Menatap Gunung Bromo dari P30

Aku yang sudah berkali-kali masuk ke kawasan Gunung Bromo pernah memandang destinasi wisata ini terlalu mainstream. Semua orang ke sana dengan aktivitas yang sama-sama saja. Pengalaman yang didapatkan begitu-begitu saja. Kenangan yang terukir datar-datar saja. Dari kejenuhan inilah aku mulai mengulik dan mencari informasi lebih dalam mengenai Gunung Bromo.


Ternyata hasil pencarianku mematahkan pandanganku yang dulu. Sebagai penggemar kegiatan nenda/camping, menurutku Gunung Bromo adalah pilihan lokasi terbaik untuk beraktivitas camping ceria tanpa rasa capai trekking. Aku yang dulunya hanya tahu akses ke Gunung Bromo melalui Cemoro Lawang (Kabupaten Probolinggo), sekarang aku makin tahu bahwa pintu Gunung Bromo itu banyak, kurang lebih ada 4 pintu kabupaten yaitu Kab. Pasuruan, Kab. Lumajang, Kab. Probolinggo, dan Kab. Malang.


Dari Kabupaten Malang sudah pernah aku jajaki dan nenda di sekitaran Bukit Teletubbies. Dari Kabupaten Lumajang juga sudah pernah aku jajaki dan nenda di B29. Kali ini aku berkesempatan menjajaki kembali Gunung Bromo melalui Kabupaten Probolinggo, namun tidak menuju Cemoro Lawang, melainkan menuju Desa Wonokerso dengan tujuan akhir adalah Pundak Lembu atau yang biasa disebut P30.


Penanda Letak P30

Arah menuju P30 sama seperti menuju Cemoro Lawang hingga bertemu perpecahan jalan di Desa Sukapura. Apabila kamu menggunakan mobil, perjalanan akan jauh lebih cepat karena sudah ada tol yang pintu keluarnya langsung di jalan desa. Jadi, tidak perlu menempuh jalan antar provinsi yang penuh dengan truk besar. Setelah itu, terus ikuti jalan naik hingga sampai di Desa Sukapura dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Untuk bantuan arahan dari aplikasi Google Maps bisa kalian dapatkan dengan mencari titik yang bernama Rest Area Sukapura.


Perjalanan masih harus berlanjut ke Desa Sariwangi. Dari Rest Area Sukapura terus ikuti jalan saja sampai menemukan Indomaret lalu Alfamidi di sisi kananmu. Setelah itu, jalan terpecah menjadi 2, satu ke bawah dan satunya ke atas. Ambil yang ke bawah. Ikuti jalan lagi dengan kelokan ke arah kiri lalu jalan menjadi naik. Perhatikan setelah ini! Diujung naikan, jalan utama akan berbelok ke arah kanan. Jangan diikuti! Ambil yang lurus saja mengambil jalan turun, keluar dari jalan utama. Jalan akan berubah menjadi jalan beton dengan kondisi relatif masih bagus. Kerusakan cuma dibagian tertentu saja. Terus ikuti jalan ini hingga menemukan persimpangan. Ambil yang ke atas mengikuti penunjuk ke arah Sukawani.


Setelah sampai di Desa Sukawani, kamu ada 2 pilihan. Perjalanan setelah ini akan menempuh jalan akan terus naik dengan kategori yang curam. Kalau kamu yakin dengan tekhnik menyetirmu dan kondisi mobil/motor prima, maka kamu bisa melanjutkan perjalanan hingga desa terakhir yaitu Desa Wonokerso. Kalau mau ambil nyaman dan amannya saja maka aku sarankan kamu berhenti di Desa Sukawani saja dan menggunakan jasa ojek untuk sampai di Desa Wonokerso. Kalau ambil ojek di Desa Sukawani, tarifnya adalah 150.000 rupiah untuk pulang pergi ke dan dari P30, sedangkan tarif 100.000 rupiah untuk ambil ojek mulai Desa Wonokerso.


