terbelah oleh bebatuan yang namanya Watu Talang. Dalam Bahasa Jawa, watu berarti batu dan talang berarti saluran. Bebatuan yang harus dilewati ini memang benar terbentang panjang seperti saluran. Memanjang dari atas ke bawah seperti saluran air.


Kami berjalan dengan tempo yang santai dan intensitas istirahat yang cukup sering. Panas benar-benar membuat kewalahan. Kebahagiaan menemukan bayangan tanaman sudah seperti kebahagiaan menemukan sumber air. Waktu mulai mendekati pukul 12 siang. Sigit mulai merasa butuh isi ulang energi. Dia mengusulkan untuk segera berhenti mengambil istirahat makan siang. Aku iyakan dengan syarat kalau sudah tiba di pos selanjutnya. Kami akan istirahat makan siang di Candi Putri.


Sama seperti sebelumnya, 30 menit berjalan sampai sudah di Candi Putri. 30 menit yang terasa panjang, melelahkan dan panas luar biasa. Candi Putri terletak di kiri dan lahan camping terletak di kanan. Candi Putri memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan Candi Bayi dan berbentuk teras bertingkat dengan total 3 tingkat. Kondisinya juga relatif masih bagus. Lahan camping lebih nyaman dibandingkan lahan camping sebelumnya. Pepohononan relatif menutupi dan menyejukan.


Pos 3 Candi Putri

Nasi campur yang menjadi bekal segera kami buka dan santap dengan lahap. Kalau sudah digunung, makanan sederhana bisa menjadi makanan dengan rasa enak yang luar biasa. Sigit bisa menghabiskan 1 porsi, sedangkan aku tidak sanggup. Kalau lagi di gunung, selera dan porsi makanku selalu menurun. Aku menyisakan setengah porsi nasi putih yang bisa kumakan lagi nanti malam. Kami tidak terburu-buru sama sekali. Benar-benar santai. Selesai makan, kami masih duduk bersantai sambil menikmati pemandangan Gunung Welirang dan bermain smartphone. Sinyal bisa didapatkan dengan sangat baik. Aku masih berkesempatan menyelesaikan daily target dari permainanku.


Menuju Pos 3-Candi Pura


Kami bersantai terlalu lama hingga lupa waktu. Setengah jam lebih terlewatkan sudah. Dengan energi yang sudah terisi kembali, berarti saatnya perjalanan berlanjut menuju pos 3, yaitu Candi Pura. Jalan masih sama, tidak ada kata datar. Naik, naik, dan terus naik. Ketika sudah agak tinggi dan aku melihat kebawah, ada pohon yang terpasangi oleh bendera Merah Putih. Pohon itu menandakan letak Candi Putri. Kami terus berjalan tanpa ekspetasi berlebihan karena kami kira perjalanan masih panjang. Tiba-tiba sampai sudah kami di Candi Pura dalam kurun waktu 10 menit. Candi Putri dan Candi Pura sangat dekat! Sangking dekatnya, dari Candi Pura aku masih bisa melihat bendera Merah Putih yang tadi.


Candi Pura merupakan bangunan teras bertingkat. Total ada 3 tingkat sama seperti Candi Putri. Candi Pura dibangun pada akhir Kerajaan Majapahit. Lahan Candi Pura cukup sempit sehingga titik mendirikan tenda hanya ada 2. Satu di kiri jalan dan satu lagi di kanan candi. Kalau mau lebih luas bisa camping dibawah sebelum lokasi candi.


Pos 3 Candi Pura

Sering orang yang menargetkan ke Puncak Bekel akan camping di sini karena Candi Naga I yang merupakan pos selanjutnya dan pos terakhir sebelum puncak tidak memiliki lahan camping. Awalnya kami juga berencana camping di sini. Tenda kami dirikan, lalu kami tinggal untuk lanjut berjalan menuju Candi Kendalisodo yang jalurnya harus melewati Puncak Bekel terlebih dahulu. Namun, setelah lama berpikir, kami putuskan membatalkan rencana camping di Candi Pura karena kami sudah terlanjur tergoda untuk camping didekat puncak. Mencoba tempat camping orang yang diawal berpapasan dengan kami.


