Mengawal Impian ke Puncak Gunung Semeru-Bagian 1

Setelah cerita pendakian ke Gunung Semeru terakhir kali, kelompok pendakian kami bertambah anggota baru yang bernama Triasni. Tahta umur muda berpindah dari aku ke dia karena dia yang paling muda diantara kami bertiga (aku, Ncus, dan Ayu). Perjalanan kami dengan Triasni dimulai dengan cerita pendakian ke Gunung Merbabu. Namun, bukan itu yang akan aku ceritakan. Melainkan cerita setelah itu. Setelah pendakian Merbabu, Triasni berkeinginan kuat untuk menggapai puncak Semeru. Aku dan Ncus menemani dia mewujudkan keinginannya. Sayangnya Ayu berhalangan untuk ikut mendaki.


Ini akan menjadi pertemuan kedua dengan Puncak Semeru bagi aku dan Ncus. Teringat perjuangan berat pendakian pertama kali seperti di cerita sebelumnya, kali ini aku melakukan persiapan fisik secara baik. Begitupula dengan Triasni. Dia juga mempersiapan fisik secara matang karena ini akan menjadi pencapaian puncak gunung pertamanya dengan perjalanan yang panjang. Beda dengan pengalamannya dengan puncak Merbabu.


Kami lepas dari dari Desa Ranu Pani jam 12 siang. Perjalanan kami kali ini membawa seorang porter yang bernama Pak Pi'i. Membawa porter bukan berarti seluruh beban kami pindahkan kepada beliau. Kami hanya menitipkan tenda, logistik, dan peralatan makan kepada beliau. Karena fisik sudah jauh lebih siap, perjalanan dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo kami tempuh selama 3 jam dari yang seharusnya 4 jam. Tidak lupa kecepatan ini dikarenakan waktu istirahat yang kami pangkas. Metode yang tercipta kala itu adalah 10 detik. Dengan metode ini berarti setiap kami berhenti istirahat di tengah jalan, waktu yang diizinkan hanya 10 detik untuk mengatur napas kembali. Bukannya jahat. Prinsip kami adalah mumpung badan ini panas, harus dipakai dengan baik. Jangan sampai dibiarkan menjadi dingin kembali. Memulai dari dingin menjadi panas itu berat. Sama halnya dengan kendaraan. Ketika kendaraan sudah panas, maka kita bisa memacu menambah kecepatan. Metode ini tidak berlaku ketika kami berhenti di pos yang ada. Bagi kalian pembaca artikel silahkan mencoba metode ini.



Berkeinginan merasakan pengalaman yang baru, kami tidak mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo hanya menjadi titik pemberhentian sementara. Kami berhenti cukup lama karena ingin menikmati keindahannya dari ketinggian. Posisi kami beristirahat berada setelah tanjakan cinta. Setelah merasa cukup, perjalanan kami lanjutkan. Tenda kami dirikan di pos Cemoro Sewu. Setibanya disana, Pak Pi'i sudah mendirikan tenda. Kami tinggal menata barang didalam tenda. Untuk urusan makanan malam, tetap kami yang pegang. Kala itu hanya kami yang buka tenda di Cemoro Sewu. Ya mungkin karena disitu bukan tempat lazim berkemah. Suasana yang jauh lebih sunyi daripada di Ranu Kumbolo sungguh membikin tenang. Angin yang membawa udara dingin juga jauh berkurang karena terhalang susunan pohon Cemara. Sungguh nyaman berkemah di situ. Sempat kami membuat candaan, bagaimana kalau outer layer tenda dibuka jadi bisa melihat atas dengan leluasa. Sapa tau selain menemukan bintang, dapat bonus bayangan hitam. Hahaha bercanda horor ceritanya kala itu.


Pagi sudah datang. Kami tidak merasa dikejar waktu. Setengah perjalanan ke Kalimati sudah kami tempuh. Meskipun matahari makin naik, kami juga tidak merasa panas karena rimbun dari pohon Cemara disini. Begitu bangun lalu keluar dari tenda, aku menarik napas karena udara sekitar begitu segar dan kondisi bangunku segar sekali. Pak Pi'i sudah duduk santai menunggu kami. Selesai itu, aku mempersiapkan masak sarapan. Aku masih ingat menu kala itu adalah sup dengan lauk utama penambah energinya adalah telur puyuh. Karena jalan selanjutnya menanjak terus, gizi makanan harus dipersiapkan dengan baik. Setelah menikmati santai pagi itu, kami segera beranjak dari sana sekitar jam 11 siang. Tidak lupa kami abadikan pemandangan di sana.



Perjalanan ke Kalimati kami jalani dengan sangat semangat dan ceria. Baru kali ini aku merasakan mendaki ke arah Jambangan dengan masih banyak tenaga untuk bergurau. Biasanya kalau sudah ketemu medan dengan bentuk anak tangga, semuanya diam pusing mengatur napas masing-masing. Panjang dan beratnya perjalanan menjadi tidak terasa. Tiba-tiba sudah tiba di Jambangan saja. Tidak lupa, menikmati semangka dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Kami juga sempatkan berfoto disitu dengan pemandangan puncak Semeru yang terlihat jelas. Puncak Semeru semakin terlihat yang berarti juga membuat Triasni semakin terpanggil menjawab tantangannya.


Perjalanan kami lanjutkan ke Kalimati. Sampai di Kalimati sekitar jam setengah 2. Jadi, sekitar 2 setengah jam perjalanan santai kami. Tenda kami dirikan di dekat jalur pendakian ke puncak dimana naik sedikit sudah bisa menjumpai bunga Edelweiss. Pak Pi'i pamit mau mengambil air di Sumber Mani. Kita bertiga tidak ada yang pernah tau model sumber air itu. Jadi, diputuskan kami bertiga mengikuti langkah Pak Pi'i mengambil air sekaligus menghabiskan waktu yang masih tersisa banyak hingga malam menjemput. Bersambung ke Bagian 2

10 tampilan