Menyelami Waktu



Pernahkah kalian merasakan fenomena waktu berjalan sangat cepat? Aku yakin pasti kalian semua pernah mengalami. Fenomena itu terjadi rata-rata karena kita sibuk dengan apa yang kita kerjakan saat itu. Bisa juga karena kita terlalu fokus dan asik mengulik pekerjaan kita. Kita menjadi lupa waktu. Sebaliknya, kita juga pasti pernah merasakan waktu berjalan lama sekali. Contohnya seperti ketika kita mengantri. Siapa yang senang mengantri. Semua orang selalu mengharapkan cepat. Karena kita melakukan aktifitas yang tidak kita senangi, waktu menjadi menjadi terasa lama.


Fenomena ini juga kerap terjadi ketika kita berwisata. Aku ambil contoh wisata naik gunung yang sering aku jalani. Ketika perjalanan dari desa Ranu Pani ke Danau Ranu Kumbolo yang bisa ditempuh dalam kurun waktu 4 jam. 4 jam ini bisa menjadi terasa cepat atau bisa menjadi terasa lama. Namun, kalau bicara naik gunung, seringnya waktu terasa cepat. Kita sibuk memikirkan rasa capai yang kita alami. Kita sibuk mengatur napas agar tetap bisa melanjutkan perjalanan. Waktu menjadi bahan pikiran kedua. Tiba-tiba ketika melihat waktu seringnya terucap ekspresi kaget "loh sudah jam segini." Waktu seperti berlari kencang.


Disisi lain pernahkah kalian membandingkan waktu yang kalian habiskan ketika berwisata terhadap waktu ketika berada pada rutinitas sehari-hari. Aku sendiri pernah merenungkan hal ini. Dalam kurun waktu 4 jam perjalanan ke Ranu Kumbolo, aku sudah bisa banyak berinteraski. Mengalami dan bereaksi terhadap banyak jenis peristiwa, belajar banyak nilai dari sebuah peristiwa, dan bahkan sudah bisa bergerak menempuh jarak yang jauh. Sedangkan kalau 4 jam di kota, dikotak nyamanku, bisa-bisa 4 jam itu berlalu dengan begitu saja tanpa pencapaian berarti. 4 jam berlalu hanya untuk tidur. 4 jam berlalu hanya untuk melihat youtube. 4 jam berlalu hanya untuk berpura-pura mengerjakan sesuatu di laptop kantor. 4 jam berlalu hanya untuk bermain media sosial hingga termakan kehidupan orang lain.


Aku pribadi merasakan mafaat positif dari renungan tersebut. Aku jadi lebih menghargai setiap detik yang kumiliki. Seringkali ketika aku terlalu santai, aku menjadi berfikir "aduh aku membuang waktuku. Padahal kalau digunung dalam 1 jam ini aku sudah bisa menempuh beberapa km, aku sudah bisa jauh berpindah posisi, aku sudah bisa mendekati target perjalanan." Apabila diterapkan dalam hidupku, seharusnya 1 jam ini aku sudah bisa mengerjakan banyak hal, aku sudah bisa bergerak kesana kemari belajar banyak hal yang semua itu akan semakin mendekatkan aku dengan impianku. Bisa dikatakan, alam bawah sadar kita butuh dibiasakan untuk menghargai waktu.


Melalui artikel ini, aku mengajak kalian merefleksikan waktu yang sudah kalian lalui selama ini. Apakah makna waktu yang sudah hilang tersebut? Apakah waktu yang hilang itu sudah berubah bentuk menjadi suatu manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain?


Tidak ada yang salah menyediakan porsi waktu untuk dikosongkan. Tetapi harus tetap mawas diri dan tahu batasan. Tidak melakukan apa-apa jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan melakukan sesuatu. Jangan sampai kalian terlena melakukan itu terus menerus. Jangan sampai diri termanjakan oleh itu. Jangan sampai muncul suatu pembenaran diri bahwa waktu kosong itu memang diperlukan secara terus-menerus.


Kalau bisa kusarankan dekatkan diri kalian dengan alam. Alam itu seperti buku suci agama kalian masing-masing yang menanti untuk dibaca dan dimaknai ditiap halamannya. Banyak nilai positif ditiap halamannya. Kemampuan menuliskan artikel refleksi ini juga merupakan pelajaran dari alam terutama gunung. Semoga artikel ini bermanfaat.


Salam Belajar dari Alam.

0 tampilan