Apabila perjalananmu ingin menggunakan kendaraan umum, Damri adalah pilihan terbaik. Perjalanan dimulai dari Terminal Bungurasih, Kota Surabaya dan berakhir di Rest Area Bromo, Desa Sukapura dengan tarif 50.000 rupiah untuk sekali jalan. Jadwal tersedia di jam 08.00 & 16.00. Informasi ini aku dapatkan dari instagram @damriindonesia..


Sebaiknya kamu sudah janjian terlebih dahulu dengan penyedia jasa ojek untuk minta dijemput dari Rest Area Sukapura. Tarifnya untuk menuju P30 dari Rest Area Sukapura adalah 200.000 rupiah. Kalau butuh kontak salah satu penyedia jasa ojek, bisa hubungi aku. Cara ini juga bisa berlaku untuk kamu yang membawa kendaraan pribadi dan memilih untuk berhenti di Rest Area Sukapura saja.


Titik terakhir yang diperbolehkan untuk mobil dan sepeda motor matic adalah Desa Wonokerso, sedangkan sepeda motor selain matic bisa dibawa naik sampai P30. Kala itu namanya juga baru pertama kali mencoba, aku dengan motor matic-ku memilih berhenti di Desa Sukawani saja.


Pemandangan Selepas Jalan Makadam

Perjalanan dari Desa Sukawani ke P30 kurang lebih 6 km dengan waktu tempuh 1 jam. Selama menempuh perjalanan antar desa, semuanya masih terasa nikmat dan menyenangkan. Aku cukup duduk santai sambil menikmati pemandangan sekitar yang dijamin bisa membuatmu terpukau. Namun, semua rasa itu akan berubah selepas Desa Wonokerso dan mulai naik melalui akses perkebunan. Jalan berubah menjadi batuan/makadam. Mulai sini cukup membuat khawatir. Tapi intinya adalah tetaplah percaya seutuhnya kepada kemampuan menyetir mas ojek. 100% dijamin aman.


Setelah medan makadam selesai, jalan berubah menjadi jalan yang terbuat dari beton dan rasa nyaman & nikmat yang kurasakan diawal kembali muncul. Jalan ini melipir mengitari bukit hingga sampai di P30 yang ada di atas. Pemandangan perkebunan warga yang dibuat miring mengikuti bentuk bukit terus menemani perjalanan. Bonusnya adalah ketika langit cerah, kamu akan bisa melihat gunung yang ada dikejauhan. Entah gunung apa yang disana. Prediksiku adalah Gunung Argopuro.


Apabila kalian berkunjung diantara hari Jumat-Minggu, akan ada penarikan biaya masuk sebesar 15.000 rupiah. Namun, diluar hari-hari itu seperti aku yang berangkat di hari Selasa, tidak ada biaya yang ditarik alias gratis. Setelah melewati 3 pos yang berupa toilet, sampailah aku di sebuah pertigaan. Kalau ke kiri menuju B29, sedangkan ke kanan menuju P30. Akhirnya sampailah aku di pos terakhir dengan lahan parkir yang sangat luas.


Situasi sangat amat sepi. Tidak ada orang lain selain aku dan mas ojek. Sebenarnya di pos terakhir ini ada warung, namun bukanya hanya di hari Sabtu & Minggu/hari dimana sedang ramai-ramainya pengunjung. Perjalananku dilanjut dengan menaiki sedikit anak tangga dengan masih ditemani oleh mas ojek. Selepas anak tangga, tujuanku tercapai sudah. Tulisan P30 dengan latar belakang kaldera Gunung Bromo yang sangat luas terlihat jelas didepan mataku. Tidak ada kabut sama sekali yang menghalangi. Mantab! Tetapi, sayangnya aku diatas sudah terlalu sore dan angin sangat kencang dengan membawa hawa dingin. Aku harus segera mencari kehangatan dari dalam tenda.


Sebelum ditinggal oleh mas ojek, ada pesan yang diberikan kepadaku bahwasanya lokasi ini sakral. Kesakralan ini terbukti dengan adanya petilasan tepat setelah anak tangga selesai. Berdasarkan cerita mas ojek, petilasan ini adalah petilasan Joko Seger, salah satu tokoh yang ada di cerita legenda asal muasal lahirnya Suku Tengger. Lantas hanya ada satu hal yang kutanyakan, yaitu kalau mau buang air kecil langsung ke alam apakah boleh? Karena toilet yang ada dipos dalam kondisi terkunci. Mas ojek bilang boleh saja, tapi lakukan di sisi kiri petilasan saja. Setelah pesan tersampaikan dan janjian waktu di esok hari untuk penjemputan, mas ojek kembali turun. Tinggalah aku sendiri di sana.


