Gunung Semeru Guru Terbaik-Bagian 1

Setelah perjalanan pendakianku ke Gunung Rinjani, rasa ingin kembali mendaki terus menghantui. Setelah beberapa bulan, aku putuskan bersama dengan Ncus dan Ayu untuk kembali mendaki yaitu Gunung Semeru dengan mengikuti open trip yang sama dengan sebelumnya. Bertemu dengan gunung yang kudambakan selama ini karena teracuni oleh film 5 cm.


Tidak hanya disambut oleh Semeru, tetapi aku juga mendapatkan pendidikan terbaik yang pernah kualami selama memuncak. Cerita kumulai dengan posisi sudah berkemah di Kalimati. Dari Kalimati, puncak Semeru sudah bisa terlihat sangat gagah seakan menantang siapapun yang berani melangkahkan kakinya di sana. Perasaan dalam diri semakin tidak sabar menjawab tantangan tersebut. Setelah makan malam, kami bertiga bergegas untuk beristirahat mempersiapkan fisik. Berbeda dengan perjalan Rinjani di cerita sebelumnya, untuk mencapai Kalimati tidak menguras energi. Jadi, letih dibadan tidak sebesar sewaktu selesai melewati Bukti Penyesalan Rinjani.



Jam 12 kami bangun dan bersiap melakukan pendakian. Tidak lupa mengisi perut terlebih dahulu dengan sesuatu yang manis sebagai sumber energi. Menu kala itu adalah bubur kacang ijo yang diberi gula merah. Sumber energi terbaik menurutku.


Pendakian melalui jalur edelweiss. Medan berbentuk seperti anak tangga. Anak tangga yang bisa aku kategorikan tinggi. Kaki menjadi harus melangkah lebar. Secara mental, kami terbantu karena malam membuat kami tidak bisa melihat ujung anak tangga ini selesai. Dijalani sedikit demi sedikit. Ketika awal perjalanan rombongan masih tersusun secara rapi seperti ular. Begitu memasuki setengah jam pertama, rombongan mulai terpecah. Aku, Ncus, dan Ayu tetap bersatu. Satu berhenti yang lain ikut berhenti, itulah prinsip kami. Sama seperti di Rinjani, dari kami bertiga, fisiku yang selalu butuh istirahat terlebih dahulu. Istirahat yang kami ambil berkali-kali. Sampai pada akhirnya kami menginjak medan yang berbeda. Saat itu kami sudah mencapai Cemoro Tunggal/Kelik. Aku pribadi tidak sadar akan hal tersebut. Baru pertama kali ke puncak Semeru jadi tidak tahu medan. Disebelah kanan terdapat batang kayu. Kami bertiga sempatkan beristirahat kembali sebelum menghadapi kenyataan maju 1 langkah mundur 2 langkah. Ya benar sekali, medan di depan kami adalah pasir semuanya.



Fisiku membutuhkan istirahat yang lebih lama. Akhirnya aku ambil keputusan yang sama ketika di Rinjani. Aku mengatakan kepada Ayu dan Ncus untuk berjalan dahulu. Namun, tidak lama setelah mereka berjalan, aku mulai berjalan juga. Dipikiranku, tidak mau kuberjalan sendiri lagi seperti di Rinjani. Aku masih bisa melihat mereka berdua di depan. Tidak hanya mengatur langkah, pendakian puncak Semeru membutuhkan fokus yang sangat tinggi. Pendengaran dan penglihatan harus terus siaga karena sewaktu-waktu sesama pendaki bisa berteriak memperingatkan ada batu longsor meluncur ke bawah. Pijakan kaki harus diatur supaya tidak menyebabkan batu longsor. Nyawa menjadi taruhan di sini. Nyawa kita sendiri dan juga bisa-bisa kita menjadi penyebab hilangnya nyawa orang lain.


Makin lama Ncus dan Ayu makin tidak terlihat sejauh aku memandang. Hanya suara mereka yang memanggil namaku yang kukenali. Lagi-lagi aku menjadi berjalan sendiri. Tapi kali ini jauh lebih berat karena jalur menukik tajam ke atas. Sedikit-sedikit aku berhenti istirahat. Mentalku sudah kalah duluan. Aku berusaha berbicara dengan diriku sendiri "ayo gerak, ayo gerak." Akhirnya kuputuskan melihat sesama pendaki yang sama-sama tidak kuat. Ada 1 pendaki laki-laki memakai jaket merah. Pendaki itu aku jadikan patokan. Pokoknya aku harus bisa lebih dari dia. Minimal berada disebelahnya. Dinginnya suasana kala itu menjadi nilai tambah beratnya tantangan. Langkah-demi langkah aku jalani seorang diri. Sesekali aku kehilangan pendaki berbaju merah itu. Aku memposisikan diri berlomba dengan dia. Sampai pada akhirnya kulihat dia sudah terlewat jauh dibawahku.  Aku lumayan berbangga pada diri sendiri kala itu.


Berlanjut ke Bagian 2

6 tampilan