Hidup Menyerang atau Bertahan

Semua makhluk hidup pasti memiliki insting dasar untuk memberikan respon terhadap segala sesuatu yang menyerang dirinya. Respon tersebut bisa balik menyerang atau justru menguatkan pertahanan. Manusia dengan anugerah akal budinya memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan terbaik. Contohnya ketika manusia dalam situasi berperang. Ada yang namanya taktik menyerang dan ada juga taktik bertahan. Manusia bisa memanfaatkan akal budinya untuk menentukan pilihan terbaik dengan mempertimbangkan berbagai faktor.


Sama halnya dalam menjalani hidup. Masa hidup manusia bisa diilustrasikan sebagai suatu peperangan. Berperang melawan siapa? Jawabannya banyak. Berperang melawan pemenuhan kebutuhan, berperang melawan modernisasi, berperang melawan tuntutan pekerjaan, dsb. Oleh karena itu, manusia sebenarnya memiliki 2 pilihan cara dalam menyikapi hidup yaitu mau hidup menyerang atau mau hidup bertahan. Pada artikel ini aku akan membahas khusus hidup manusia yang berperang melawan pemenuhan kebutuhan saja. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan non-fisik.



Menyerang berarti manusia tidak pernah berpikir untuk mengecilkan kebutuhannya. Prinsip sikap hidup menyerang adalah membuat murah kebutuhannya dengan mencari pendapatan yang lebih tinggi. Bagiku sikap hidup ini adalah sikap hidup di dalam lingkaran setan karena kebutuhan hidupnya dibiarkan terus bertambah. Jadi, antara kebutuhan dan pendapatan akan terus berlomba-lomba untuk menjadi lebih tinggi. Semakin banyak dan lengkap kebutuhannya maka akan semakin bermakna hidupnya.


Sedangkan bertahan berati manusia berusaha mengecilkan kebutuhannya. Prinsip sikap hidup bertahan adalah membeli yang benar-benar dibutuhkan saja sesuai dengan pendapatannya. Bahasa lebih terkenalnya adalah hidup minimalis. Bagiku sikap hidup ini adalah sikap hidup terbaik karena manusia akan bisa memaknai segala sesuatu yang ada di hidupnya sekarang secara lebih mendalam.


Banyak manusia tidak sadar akan keberadaan pilihan sikap hidup bertahan. Menurutku pribadi karena manusia sudah terjebak dan dibutakan oleh arus urban yang didalamnya menuntut pemenuhan kebutuhan tiada henti dengan dalih mengejar kemajuan dan kenaikan derajat sosial. Semakin tinggi derajat sosial yang didapat, maka banyak juga respond sosial yang didapat. Manusia urban kebanyakan mencari respon sosial sebanyak-banyaknya karena pada dasarnya manusia senang kalau merasa dibutuhkan dan keberadaannya diakui.


Aku hidup dalam keluarga yang bersikap hidup menyerang. Aku menyaksikan sendiri efek buruk dari sikap hidup ini. Bagaimana kebutuhan dibiarkan terus berkembang sampai membuat hidup jatuh lalu harus kembali bangun meningkatkan pendapatan demi pemenuhan kebutuhan tersebut. Apa yang terjadi pada kehidupanku ini bisa dikatakan juga bodoh karena tidak tahu kemampuan diri sendiri. Sesuatu yang tidak bisa digapai dipaksakan untuk digapai dengan cara apapun. Jadi, mulai sekarang aku sedang membangun pondasi sikap hidup bertahan yang akan menjadi modal masa hidupku mendatang.


Kebutuhan akan aku perkecil. Memperkecil kebutuhan bukan berarti menolak arus modernisasi. Memperkecil di sini lebih tepatnya adalah tidak mengejar kemewahan kebutuhan tersier secara berlebih. Selain itu, juga memberdayakan apa yang dipunya sekarang untuk membangun tembok pertahanan yang lebih baik.


Contoh situasi hidup yang bisa memberikan gambaran lebih jelas adalah ketka manusia sudah dituntut untuk memiliki rumah. Rumah merupakan kebutuhan primer dan simbol kemapanan.


Kalau memilih sikap hidup menyerang, maka manusia akan berusaha mempunyai rumah dengan cara mengontrak tanah dan bangunannya secara tahunan. Harapannya sambil berjalannya waktu/sambil terus menjalani peperangan, pendapatannya akan ikut bertambah sehingga suatu hari nanti mampu mempunyai rumah dengan cara membeli.


Sedangkan sikap hidup bertahan adalah membeli rumah dan menyewa tanahnya karena sebenarnya yang mahal itu adalah tanahnya. Jadi, biaya hidupnya akan berkurang. Tidak lupa kebutuhan hidupnya diperkecil juga agar rumah kecil tersebut menjadi rumah yang nyaman. Dikarenakan tanahnya menyewa dan ada resiko harus berpindah maka rumahnya dibuat non-permanen.


Sikap hidup bertahan sudah dimulai di luar negeri, contohnya di Australia melalui gerakan tiny house living. Moto gerakan ini adalah rumah kecil hidup besar yang artinya hidup dalam rumah yang kecil dengan kebutuhan yang dikecilkan juga, tetapi tetap bisa hidup besar mengikuti perkembangan zaman dan berinteraksi terhadap alam dan sesama. Para perlakunya seringnya merasakan dampak positif dari sikap hidup ini, salah satunya adalah bisa menabung lebih baik. Pendapatannya tidak habis untuk memenuhi kebutuhan yang tidak ada habisnya.

Inilah opiniku mengenai sikap menjalani hidup. Semoga artikel ini bisa membuka pikiran dan berguna bagi kalian. Sampai jumpa di artikel berikutnya.



8 tampilan