Petilasan Joko Seger

Dari tempat aku berdiri menghadap tulisan P30, aku bisa melihat B29 yang berada di sisi kiriku dan Cemoro Lawang di sisi kananku. Hal yang paling istimewa bagiku adalah bisa melihat Gunung Semeru. Ini pertama kalinya aku ke Gunung Bromo dan mendapatkan pemandangan Gunung Semeru dengan jernih. Selama ini hanya bisa melongo melihat foto orang lain. Guratan tubuh Gunung Semeru selalu bisa membuatku terpukau berapa kalipun aku melihatnya.


Tidak bisa berlama-lama menikmati kemegahannya, aku harus segera mendirikan tenda karena tanganku mulai bergetar dengan sendirinya. Akhirnya tenda bisa berdiri dengan upaya yang cukup melelahkan karena aku membangunnya sendirian dengan tantangan berupa angin kencang yang bisa menerbangkan inner dan outer tenda. Untung ada batu yang bisa dijadikan ganjal. Hari mulai memasuki kegelapan. Inilah pertama kalinya aku nenda sendirian. Sendiri didalam sekaligus diluar tenda.


Barang-barang didalam tas aku bongkar, lalu lanjut memasak makan malam. Menuku adalah kebab mentah yang sudah kubeli dari Surabaya. Rencanaku adalah kebab mentah cukup dimasak sebentar, hanya untuk mengeringkan kulitnya saja. Tanpa ribet maksudku. Ternyata setelah kotak makan kubuka, kulit kebab dalam kondisi hancur. Salah besar beli dalam kondisi mentah. Harusnya setengah matang saja biar kulitnya lebih kokoh. Mau tidak mau kebab tetap kupindahkan ke panci untuk dimasak dan kumakan. Matang tidaknya kulit kebab, kukira-kira saja dah.


Perut sudah kenyang, lalu hati ingin mencoba menikmati kegelapan dan kesunyian malam di luar tenda. Hati boleh berkeinginan, tapi fisik bisa berkata beda. Meskipun sudah pakaian 3 lapis, rasa dingin masih terasa. Angin berhembus dengan bebasnya membawa hawa dingin tanpa ada pembatas sama sekali. Tidak peduli dengan bulan yang bersinar terang dan langit yang cerah menampilkan bintang-bintang, aku lebih memilih menghangatkan diri saja didalam tenda. Dinginnya sudah tidak bisa dikompromi! Sinyal Telkomsel yang kupakai berjalan cukup baik. Kadang turun menjadi 3G kadang bisa kembali naik menjadi 4G. Kondisi sinyal yang tidak stabil akhirnya membuatku malas bermain smartphone, lantas aku memilih segera tidur saja dan bangun esok pagi jam 4.


Tenda yang aku punya dan dirikan adalah tenda kapasitas 2 orang. Memang lega untuk ruang geraknya, namun untuk tidur menjadi tidak nyaman karena masih merasakan dingin terutama di kaki dan hidung meskipun sudah memakai sleeping bag. Sebentar-sebentar aku terbangun, lalu mencoba tidur kembali dengan bantuan mendengarkan lantunan suara angin yang berhembus. Merasakan kesunyian malam itu sangat menenangkan. Sayangnya kesunyian itu kadang terpecahkan oleh suara lagu dangdut yang datangnya entah dari mana, antara B29 atau Cemoro Lawang.


Fajar Dari Balik Tenda

Tidak terasa jam 4 pagi sudah tiba dengan kenyataan tidurku tidak lelap. Aku dibangunkan oleh alarm. Aku berdiam diri untuk mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, lalu mencoba keluar dari tenda. Garis berwarna jingga bercampur kuning dan merah menghiasi langit biru dari belakang tendaku yang menghadap ke Gunung Bromo. Gunung Semeru dan Gunung Bromo terlihat sangat jelas. Tidak ada hujan, tidak ada kabut. Sempurna! Tapi lagi-lagi dinginnya keterlaluan. Aku mengurungkan niat bertahan dan menikmati sunrise. Aku segera kembali ke dalam tenda untuk kembali memilih melanjutkan tidur.


