Kembali Merasakan Suasana Zaman Megalitikum-Kampung Bena

Rangkaian perjalanan Overland Floresku berlanjut menuju sebuah kampung adat di kaki Gunung Inerie. Kampung adat tersebut bernama Kampung Bena. Berdasarkan informasi yang kudapatkan di sana, penggunaan nama Bena berasal dari nama seseorang yang paling tua diantara saudara-saudaranya ketika awal pendirian kampung ini.


Sepanjang mata memandang, suasana kampung Bena sepi dan tenang. Tidak ada keramaian kegiatan warga. Jauh berbeda dengan suasana Desa Wae Rebo yang pernah kukunjungi sebelumnya. Selain itu, kampung ini juga berdiri di lahan kering minim tumbuhan hijau yang bagiku pribadi menimbulkan kesan kurang asri, namun kesan megalitikumnya sangat menonjol.


Kerajinan Penduduk Kampung Bena

Titik awal kedatangan berada di lahan yang lebih tinggi dibandingkan perumahan penduduk. Aku turun sedikit lalu menjumpai loket masuk. Biaya masuk untuk wisatawan lokal sebesar Rp 20.000,- per orang. Setelah menyelesaikan pembayaran, aku diberi sebuah kain tenun kecil yang harus dikenakan selama mengitari wilayah kampung. Sebelum memulai eksplorasi, aku sempatkan terlebih dahulu untuk membaca papan informasi yang menceritakan banyak hal mengenai kampung Bena, seperti filosofi bentuk rumah, motif tenun yang dibuat, dll. Menurutku pribadi kampung ini memiliki keunikan utama yaitu memiliki susunan lahan yang bertingkat.


Jalan-jalan aku mulai. Baru sedikit melangkah aku sudah bisa melihat banyak kain tenun dipajang di depan rumah penduduk. Ada kain yang berukuran kecil seperti ikat kepala yang aku pakai. Ada pula kain yang berukuran lebar. Dibalik kain-kain itu aku melihat ada beberapa ibu rumah tangga baik yang berumur tua maupun muda sedang menenun kain menggunakan peralatan tradisional. Kain yang dipajang semuanya dijual dengan kisaran harga mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Menenun menjadi salah satu pekerjaan wanita di Kampung Bena.


Tidak hanya wanita, aku juga melihat lelaki yang sudah berumur sedang asik bekerja membuat mangkok dari batok kelapa. Beliau mengatakan bahwa dirinya juga membuat aksesoris seperti kalung dari tulang hewan. Semua hasil karyanya akan dijual kepada wisatawan yang datang ke sini.


Kalau melihat ke sisi tengah kampung, aku disuguhi dengan bentuk bangunan adat yang unik. Bangunan adat ini memiliki 2 bentuk yang berbeda. Bentuk bangunan yang menyerupai payung disebut Ngadhu yang menjadi simbol laki-laki. Sedangkan bangunan yang menyerupai rumah kecil disebut Bhaga yang menjadi simbol perempuan.


Susunan Ngadhu dan Bhaga

Naik ke lahan yang lebih tinggi, namun tetap pada sisi tengah kampung, terdapat tanah lapang yang memiliki susunan bebatuan tertentu dengan fungsi dan arti tersendiri. Melihat bebatuan ini, seketika aku merasa benar-benar seperti kembali ke zaman megalitikum.


Aku terus berjalan naik hingga sampai pada lahan tertinggi di desa ini. Terdapat sebuah Goa Bunda Maria dan pendopo. Begitu melihat goa ini, aku langsung sadar bahwasanya lahan Kampung Bena dibuat bertingkat dengan maksud sebagai perwujudan tingkat kehidupan dan spiritualitas manusia. Semakin tinggi lahan maka semakin tinggi pula nilai kehidupan dan nilai spiritualnya. Selain itu, keberadaan Goa Maria ini juga menjadi tanda bahwasanya penduduk Kampung Bena memeluk agama Katolik.


Selesai dari Goa Maria, aku ingin beristirahat di gasebo yang berada tepat dibelakang goa. Luar biasa indah! Dari gasebo ini, aku bisa melihat Gunung Inerie hingga puncaknya secara jelas. Kalau aku membalikan badan, keseluruhan bentuk Kampung Bena terlihat sangat jelas. Aku menghabiskan waktu cukup lama untuk menikmati semua keindahan ini.


Pemandangan Kampung Bena

Setelah mata, hati, dan pikiran terpuaskan, aku mulai berjalan turun menyusuri sisi kampung yang berbeda dengan rute aku naik. Aku lihat seorang anak kecil yang bahagia hanya dengan mainan plastik di tangannya. Anak itu berada disebelah ibunya yang sedang menenun. Tidak ada teknologi yang masuk di sini. Melihat anak itu membuatku kembali berfikir bahagia itu sederhana, sama seperti ketika menikmati suasa Desa Wae Rebo. Sentilan penutup bagiku selama perjalanan overland Flores. Ketika pulang, aku harus bisa bahagia dari hal yang sederhana!


Tidak banyak lagi yang bisa dilihat hingga pada akhirnya aku sampai di ujung perjalanan. Aku bertemu kembali dengan loket. Di sini pengunjung wajib mengembalikan kain yang diberikan diawal dan mengisi buku tamu. Ketika aku memberikan kain tersebut, lantas mereka mengucapkan sebuah kata, yaitu "Timoti Woso" yang berarti terima kasih banyak dalam bahas daerah Flores. Kata ini kucatat sebagai perbendaharaan baru pribadiku yang bisa kupakai dalam pergaulan di kota.


Sekian cerita perjalananku mengunjungi Kampung Bena. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa diri kalian merasa berlibur bersamaku. Satu pertanyaan yang muncul ketika aku menulis artikel ini. Kenapa namanya kampung? bukan desa? Mungkin aku harus kembali ke Flores untuk menemukan jawabannya.


Salam Cintai Desa Adat.

17 tampilan