Lokasi Candi Pura merupakan jalan persimpangan. Kalau ke kiri akan menuju Gunung Bekel, sedangkan kalau lurus akan menuju Gunung Penanggungan yang masih harus ditempuh 3 jam lagi dengan jalan terus naik. Perjalanan kami lanjutkan belok ke arah kiri, menuju Puncak Bekel.


Cerita Dibalik Gunung Bekel dan Gunung Penanggungan


Cerita dimulai dengan kondisi Pulau Jawa yang masih sering terombang-ambing oleh gerakan ombak laut. Akhirnya para Dewa memperkuat Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung suci Meru yang ada di India. Selama perjalanan, bagian Gunung Meru banyak tercecer dimana-mana. Kalau dikaitkan kondisi sekarang, cerita ini menjawab mengapa mulai dari Sumatra hingga Jawa memiliki banyak gunung. Badan Gunung Meru menjadi Gunung Semeru, sedangkan puncaknya diletakan terpisah yang menjadi Gunung Penanggungan. Oleh karena itu, Gunung Penanggungan memiliki sebutan lain Gunung Pawitra yang berarti gunung suci.


Bentuk Gunung Penanggungan termasuk unik karena memiliki 8 anak gunung yang mengelilingi. Gunung Bekel adalah salah satu dari anak gunung tersebut. Bentuk seperti ini akhirnya dijadikan penggambaran Gunung Meru yang asli dari India dan terus dipakai dalam budaya Hindu, contohnya Majapahit menggunakan bentuk ini dalam arsitek pendirian Candi Tikus yang ceritanya bisa kamu baca di sini.


Gunung Penanggungan menjadi gunung suci bagi Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, tatanan bangunan suci di Kerajaan Majapahit selalu mengarahkan pintu masuknya menuju Gunung Penanggungan. Tidak boleh ada yang membelakangi gunung. Konsep tidak membelakangi gunung juga bisa kamu temukan pada pura-pura di Bali yang selalu masuk menghadap Gunung Agung.


Selain itu, Gunung Penanggungan juga dipakai oleh Kerajaan Majapahit sebagai titik sumbu kosmologi yang berpengaruh pada penempatan ibu kotanya, yaitu Trowulan. Trowulan dibangun tepat pada satu garis lurus imajiner yang menghubungkan dua sumbu kosmologi, yaitu unsur tanah dan air. Tanah adalah Gunung Penanggungan dan air adalah Sungai Brantas. Tata kota yang memperhatikan garis lurus imajiner dan sumbu kosmologi ini terus berlanjut hingga ke era Kerajaan Mataram baru yang menjadi cikal bakal Yogyakarta. Bangunan keraton Yogyakarta didirikan diantara pada satu garis lurus imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi dan Laut Selatan.


Menuju Pos 4-Candi Naga


Awal perjalanan terasa enak karena jalan mendatar dan terus menurun. Dari kejauhan, tanjakan menukik naik menuju puncak Bekel sudah bisa terlihat dengan jelas. Tantangan sudah didepan mata. Jalan mendatar ini terasa seperti pemanis sementara saja. Sekitar 5 menit berjalan mendatar, tiba saatnya jalan berubah menjadi naik kembali.


Untungnya tidak terlalu panas karena rindangnya pohon terus melindungi perjalanan kami dan hembusan angin kencang memberikan rasa sejuk yang luar biasa nikmat. Kurang lebih 20 menit berjalan, akhirnya sampai juga di persimpangan. Ambil kiri untuk menuju puncak dan ambil kanan untuk menuju Candi Naga I. Tentunya kami melipir ke kanan terlebih dahulu.


Candi Naga I dibangun pada akhir masa Kerajaan Majapahit pada lereng yang curam. Bagiku pribadi, Candi Naga I seperti versi kecil dari Candi Kendalisodo. Bangunan candi berbentuk teras bertingkat dengan total 4 tingkat. Pada ujung tingkatan terdapat tempat pemujaan yang kondisinya sudah rusak berat. Tidak ada lahan camping sama sekali di sini.


