Gunung Semeru Guru Terbaik-Bagian 2

Matahari pagi mulai menyapa. Tantangan dingin mulai dihapuskan dari pendakian ini. Ayu dan Ncus sudah tidak terlihat lagi, suaranya pun sudah tidak terdengar sedikitpun. Ujung pendakian mulai terlihat. Aku berkomunikasi dengan diriku kembali "Ayo tinggal sedikit lagi! Pasti bisa." Kata-kata "pasti bisa" sudah kukatakan berkali-kali kepada diriku. Pasti bisa karena kamu sudah melalui Puncak Rinjani. Puncak yang inipun pasti kamu bisa. Langkah kulanjutnya menuju ujung itu. Nyatanya, itu masih belum puncak. Masih ada sedikit perjalanan lagi yang harus ditempuh dengan tetap menukik ke atas. Benar-benar jatuh mentalku saat itu. Seperti menaruh harapan tapi dihancurkan. Sakit dan kecewa.


Aku duduk terdiam cukup lama. Menikmati makanan ringan yang tersisa sedikit sambil memperhatikan sekitar. Para pendaki yang turun mulai banyak. Pendaki yang berjaket merah sudah berada di dekatku. Melihatnya kembali membuatku teringat patokan yang kubuat. Aku tidak boleh kalah dengan patokanku. Dengan sisa tenaga dan kekuatan mental seadanya aku lanjutkan pendakian yang sudah sedikit lagi.


Ada naikan sedikit berbentuk anak tangga. Setelah itu, inilah yang kunantikan. Aku sampai di Puncak Semeru! Aku teruskan perjalanan ke tengah dengan trekking pole yang kutarik malas. Dari tengah kulihat Ayu dan Ncus yang sudah duduk dengan rombongan open trip lainnya. Mereka memanggilku. Aku langsung menangis. Aku menangis terharu kepada diriku sendiri. Aku bisa melewati proses muncak yang jauh lebih sukar dibandingkan Rinjani seorang diri. Seorang diri yang membuat mentalku kalah. Begitu aku duduk, aku ditawari tabung oksigen. Kupakai tanpa berpikir panjang. Sambil menghirup oksigen, mataku menjelajah. Senangnya bisa kembali ke negeri di atas awan. Ayu dan Ncus mengira aku turun kembali ke tenda. Mereka sebenarnya sudah tidak mengira bahwa aku akan muncul. Mereka jujur berkata kaget kala itu.


Kami mengantri berfoto dengan bendera Merah Putih yang ada ditengah-tengah dengan tulisan Semeru 3676 mdpl. Selain melihat gugusan awan, kami juga menikmati kawah Semeru yang masih aktif yang setiap beberapa waktu mengeluarkan asap belerangnya.



Sebelum jam 10 siang kami harus turun mengikuti aturan yang berlaku. Waktu turunpun fokus harus tetap dijaga karena potensi batu longsor masih ada. Sampai dibawah sekitar jam 12 siang dengan kondisi kaki yang lemas. Gaiter dilepas setelah itu langsung kami semua mencari alas untuk rebahan sambil meluruskan kaki dan menunggu makan siang tersaji. Aku sampai di puncak jam 9. Jadi, kalau ditotal aku menempuh puncak selama 9 jam perjalanan. Normalnya adalah 6-7 jam. Terlalu lama menurutku. Aku harus melakukan perubahan.



Aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Gunung Semeru. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat. Yang paling utama adalah kekuatan mental yang baik adalah yang bersumber dari rekan perjalanan. Sungguh penyiksaan kalau jalan sendiri. Mental kalah, otomatis fisik akan ikut kalah. Tetapi kalau mental kuat, fisik masih bisa berusaha. Sama halnya dengan pertandingan olahraga. Mental harus menang dulu sebelum bertanding. Mental adalah segalanya. Pelajaran ini juga bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari. Sampai berjumpa di artikel berikutnya.


Salam Gunung itu Guru.