Mengawal Impian ke Puncak Gunung Semeru-Bagian 2

Dengan modal rasa penasaran, kaki melangkah penuh semangat. Jalan juga terus menurun. Terkadang kami berjalan diantara celah yang sempit. Ada kalanya juga berjalan diatas kayu yang licin. Yang paling seru adalah turun ke bawah tapi tidak bisa langsung melangkah. Kita harus duduk dulu kemudian mencari pijakan kaki. Terlalu jauh jarak turunnya. Meskipun turun, napas ini terkuras juga karena medan yang susah. Ketika ditengah jalan kita mulai berpikir "Wah ini naiknya pasti susah nih. Udah gitu bawa air juga. Makin susah dah!". Akhirnya kami sampai di Sumber Mani. Aku pribadi cukup kaget. Dibayanganku bentuknya adalah kolam. Ternyata beda 100%. Bentuknya hanya ada pipa yang ditancapkan di tebing, dan dari pipa itu keluar air terus menerus. Kegiatan ambil air kami lakukan. Kami juga mengambil air untuk membilas muka dan minum langsung. Oh.. dingin dan segarnya tak tertandingi. Muka kembali segar. Rasa haus juga terhapuskan. Badan siap dipacu kembali membawa air naik ke atas. Benar sekali seperti apa yang kami bayangkan sebelumnya. Naik menjadi lebih susah karena ada tambahan beban bawa air. Kalau turun kami tidak pakai berhenti. Beda dengan naik, ada rehat yang perlu diambil sambil meminum air yang tadi diambil dari bawah. Saran dari aku kalau ambil air di Sumber Mani, yang banyak sekalian. Bawa wadah yang tertutup kalo tidak, nanti rugi airnya tumpah-tumpah. Kalau ambil sedikit-sedikit, rugi di tenaga dan yang ada airnya sudah habis diminum sebelum balik ke atas. Akhirnya dengan perjuangan kami bisa kembali ke atas, Kalimati. Total perjalanan naik dan turun adalah 1 jam.


Sesampainya di tenda, aku mempersiapkan makan malam dan juga sekaligus memasak bubur kacang hijau sebagai sarapan sebelum memuncak. Sisa hari kami habiskan dengan bersantai, dan bercanda. Tidur kami percepat karena jam 12 sudah harus bangun. Belajar dari saran teman pendaki sebelumnya, aku meminum fatigon sebelum tidur dengan tujuan ketika bangun badan akan lebih segar. Ini hanya kulakukan ketika sebelum memuncak saja. Tidak untuk selama perjalanan biasa. 


Jam 12 malam tiba. Saatnya kami bangun. Persiapan kami lakukan dengan baik. Bubur kacang hijau yang mengental aku panaskan kembali lalu kusajikan kepada Ncus dan Triasni. Pak Pi'i juga terbangun dan menawarkan bantuannya untuk mendampingi. Kami tolak tawarannya karena aku dan Ncus sudah tau medan dan arah perjalanan. Kutitipkan pesan untuk menyiapkan nasi saja besok siang. Jadi, ketika kami turun dari puncak tinggal memasak lauknya, lalu makan siang sudah tersedia.


Dalam kondisi yang baik, kami bertiga melangkah. Belajar dari kesalahan yang dulu, aku tidak akan mau berpisah dengan mereka. Tidak akan kuucapkan "kalian jalan duluan saja." Bagusnya, dengan fisikku yang mumpuni, jauh berbeda dengan yang dulu, aku bisa mengikuti langkah mereka bertiga. Kata-kata itu menjadi benar tidak terucap. Sesampainya di Cemoro Tunggal, aku menjadi teringat lokasi ini adalah lokasi aku terpisah. Pendakian berlanjut. Kaki melangkah sudah jauh lebih pintar. Sudah tahu tekniknya.


Kulihat Triasni yang baru pertama kali memuncak. Dia sepertinya terkejut dengan medan seperti ini. Ini baru pertama kalinya dia merasakan yang namanya maju 1 langkah mundur 2 langkah. Raut mukanya menggambarkan dia berjuang sekali. Mungkin mengalami hal yang sama dengan aku kala di Rinjani. Dia mungkin sedang melawan dirinya sendiri untuk terus berjuang naik. Yang bisa aku dan Ncus lakukan hanya mengatakan bahwa semua perjuangan ini akan terbayar lunas di atas nanti dan terus mendampingi dia. Memberikan waktu penyesuaian tanpa memaksakan kondisi. Berjalan selangkah demi selangkah. Tanpa kami sadari, kami berjalanan makin ke kiri. Kesadaran kami dapat karena kami lihat pendaki lainnya ramai di kanan. Itulah kondisi dimana aku tersadarkan bahwa fokus kami harus dikembalikan. Kembali ke jalur sebelah kanan tidak segampang membelokan setir kendaraan. Ada perjuangan disana. Tanah dikiri lebih rendah daripada di kanan. Jadi, kami harus mencari jalur supaya bisa naik ke atas. Karena medannya adalah pasir, kami susah naik. Kaki ini tergelincir turun terus-menrus. Berjuang mati-matian akhirnya kami berhasil pindah jalur. Tentunya selama perjalanan ini kami mengambil istirahat secukupnya. Tidak berlama-lama sekalinya istirahat.