Pos 4 Candi Naga

Menuju Puncak Gunung Bekel


Kami lanjut berjalan menuju arah puncak. Menaiki lereng yang curam dengan nama Tanjakan Mantan. Kontur jalan berbentuk anak tangga yang terkadang kondisinya masih bagus sehingga memudahkan pijakan dan terkadang kondisinya terlalu sempit untuk ditapak. Untuk naik tidak terlalu menyusahkan. Namun, aku membayangkan sewaktu turun nanti. Betapa susahnya menuruni jalan ini apalagi kami membawa tas carrier besar. Tidak lucu kalau terpeleset.


Tanjakan Mantan

Selama menaiki Tanjakan Mantan, pemandangan sisi kanan dan sisi belakang luar biasa bagus. Sisi kanan nampak Gunung Gajah Mungkur/gajah tidur dan tanah-tanah berlubang yang dipakai untuk proyek galian sirtu (pasir batu). Kalau menoleh ke belakang, kemegahan Gunung Penanggungan akan terlihat secara utuh tanpa ada penghalang sama sekali.


Sedikit demi sedikit kaki kami terus menapak hingga sampailah kami di ujung Tanjakan Mantan. Ternyata belum puncak. Kami masih harus berjalan lagi ke arah kiri menyusuri jalan yang datar dan perlahan naik. Angin sudah tidak ada penghalangnya karena vegetasi sudah berubah menjadi rerumputan liar saja. Badan kami tertabrak angin sangat kencang sampai terkadang rasanya kami terdorong berjalan maju. Beberapa kali kami lihat ada tempat yang cocok untuk camping. Tetapi, kami terus berjalan hingga benar-benar sampai di puncak Bekel. Baru setelah itu menentukan mau camping dimana.


Selama menyusuri jalan, ketika aku menoleh ke kiri, aku bisa melihat candi-candi yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, yaitu Candi Siwa, Candi Guruh, dan Candi Wisnu. Hanya 2 candi yang terlihat. Entah itu candi yang mana. Akhirnya sampai juga kami di Puncak Bekel. Lapangan luas yang memiliki tanda bertuliskan 1238 mdpl dan bendera Merah Putih yang berkibar dengan kencang. Kami tiba sekitar jam 4 sore dengan kondisi yang sepi, tidak ada orang sama sekali selain kami berdua.


Puncak Gunung Bekel

Menikmati Senja di Puncak Bekel


Setelah berfoto sebentar, kami mulai memikirkan dimana lokasi untuk mendirikan tenda. Apakah di tepi jalan menuju puncak atau di Candi Kendalisodo? Akhirnya kami putuskan mendirikan tenda di tepi jalan menuju puncak saja daripada besok harus kembali naik ke puncak dari Candi Kendalisodo dengan membawa beban berat. Sempat kami lihat ada tempat yang lumayan terlindungi oleh semak belukar tinggi. Kami berharap semak belukar tersebut bisa mengurangi kencangnya angin yang menggempur tenda. Tempat tersebut tidak jauh dari puncak dan memiliki pohon yang sudah mati, tanpa daun dan berwarna putih. Kurang lebih cukup 1 menit berjalan dari puncak, sampailah kami di lokasi tersebut. Lokasi camping kami berada pada ketinggian 1200 mdpl.


Pohon Mati Yang Ada di Sekitar Lokasi Camping

Tenda segera aku keluarkan dan dirikan. Astaga! Susah sekali membangun tenda di puncak dengan kondisi angin yang benar-benar kencang. Sangat mengganggu! Tidak bisa kalau hanya satu orang yang bekerja. Harus ada bantuan dari orang lain. Akhirnya tenda berhasil aku dirikan dengan bantuan Sigit. Dia harus menahan inner tenda sampai pasak terpasang. Setelah itu, menahan outer tenda sambil aku mengunci di tiap sisinya. Sehabis outer terpasang, aku kencangkan tenda dengan guyline di ketiga sisinya agar tetap kokoh berdiri meskipun dihajar angin. Prediksiku nanti malam angin pasti akan lebih kencang dariapda sore ini.


Kami berencana istirahat sebentar hingga jam setengah 5 sore, lalu kami berjalan menuju Candi Kendalisodo dengan membawa barang seperlunya saja. Tenda akan kami tinggal. Kami akan menikmati senja dari Candi Kendalisodo yang seharusnya menghadap ke arah Barat.


