Menyikapi Siang Menjadi Malam



Apabila kalian mengikuti ceritaku, ada suatu perilaku yang selalu kulakukan setiap naik ke gunung. Perilaku itu adalah berhenti sejenak kurang lebih 15 menit setiap jam 6 sore atau lebih tepatnya setiap Adzan Maghrib berkumandang. Aku lakukan ini hanya apabila masih dalam perjalanan dan harus menempuh pergantian hari dari siang ke malam untuk mencapai tempat berkemah. Tidak aku terapkan apabila sudah berada di lokasi berkemah.


Sebenarnya bisa dengan mudah aku katakan kulakukan ini untuk menghormati mereka yang menuaikan Adzan Maghrib. Tapi bukan itu maksud sebenarnya. Aku melakukan hal ini atas dasar menghormati suatu keyakinan yang silahkan kalian iyakan apabila sesuai dengan pemikiran kalian. Aku meyakini setiap jam 6 sore, selain terjadi pergantian waktu dari siang ke malam, terjadi juga peristiwa terbukanya pintu dimensi lain/astral. Bukannya aku tidak menghargai ajaran agama yang aku peluk. Melainkan memeluk suatu agama tidak berarti aku mengabaikan rasa hormat kepada kepercayaan lokal juga kan.


Ada cerita yang membantuku meneguhkan perilaku ini untuk dilakukan. Cerita ini berasal dari pemanduku ketika perjalanan ke Semeru pertama kali. Namanya Dede. Cerita pertamanya adalah ada pendaki yang berjalan berdua mengarah turun. Cerita ini berlokasi di Gunung Semeru. Sampailah mereka di dekat pos 2 dengan waktu sudah menunjukan jam 6 sore. Mereka memutuskan terus berjalan agar cepat sampai di Desa Ranu Pani. Pos 2 mereka lewati. Kaki melangkah terus tanpa berpikir yang aneh-aneh. Tiba-tiba mereka sampai lagi disebuah pos yang perlahan mereka sadari ternyata itu adalah pos yang sama. Jadi, selama ini mereka berjalan memutar lantas kembali lagi ke pos 2. Disitu mereka sadar sudah melakukan suatu kesalahan. Diputuskan untuk rehat sebentar di pos 2 sambil berdoa memohon semuanya berjalan baik-baik saja. Perjalanan mereka lanjutkan. Kali ini mereka berhasil kembali ke Desa Ranu Pani dengan kondisi baik-baik saja.


Cerita keduanya seperti ini. Ada tiga pendaki yang baru akan memulai perjalanan sekitar jam setengah 6 sore. Sudah tidak ada pendaki lainnya dibelakang mereka. Mereka rombongan terakhir. Posisi masih berada di Desa Ranu Pani. Ketika perjalanan mulai mendekati perkebunan warga, ada seorang warga yang memiliki warung disana mengatakan kepada mereka agar perjalanan dilakukan besok saja karena sudah mau malam. Mereka hanya mendengarkan tapi tidak mengiyakan. Perjalanan tetap mereka lanjutkan. Alhasil perjalanan mereka tidak bisa terbebas dari perkebunan warga. Mereka merasa berjalan sesuai jalur. Ternyata mereka justru berjalan memutari kebun warga terus-menerus. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali saja ke Desa Ranu Pani setelah berputar-putar 3 jam lamanya dan perjalanan dilanjutkan besok pagi saja. Besok paginya tidak ada kejanggalan. Perjalanan mereka baik-baik saja.


Kalian bebas berkehendak meyakini kebenaran cerita ini atau tidak. Susah dilogika? Sudah pasti. Tetapi dari kedua cerita ini, ada benang merah yang kutarik yaitu setiap jam 6 sore lebih baik berhenti sejenak. Benang merah inilah yang menjadi dasar perilakuku saat ini. Kalau pengalamanku sendiri akan kondisi ini ketika di Gunung Gede. Kami bertiga, aku, Ncus, dan Triasni harus berhenti di tengah jalan karena jam 6 sore mendatangi kami. Suasana temaram, hanya sedikit cahaya yang bisa masuk. Serangga yang ada dipohon sekitar kami mengeluarkan suaranya. Suara tidak keluar secara bersamaan. Melainkan bergantian mulai dari sisi kiri kami hingga ke kanan. Dari sisi yang lebih tinggi ke sisi yang lebih rendah. Serangga ini seperti bersaut-sautan. Suasana yang awalnya sepi, tiba-tiba menjadi sangat ramai. Keunikan tidak berhenti sampai di situ, sekitar 15 menit lamanya, perlahan suara itu hilang secara bersamaan. Suasana kembali sepi seperti semula. Bagiku pribadi pengalaman ini tidak hanya unik, melainkan juga mengandung sisi misterius. Serangga ini seperti menyambut pergantian siang ke malam. Seperti memberikan tanda dibukanya portal dimensi astral dan mereka ikut berhenti ketika malam sudah tiba dan pintu sudah terbuka.


Kenapa hanya di gunung? Kenapa tidak berlaku di kota? Tidak bisa dipungkiri, rata-rata masyarakat Indonesia memiliki keyakinan yang kuat bahwasanya gunung itu merupakan tempat sakral. Tempat bersemayamnya roh-roh, baik itu yang bersifat negatif maupun yang positif. Gunung sudah menjadi rumah bagi makhluk tak kasat mata. Jadi, kalau kita bermain ke gunung sama halnya dengan bermain ke rumah mereka. Kalau kita tidak bersopan santun, tentunya bisa berpotensi menimbulkan kekesalan pada tuan rumah. Sudah menjadi hak tuan rumah untuk mengusili kalian.


Bisa aku rekomendasikan kalian mengikuti Youtube channel kisah tanah jawa agar perilaku berhenti setiap jam 6 sore ini lebih masuk akal. Dalam channel tersebut dijelaskan lebih lanjut sebenarnya gunung itu seperti apa dan sebenarnya apa yang terjadi ketika jam 6 sore datang apabila dilihat dengan sudut pandang mata yang berbeda.


Sekian tips yang bisa aku bagi kepada kalian apabila bermain dialam, khususnya gunung. Tidak ada keharusan melakukan hal ini karena banyak juga cerita mereka yang tetap baik-baik saja, tidak mengalami kejanggalan meskipun berjalan menembus jam 6 sore tanpa berhenti sejenak.


Jangan lupa, like dan bagikan cerita ini kepada teman berlibur kalian apabila kalian merasa cerita ini bermanfaat.


Salam Belajar dari Alam

0 tampilan