Hikayat Menebar Kebaikan

Kebaikan apa yang sudah aku lakukan hari ini ya?

Pertanyaan inilah yang sering menghantui manusia ketika dihampiri oleh keadaan diam dan merenung. Sadar atau tidak, jawabannya adalah kita sudah melakukan kebaikan itu setiap hari. Bagaimana bisa begitu? Inilah opini pribadiku mengenai makna menebar kebaikan.


Free to Use Photo by Smahel From Pixabay

Kebaikan memiliki berbagai bentuk. Menebar kebaikan bukan berarti harus berbagi sesuatu yang berwujud. Berbagi yang tidak berwujud seperti pengalaman juga sudah termasuk dalam membagi kebaikan karena pengalaman kita bisa menjadi inspirasi atau rambu-rambu bagi orang lain yang belum pernah mengalami hal tersebut.


Kebaikan bersifat relatif. Contohnya adalah berbagi kebaikan berupa air mineral. Seandainya kita bagikan kepada mereka yang hidup di kota, mungkin dianggap hal yang biasa saja karena air mineral sangat mudah didapatkan. Namun, apabila diberikan kepada mereka yang susah mendapatkan akses air minum bersih, pemberian air mineral tersebut akan menjadi suatu kebaikan yang sangat besar nilainya.


Salah satu contoh ceritaku mendapatkan kebaikan adalah sebagai berikut:

Keinginanku menekuni sebagai blogger bertentangan dengan keinginan orang tua. Sempat aku beradu argumen dengan orang tuaku. Kami sama-sama keras kepala sehingga tidak menemukan titik temunya. Aku memutuskan tetap menjalankan meskipun tanpa restu orang tua.


Suatu saat, aku berkesempatan bertemu dengan teman kuliahku dan menceritakan permasalahan ini. Ternyata, dia juga pernah mengalami hal yang sama. Dia pernah beradu argumen dengan orang tuanya mengenai pengembangan usaha. Tidak ada titik tengah yang dicapai, akhirnya dia memilih meninggalkan tempat tinggalnya dan mencoba membangun usahanya sendiri. Dalam perjalanannya, temanku ini menemukan berbagai hambatan hingga sampailah pada titik dimana dirinya tersadar bahwa hambatan tersebut bisa saja muncul akibat tidak mendapatkan restu orang tua. Pada akhirnya, dia memutuskan berbicara kembali kepada orang tuanya dengan lebih tenang dan pengertian. Hasilnya adalah restu dia dapatkan.

Dari pengalaman inilah dia berbagi dan menasehatiku bahwasanya restu orang tua itu sangat penting dan berpengaruh. Semua perbedaan pendapat bisa dibicarakan dan dicari titik temunya. Kita yang harus pintar mencari tahu kapan dan caranya bagaimana. Bagiku pengalaman yang dia bagikan ini adalah suatu bentuk kebaikan besar yang menjadi pengingat supaya tidak mengalami hal pahit yang sama dengannya. Sejak saat itu, aku memikirkan strategi terbaik untuk mengkomunikasikan kembali kepada orang tuaku agar mendapatkan restu.


Sadarkah kalian bahwa sekarang banyak manusia yang memanfaatkan sesama manusia yang sedang membutuhkan bantuan untuk dijadikan objek sosial dengan tidak semestinya. Bisa dikatakan tindakan berbagi kebaikannya didasarkan akan suatu pamrih. Contohnya adalah banyak mereka yang berbagi zakat atas nama diri sendiri dengan sengaja mengambil foto kegiatan dengan tujuan mendapatkan peningkatan reputasi sosial melalui unggahan kedalam media sosial. Jangan sampai, kebaikan tersebut diterima oleh manusia, namun nilai amalnya ditolak oleh Tuhan. Sungguh sangat disayangkan apabila itu yang terjadi.


Berdasarkan penilaian pribadiku, fenomena ini muncul akibat kita lupa untuk menebar kebaikan kepada dirinya sendiri. Seharusnya kita harus bisa berbuat kebaikan kepada diri sendiri terlebih dahulu baru setelah itu menebar kebaikan yang kita rasakan kepada orang lain. Jangan lupa, badan kita sendiri ini juga ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak berbeda dengan badan orang lain.


Oleh karena itu, solusi pribadi atas fenomena tersebut adalah memastikan terlebih dahulu dirinya sendiri sudah tercukupi akan kebaikan secara utuh baru setelah itu bisa menebarkan kepada sosial agar ketika menebarkan benar-benar didasarkan atas nilai ketulusan, tanpa mengharapkan pamrih seperti reputasi sosial. Biarlah Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan pembalasan semua kebaikan berbagi yang kita lakukan.


Sekarang coba refleksikan opiniku terhadap hidup kalian masing-masing. Tidak mungkin sehari kalian tidak melakukan kebaikan. Mungkin tidak kepada sosialmu, melainkan kepada diri sendiri. Mungkin yang sudah kalian lakukan adalah kebaikan tak berwujud seperti berbagi pengalaman. Jadi, benar adanya apabila kebaikan sudah kita lakukan setiap hari.


Yuk terus tingkatkan kesadaran menebar kebaikan kita! Jangan lupa harus didasari ketulusan tanpa pamrih ya agar amal ibadahnya diterima oleh Tuhan.


Sekian opiniku dan cerita pengalamanku mengenai kisah menebar kebaikan. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi hidup kalian semua. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa"



37 tampilan