Tiba sudah waktunya berjalan. Hanya peralatan berharga dan air yang kami bawa. Cukup berjalan satu menit saja, kami sudah sampai kembali di Puncak Bekel. Kali ini ada 3 orang yang menjadi teman di puncak. Tadi mereka sempat melewati tenda kami. Pemandangan sore ini luar biasa bagus. Cahaya matahari sore yang jatuh sebagian karena terhalang oleh awan, menghiasi dan menyinari sebagian tubuh Gunung Welirang sehingga menciptakan kemagisan tersendiri. Akhirnya kami putuskan menikmati senja dari sini saja. Rencana ke Candi Kendalisodo kami batalkan. Kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan apa yang ada di depan mata.


Penampakan Gunung Welirang dari Puncak Bekel

Selesai dengan satu titik, berpindah ke titik yang lain. Itulah yang kami lakukan. Mencari lokasi yang mantab untuk berfoto. Aku penasaran dengan ujung dari puncak Bekel. Jalanlah aku ke sana. Sedikit turun lalu ujung sudah terlihat, menghadap arah ke pemukiman dan ke arah senja. Oh my God! Amazing!


Sambil menikmati senja aku mencoba mencari Candi Surya yang ada disekitaran Puncak Bekel. Candi ini sudah runtuh dan hanya menyisakan sedikit bebatuan saja. Hasilnya nihil. Aku tidak bisa menemukannya karena memang lokasinya sulit terlihat dan berada di lereng yang langsung bersebrangan dengan jurang. Ketika sudah puas menikmati semua keindahan ini, saatnya kami kembali ke tenda. Menantikan suguhan esok pagi.


Senja dari Puncak Bekel

Menyongsong Fajar


Ini kali pertama aku dan Sigit merasakan repotnya camping di dekat puncak. Angin bertiup sangat kencang sampai memasak harus diteras tenda dengan pintu yang tertutup. Bukan hanya untuk menghalau angin, tapi juga untuk menghalau pasir yang terbawa bersama angin. Tidak ada yang namanya kesunyian. Suara angin selalu mengisi ruang sunyi.


Makan malam selesai dan mau tidak mau kami berlanjut dengan tidur. Tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan. Main smartphone-pun tak bisa karena sinyal sudah hilang. Selama proses tidur, kami ditemani oleh bunyi-bunyian hasil pukulan dan gesekan antar ranting dari pohon mati. Tuk.. tuk.. tuk... seperti bunyi dua batang yang dalamnya kosong lalu saling dipukulkan. Kret.. kret.. kret.. seperti bunyi jendela kayu tua yang dibuka dan ditutup dengan engselnya yang sudah berkarat. Tenda tak apa-apa meskipun terus dihajar angin malam. Tidur kami tetap berjalan dengan nyenyak.


Ranting Pohon Mati

Mendekati jam 12 malam aku terbangun karena Sigit ingin menikmati bintang. Parahnya adalah ketika bangun, muka ini penuh dengan pasir halus. Gila! Sangking kencangnya angin, pasir sampai ikut terbawa masuk ke dalam tenda. Barang yang kutaruh disebelah kepalaku juga berpasir. Nesting yang ada di teras tenda juga berpasir. Lengkap sudah! Kala itu bintang terlihat dengan jelas karena langit gelap sempurna tanpa ada awan dan hanya kami satu-satunya sumber cahaya yang ada. Tidak ada tenda lain. Tidak lama, kami kembali masuk ke tenda melanjutkan tidur.


Jam 5 pagi aku terbangun duluan dibandingkan Sigit. Nyawa dan kesadaran kami kumpulkan sebentar, lalu segera berjalan ke puncak dengan santai. Puncak sudah ramai oleh orang yang asyik menikmati fajar sambil berfoto. Matahari terbit dari arah kiri Penanggungan, tepatnya di arah Gunung Gajah Mungkur. Bagiku pribadi, suguhan fajar di Puncak Gunung Bekel tidak terlalu indah apabila dibanginkan suguhan senja kemarin. Hanya Gunung Welirang yang menyuguhkan tampilan berbeda. Ada awan diatas puncaknya yang membentuk estetika cantik tersendiri. Kami menikmati suasana pagi ini hanya sebentar dan mengambil foto tidak terlalu banyak. Setelah itu segera kembali ke tenda.


