Mengenal Pengrajin Batu Bata Trowulan

Menikmati Trowulan tidak harus dari sisi wajah sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit saja. Ada sisi wajah lain dari masyarakat Trowulan itu sendiri yang menarik untuk diulik. Waktu aku kesana, aku menyempatkan diri mengenal pengrajin batu bata merah yang menjadi salah satu profesi mayoritas penduduk Trowulan. Profesi ini bisa dikatakan sudah menjadi tradisi dan ilmunya terus diturunkan sejak Kerajaan Majapahit yang juga terkenal dengan hasil batu bata merah dengan kualitas terbaik di zamannya. Kalau sekarang kamu melihat tembok rumahmu, bisa saja batu bata penyusunnya merupakan karya karya penduduk Trowulan lho!


Pengrajin batu bata yang aku kunjungi berada di sekitar situs Kumitir. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki lahan sendiri. Jadi, sistem yang diterapkan adalah menyewa kepada pemilik tanah. Pengrajin yang aku temui menyewa tanah selama 3 tahun dengan biaya total sebesar 35 juta rupiah. Secara garis besar, proses pembuatan batu bata terpecah menjadi dua, yaitu mencetak dan membakar. Ada pengrajin yang memiliki hanya salah satu dari proses tersebut, dan ada juga yang memiliki kedua-duanya. Semua proses masih dilakukan secara tradisional dengan hanya mengandalkan tenaga manusia. Tidak ada tenaga mesin sama sekali.


Bekerja di Atas Situs Kumitir

Proses produksi dimulai dengan mencangkul tanah yang telah disewa. Setelah sudah didapatkan cukup banyak, tanah akan diberi air terlebih dahulu agar menjadi liat, lalu dicampur dengan dedak padi dengan tujuan agar tidak pecah sewaktu proses pembakaran. Proses pengadukannya cukup diinjak-injak saja dengan kaki hingga terlihat tercampur dengan baik. Namun, apabila kondisi tanah sudah memiliki banyak kandungan pasir, maka tidak perlu dicampur dedak padi lagi. Nah, tanah di bumi Trowulan terkenal memiliki kualitas yang lebih bagus apabila dibandingkan lokasi lainnya karena kadungan pasirnya cukup banyak sehingga bisa menghemat penggunaan dedak padi. Proses ini kebanyakan dilakukan oleh kaum lelaki karena membutuhkan tenaga yang banyak. Hasil dari proses ini adalah adonan tanah liat yang siap cetak.


Pembuatan Adonan

Pencetakan Adonan

Sejauh aku memperhatikan, tugas mencetak adonan dilakukan oleh mayoritas kaum wanita. Mereka sudah memiliki cetakan berbentuk kotak-kotak dengan ukuran standar panjang 20 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 5 cm. Adonan tanah liat langsung dimasukan kedalam cetakan, lalu ditekan-tekan untuk memastikan kepadatannya. Setelah itu, adonan berlebih yang ada di permukaan akan dihilangkan dan dirapikan menggunakan tangan. Hasil cetakan adonan akan dijemur dibawah sinar matahari. Apabila intensitas sinar matahari banyak, maka cukup 2 hari saja akan mengering dan mengeras. Namun, apabila intensitas sinar mataharinya kurang, maka waktu penjemuran akan semakin panjang hingga menjadi 1 minggu.


Ketika sudah mengering dan mengeras, batu bata setengah jadi dengan warna abu-abu siap masuk ke proses selanjutnya, yaitu proses pematangan dengan cara dibakar. Batu bata akan disusun meninggi kira-kira 2-4 tingkat membentuk suatu tungku. Pembangunan dimulai dari sisi terluar hingga selesai pada sisi dalam tengah. Satu tungku bisa tersusun dari puluhan ribu batu bata. Tungku ini dibangun dengan memiliki banyak rongga yang nantinya akan diisi dengan bahan mudah terbakar yang terbuat dari karet, seperti sampah ban karet, sampah sepatu dan sandal karet. Ternyata, lokasi ini menjadi salah satu ujung dari pengelolahan sampah sepatu dan sandal karet.


Penjemuran Cetakan Adonan

Penyusunan Batu Bata Setengah Jadi Menjadi Tungku

Sampah karet tadi masih harus ditaburi dengan campuran karbon, dedak padi, dan remikan (sampah yang sudah dicuci dengan air garam dan dipecah-pecah menjadi kecil). Tujuannya adalah agar pembakaran lebih sempurna sehingga bisa menghasilkan warna merah yang lebih bagus. Asap pembakaran akan sangat berwarna hitam karena karet yang dibakar, persis seperti asap aksi pembakaran ban di tengah aksi demonstrasi. Asap tersebut akan menabrak atap bangunan yang tersusun dari banner, lalu langsung terbang ke udara tanpa ada proses penyaringan. Dalam hati aku cuma bisa bertanya, apakah asap ini akan berdampak menjadi polusi? Lama pembakaran bisa memakan waktu hingga 1 minggu lamanya. Harus sabar agar batu bata yang dihasilkan bisa kuat dan memiliki warna merah yang bagus.


Ketika sudah matang, truk yang diutus oleh pengepul akan datang. Harga jual per biji batu bata berada di kisaran 300 rupiah. Proses pembakaran tadi ternyata tidak membuat semua sampah terbakar habis menjadi abu. Masih ada sisa berupa debu halus. Sisa pembakaran ini akan dipakai kembali sebagai alas cetakan adonan agar tidak lengket.


Pencampuran Karbon, Dedak, dan Remikan

Batu Bata Matang

Resiko kerugian terbesar ada pada proses penyusunan menjadi tungku. Kalau tidak benar, tungku bisa roboh. Apalagi ketika batu bata sudah menjadi merah yang berarti tidak bisa diolah kembali. Batu bata merah tersebut akan dibuang dan ditimbun ke dalam tanah begitu saja.


Para pengrajin batu bata di Trowulan bisa dikatakan memiliki peran penting dalam hal penemuan situs peninggalan sejarah. Kalau mereka tanggap, maka penemuan situs sejarah bisa segera diidentifikasi oleh pemerintah. Namun, kalau mereka bersikap acuh, maka situs sejarah bisa saja malah menjadi rusak karena ikut tercangkul. Kejadian seperti ini bisa aku saksikan langsung dilokasi. Para pengrajin yang aku kunjungi ini bekerja dengan masa depan yang telah tergambar. Kelak mereka akan direlokasi karena mereka bekerja di atas sebuah situs tinggalan sejarah. Tinggal menunggu giliran pembebasan tanah saja.


Sampah Sisa Pembakaran

Gubug Pembakaran

Sekian cerita yang bisa kubagikan mengenai cara kerja pengrajin batu bata Trowulan. Semoga ceritaku ini bisa bermanfaat dan membuka wawasan kamu semua. Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya.


Salam Kenali Indonesia