Mengulik Makhluk Sosial



Manusia dengan kodrat sebagai makhluk sosial tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya berhubungan atau berinteraksi dengan manusia lainnya. Selama perjalanannya, untuk bisa membangun hubungan sosial yang kuat dan bertahan lama tentu membutuhkan waktu dan proses. Bisa cepat, bisa sebentar. Bisa panjang, bisa pendek. Harus ditemukan saling kepemahaman satu sama lain. Paham kebiasaan, paham apa yang disukai, paham apa yang tidak disukai, dan masih banyak lagi. Dengan memahami, akan timbul rasa saling menghargai satu sama lain yang merupakan salah satu pondasi hubungan sosial yang baik.


Dengan kemajuan tekhnologi, menjadi makhluk sosial semakin mudah. Sosial media menjadi pemberi jawaban terbaik. Kita bisa berinteraksi dengan siapapun bahkan dengan orang yang kita sendiri tidak tahu wajah aslinya, dan tidak tahu asal usulnya. Selain itu, kita juga dimudahkan untuk memberi label diri dengan sebutan manusia banyak teman atau manusia yang gaul. Tetapi jika diperhatikan lebih teliti, kemudahan itu masih harus melalui banyak proses penyaringan lebih lanjut. Kembali ke diri kita sendiri sebagai penyaring terbaiknya. Pernahkah kalian menetapkan definisi teman itu seperti apa? Apakah teman memiliki arti yang berbeda dengan sahabat? Apakah mereka yang ada hanya ketika kamu senang masih bisa dikatakan teman? Apakah teman itu sebatas mereka yang menjadi teman curhat dan bisa menyimpan rahasia hidupmu? Apakah teman itu mereka yang mengakui eksistensimu dimedia sosial? Apakah kamu sudah mengenal temanmu dengan baik? Apakah temanmu sudah mengenalmu sudah baik?


Aku pribadi memiliki pedoman bahwa teman dan sahabat itu berbeda. Sahabat adalah mereka yang mengerti aku dan aku mengerti mereka. Mereka yang tidak beradu ego dengan aku. Mereka yang mau terbuka dengan aku untuk membangun satu sama lain. Aku akui memang susah untuk bisa membaca karakter manusia yang berarti susah juga untuk menentukan manusia ini layak dianggap teman, sahabat atau bukan kedua-duanya. Namun, aku ada pengalaman yang bisa aku bagi kepada kalian semua agar bisa mudah mengeluarkan sifat asli manusia.


Apa yang kuceritakan ini berdasarkan pengalaman selama aku naik gunung berkali-kali dengan manusia yang berganti-ganti. Kenapa naik gunung lagi? Jelas alasannya karena gunung itu guru. Naik gunung pasti ada usaha yang dikeluarkan. Ada keringat yang menetes. Ada perjuangan diri sendiri menahan rasa lelah. Dari rasa lelah ini, manusia akan mengalami pergulatan dengan dirinya sendiri. Manusia akan mulai ditarik keluar dari zona nyamannya. Ini adalah titik persimpangannya. Manusia bisa memilih untuk tetap mendahulukan egonya dan tetap berdiam diri dalam zona nyamannya atau bisa memilih menurunkan ego dan keluar dari zona nyamannya. Kita sudah bisa mengetahu karakter manusia dari keputusan yang dia buat.


Contoh nyatanya adalah ketika berjalan dalam barisan, dalam kondisi yang lelah, orang terdepan akan bisa dibaca karakternya. Orang itu memiliki dua pilihan, dia bisa saja berjalan terus karena tenaganya masih banyak tanpa memperdulikan orang dibelakangnya sudah tertinggal jauh atau tidak. Atau dia bisa memilih untuk tetap menoleh ke belakang, memperlambat tempo berjalan dengan maksud menjaga jarak agar tetap dekat dengan orang dibelakangnya dan agar barisan tidak terputus. Kerja sama timnya, egonya bisa terbaca dari keputusan yang dia buat.


Contoh lainnya adalah ketika sudah berkemah. Kondisi badan capai semua. Merebahkan badan pasti terasa sangat enak. Namun, kondisi dalam satu kelompok belum makan dan lapar. Manusia yang mendapatkan tugas memasak memiliki 2 pilihan. Dia bisa memilih ikut merebahkan badan seperti anggota tim lainnya tanpa memperdulikan rasa lapar yang dialami orang lain. Atau dia bisa memilih mengorbankan waktu istirahatnya untuk memasak demi kepentingan orang banyak. Sama seperti contoh sebelumnya, kerja sama tim dan egonya bisa terbaca dari keputusan yang dia buat.


Kesimpulan yang bisa aku katakan adalah manusia itu akan mengeluarkan jati dirinya salah satunya adalah ketika dirinya ditarik keluar dari zona nyamannya. Yang perlu diingat juga, manusia itu bisa berubah. Bukan berarti apabila manusia itu mengeluarkan jati dirinya yang buruk, berarti tidak bisa dianggap sebagai teman. Alangkah baiknya apabila manusia bisa menolong manusia yang lain menjadi lebih baik. 


Salam Belajar dari Alam 

0 tampilan