Fajar dari Puncak Gunung Bekel

Turun Gunung

Rencana kami untuk masak sebelum turun bubar total karena melihat peralatan masak yang sudah terlalu kotor oleh pasir. Melihatnya saja langsung membuat kami malas untuk membersihkannya dan jumlah air mulai menipis, hanya tersisa 1 liter untuk bekal turun kami berdua. Akhirnya kami mengisi energi dengan sarapan roti kemarin pagi saja.


Tenda Kami Bermalam di Puncak Gunung Bekel

Selesai dari makan, kami langsung beberes untuk persiapan turun. Sleeping bag dan matras tidurku menjadi dua barang yang paling kotor terkena pasir. Ketika melepas tali guyline dan pasak terasa masih mudah. Namun, ketika sudah harus melipat tenda, aduhai rasanya sama susahnya dengan mendirikan tenda. Tiap kali tenda kami bentangkan dan akan kami lipat, angin selalu menghampiri dan membuat tenda hampir terbang. Sudah serasa bermain layangan saja. Melipatnya harus cepat dan segera ditaruh di tanah. Akhirnya semua bisa beres juga. Kami awali perjalanan turun gunung dengan berdoa, sama seperti sebelum berangkat naik gunung. Kami mulai turun sekitar pukul 7 pagi.


Perjalanan turun terasa mudah sampai tepat sebelum Tanjakan Mantan dimulai. Menuruni tanah yang licin membuat langkah kaki harus pintar-pintar menapak. Perlahan tapi pasti sambil tangan tetap bertumpu pada trekking pole. Alon-alon asal kelakon. Kurang lebih 15 menit baru kami sampai kembali di Candi Naga I. Padahal biasanya waktu turun adalah setengah dari waktu naik. Kali ini turun dan naik sama saja waktu tempuhnya.


Gunung Gajah Mungkur/Gajah Tidur Dilihat Dari Gunung Bekel

Perasaan bahagia mulai timbul karena tahu setelah ini tinggal turun terus saja dan bukan turunan yang susah. Cuma ada naikan sedikit saja di depan sebelum Candi Pura. Sisanya turun terus. Langkah kami benar-benar nikmat hingga sampailah kami di Candi Pura. Dua titik camping terisi penuh oleh dua rombongan pendaki. Perjalanan terus kami lanjutkan sampai ke Candi Putri tanpa berhenti. Kami sempat berpapasan dengan orang yang melakukan trail run, hanya berbekal tas kecil dan air. Gunung Bekel memang cocok untuk kamu yang menggemari trail run.


Candi Putri mulai diramaikan oleh 1 rombongan yang mendirikan dua tenda. Kami berhenti sebentar di sini karena sinyal kembali ada. Sigit ingin memberi kabar terlebih dahulu kepada orang di rumah. Setelah itu langsung lanjut berjalan kembali. Seperti biasa, sewaktu turun selalu ditemani oleh rasa kagum akan kemampuan kami masing-masing bisa menaiki jalan ini kemarin. Kami turun sambil ngorol hingga tak terasa sudah sampai di Candi Bayi. Ada 1 tenda yang di dirikan di lahan camping di bawah Candi Bayi. Kami langsung lanjut berjalan hingga gubug warung. Disini tas kami lepas dan istirahat sebentar sambil minum air.


Cukup 5 menit mengambil napas, perjalanan berlanjut. Akhirnya kami kembali melewati hutan. Merasakan kembali teduhnya hutan. Selama berjalan turun kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang naik. Arus orang naik mulai ramai. Ini masih pagi, makin siang pasti makin ramai. Tidak ada yang aneh, mengingat sudah hari Sabtu, hari orang mulai terbebas dari kursi kantor. Tibalah kami di pos pendaftaran awal sekitar pukul setengah 9 pagi. Total waktu yang dibutuhkan untuk turun kurang lebih 1,5 jam. Administrasi cukup melapor kembali kepada mas penjaga pos. Nama akan dicentang yang menjadi tanda bahwa sudah turun.