Tanpa kami sadari akhirnya matarahi mulai terbit. Aku menjadi teringat kembali pengalamanku sebelumnya yang merasakan hangatnya matahari ini sambil berjuang sendirian. Berbeda dengan kali ini yang ada teman di sampingku. Teman berbagi perjuangan dan kehangatan matahari pagi. Kita lihat ke atas. Panjang jalur mulai nampak terlihat jelas. Ternyata tinggal sedikit lagi kami sudah di puncak. Aku pribadi kaget. Perjalanan kami bertiga cepat sekali. Semangat baru menjadi muncul. Begitupula kubaca dari muka Triasni. Dia seperti sudah tidak sabar untuk merasakan puncak Semeru. Akhirnya kami sampai di Puncak Semeru jam 7 pagi.



Bukannya hangat seperti pengalamanku sebelumnya, diatas benar-benar dingin seperti berada di dalam lemari es. Apalagi ketika diatas, badan sudah tidak banyak bergerak. Badan sudah tidak menghasilkan panas. Rasa dingin menjadi semakin menusuk. Angin juga kencang sekali. Tanganku tidak bisa berhenti bergetar. Mau mengambil kamera rasanya sudah malas sekali. Kami bertiga mengalami hal yang sama.


Bagi Triasni ini merupakan suatu pencapaian luar biasa. Namun, pencapaian itu menjadi tidak sempurna karena tulisan 3676 mdl sudah hilang. Hanya luasnya puncak Semeru, asap dari kawah, bendera merah putih dan gugusan awa yang bisa menjadi bukti pencapaiannya. Kecewa pasti ada. Tapi itulah seni bermain dengan alam. Tidak ada kepastian. Jadi, alangkah baiknya kita mengatur ekspetasi kita sebelum bermain dengan alam.



Tidak bisa berlama-lama di puncak, kami segera turun. Tidak lupa sewaktu turun kami tetap fokus. Fokus menuju arah Cemoro Tunggal. Turun kami ambil jalur dengan medan pasir yang lebih empuk, bisa dibuat untuk meluncur. Tetap berhati-hati karena bisa saja kita menginjak batu atau ada batu yang meluncur dibelakang kita. Kami bertiga sampai di bawah sekitar jam 10. Total perjalanan naik adalah 7 jam dan turun 2 jam. Perbedaannya sungguh jauh bukan. Dibawah kulihat Pak Pi'i sedang memasak nasi. Aku mengambil istirahat sebentar lalu memasak lauk untuk makan. Sudah menjadi kewajiban didalam kelompokku, kalau aku bertugas memasak. Meskipun aku capai, tetap harus dilakukan. Tujuannya kembali kepada kepentingan bersama. Demi kepentingan bersama ada kalanya kepentingan pribadi harus dikorbankan. Itulah prinsip-prinsip yang membuat kelompokku ini bisa kompak dan awet. Tidak ada ego yang saling tumpang tindih. Tidak ada ego yang saling berlomba.

Selesai makan siang dan mengambil istirahat, sekitar jam 2 siang, kami mulai meluncur turun kembali ke bawah. Tujuan kami selanjutnya adalah Ranu Kumbolo. Sambil turun, kami mengulas mengevaluasi perjalanan memuncak yang barusan dilakukan. Sebelum menuruni tanjankan cinta, Triasni menyempatkan menatap keindahan Ranu Kumbolo dari atas. Aku dan Ncus langsung turun ke Ranu Kumbolo. Disana Pak Pi'i sudah mendirikan tenda. Malam terakhir ini kami habiskan dengan banyak duduk diluar. Bercerita sambil menatap langit mencari bintang. Bahkan ketika sudah memakai sleeping bag bersiap tidur, kami masih menyempatkan melihat kembali foto-foto perjalanan yang sudah dilalui. Dari situ cerita berlanjut kembali. Sungguh malam yang santai, menyenangkan dan penuh makna.


Pagi menghampiri. Pertanda hari kami harus turun kembali ke Ranu Pani sudah tiba. Seperti biasa aku menyiapkan sarapan sebelum memulai perjalanan. Perjalanan turun kami mulai jam 10. Perjalanan berjalan santai dan cukup cepat. Tidak lupa tetap berhenti untuk menyantap semangka di pos 3 dan 1. Kami tidak berhenti di pos 2 untuk mempercepat waktu. Sampai di Desa Ranu Pani sekitar jam 1 siang. Kami selesaikan seluruh administrasinya dan tidak lupa berfoto dan berpamitan kepada Pak Pi'i. Terima kasih banyak Pak Pi'i atas bantuannya selama perjalanan.


Itulah cerita lain mengenai pengalamanku di Semeru. Tentunya sejak saat itu Triasni masih kembali berkali-kali ke Semeru. Selalu ada rasa kangen yang tertanam di hatinya kepada Semeru. Begitu juga dengan aku selalu mengikuti Triasni kembali ke Semeru.


Salam Gunung Itu Guru.

0 tampilan