Tidak lama aku mendengar suara musik berbunyi keras yang dibawa oleh beberapa pengunjung pengejar fajar. Kesendirianku mulai berakhir seiring fajar menyongsong mengisi hari baru. Begitupula dengan tidurku yang juga semakin lelap seiring hangatnya sang fajar.


Suasana Menjelang Pagi

Alarm yang sudah kuatur sebelumnya di jam 7 akhirnya berbunyi. Kali ini keadaan sudah hangat. Bangunku terasa sangat nikmat. Begitu pintu tenda kubuka, kaldera Gunung Bromo menyambut dengan ceria dan cerah. Luar biasa indah. Amazing! Sebelum beranjak keluar tenda, aku persiapkan sarapan terlebih dahulu yaitu mashed potato dengan rendang. Setelah siap santap, aku keluar tenda mencari tempat untuk menggelar matras, lalu menikmati sarapanku dengan indahnya pemandangan sebagai teman makan. Aku duduk menghadap Gunung Semeru. Mataku masih tidak bisa terlepas darinya. Gunung Bromo yang lebih dekat justru kuacuhkan.


Sarapan selesai dan tiba saatnya menikmati dan mengabadikan suasana pagi ini. Untung saja selama prosesnya, cuaca masih bersahabat. Tidak lama setelah aku selesai dan mulai berkemas, kabut juga mulai turun dengan cepatnya, menutup semua keindahan pemandangan. Ojek menjemputku sesuai waktu yang telah ditentukan. Aku ucapakan sayonara kepada P30, lalu turun.


Ternyata perjalanan turun jauh lebih bikin khawatir dan capek dibandingkan perjalanan naik. Kakiku yang ada dipijakan motor harus menahan badanku agar tidak melorot kedepan. Tidak ada waktu santainya sama sekali. Aku membenar posisi dudukku secara berkala. Upaya makin melelahkan ketika melewati jalan makadam. Rasa khawatir mulai muncul. Namun sekali lagi, percayalah pada kepiawaian mas ojek.


Melihat Bromo dari P30

Akhirnya aku sampai kembali di Desa Sukawani dengan rasa lelah di kaki, terutama di bagian lutut. Aku duduk santai untuk mengambil napas sambil meregangkan kaki terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Kurang lebih 15 menit bersantai sambil ngobrol dengan mas ojek, tiba saatnya aku kembali pulang ke Surabaya. Aku sempatkan mengucapkan terima kasih kepada mas ojek dan pemilik rumah atas bantuan yang telah aku nikmati, keamanan penitipan motor dan keramah tamahan dalam penerimaan tamu, lalu motor matic segera aku gas meninggalkan Desa Sukawani. Bagiku, harga jasa ojek sebesar 150.000 rupiah sangat setimpal dengan panjangannya perjalanan dan jerih payah yang dikeluarkan.


Sekian ceritaku berwisata menuju P30. Tempat ini sangat aku rekomendasikan buat kamu yang ingin camping ceria dan santai. Mau bawa beban seberat apapun, hajar saja karena bisa naik ojek hingga atas. Aku pastinya akan kembali ke sini karena belum mendapatkan indahnya pemandangan lautan awan.


Sudah saatnya kita kembali berwisata lagi. Kita mulai gerakan ekonomi pariwisata lagi. Yang terpenting tetap pakai masker dan jaga jarak sebisa mungkin dan bila perlu lakukan seperti yang kulakukan, yaitu cari waktu ketika hari biasa saja karena dijamin jauh lebih sepi. Sampai jumpa di cerita perjalanan selanjutnya. Ayo ke Jatim Saja!


Salam Nenda!


Rekap Biaya Perjalananku

Bensin Motor PP= 70.000 rupiah

Makan selama nenda= 55.500 rupiah

Ojek dari Desa Sukawani=150.000 rupiah

Total= 275.500