Menuruni Tanjakan Mantan

Bebersih Badan


Sebelum pulang, Sigit aku ajak masuk ke dalam Petirtaan Jolotundo terlebih dahulu. Pertama karena dia belum pernah ke sana. Kedua karena kami ingin bebersih terlebih dahulu dan mengisi botol air minum yang mulai kosong. Cukup bayar 10.000 rupiah per orang kami sudah bisa masuk. Saranku, beli tiket masuknya sewaktu berangkat saja, karena posisi loketnya sudah berubah. Dari awalnya berada didekat parkiran mobil, sekarang sudah berubah menjadi berada di bawah sebelum parkiran. Tepatnya berada di pos pengecekan suhu badan, bentuk kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Waktu itu aku tidak turun ke bawah, melainkan dibantu petugas pintu masuk untuk membayar 20.000 rupiah kepada mereka saja. Nanti mereka yang akan menyetorkan uang ke bawah.


Petirtaan Jolotundo lumayan sepi dari orang mengingat memang kondisi masih pagi. Kami langsung menuju ke salah satu gasebo yang ada dibawah. Tas dan sepatu kulepas. Setelah itu langsung aku menuju kolam sambil membawa botol minum lipatku. Aku tidak mandi di bilik. Aku hanya membasuh diri dengan air mancur yang ada di kanan kolam. Air segar dan dingin benar-benar me-recharge aku kembali. Membuang pasir yang menempel di kaki, lengan, rambut, dan muka sungguh melegakan. Aku dan Sigit berganti bersih-bersihnya. Satu bersih-bersih di kolam, satu menjaga barang. Setelah semuanya selesai kami langsung berangkat pulang, tepat ketika Petirtaan Jolotundo mulai ramai didatangi rombongan pesepeda. Kami pulang dengan mengantongi segudang pengalaman baru dan tentunya kulit gosong. Saranku kalau ke Gunung Bekel, pakailah baju lengan panjang, buff untuk menutupi tengkuk leher, dan topi. Kami berkendara dengan terus beriring-iringan hingga berpisah di kota Surabaya.


Sekian cerita pendakianku ke Gunung Bekel. Melalui perjalan ini, pelajaran baru yang kudapatkan adalah tidak lagi mendirikan tenda di puncak. Repotnya luar biasa! Buat kamu yang mau mendaki ke sini, tolong perhatikan aturan yang berlaku. Yang terutama adalah jangan menaiki candi dan jangan mendirikan tenda di teras candi. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab terhadap alam berserta isinya. Itulah keren yang sebenarnya. Bukan keren karena puncak yang ditaklukan dan bukan keren karena foto yang bisa menaikan gengsimu di media sosial. Sampai jumpa di cerita pendakian selanjutnya.


Dukung terus pendakianku ke gunung-gunung di Indonesia dan menceritakannya kembali dalam bentuk virtual tour 360 yang bisa kamu nikmati melalui website karyakarsa.

Virtual Tour 360 Pendakian Bekel bisa kamu nikmati melalui sini


Salam Gunung itu Guru!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di Petirtaan Jolotundo, dan youtube channel BPCB Jatim


Rangkuman Waktu Tempuh & Biaya Perjalanan


Naik

Pos Pendaftaran-Warung Gubug= 1 jam

Warung Gubug-Candi Bayi= 30 menit

Candi Bayi-Candi Putri= 30 menit

Candi Putri-Candi Pura= 10 menit

Candi Pura-Candi Naga I= 20 menit

Candi Naga I-Puncak Bekel= 15 menit


Turun

Puncak Bekel-Candi Naga I= 15 menit

Candi Naga I-Candi Pura= 10 menit

Candi Pura-Candi Putri= 5 menit

Candi Putri-Candi Bayi= 15 menit

Candi Bayi-Warung Gubug= 15 menit

Warung Gubug-Pos Pendaftaran= 30 menit


Total Biaya Perjalanan

Bensin PP 40.000

Biaya masuk pendakian 10.000

Biaya masuk jolotundo 10.000

Biaya makan siang 20.000

Biaya makan malam 0

Jajanan Roti 15.000