Tetap Megah Meskipun Pernah Meletus-Gunung Kelud

Masih dalam rangka berlibur di Kota Kediri, pastinya tidak lupa aku menetapkan satu tujuan dengan tema bermain ke alam. Pilihanku jatuh kepada wisata Gunung Kelud. Kunjungan ini sekaligus mencatat nama gunung baru yang kulalui dalam jurnal hidupku.


Kediri Lagi

Perjalanan berangkat aku mulai dari hotel jam 9 pagi pada hari Senin. Tidak lupa sebelum memulai perjalanan ke arah Gunung Kelud, aku bersama dua temanku semasa SMA mencari sarapan terlebih dahulu. Hari itu kami sarapan nasi gurih, salah satu makanan khas Kediri yang dijamin mantab rasanya. Setelah berhasil mencapai kondisi dimana perut kenyang, perjalanan langsung kami arahkan menuju Gunung Kelud tanpa mampir-mampir kesana kemari lagi. Sekitar kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai di gerbang kawasan wisata Gunung Kelud. Gerbang ini menjadi tempat penyelesaian administrasi sebelum masuk ke kawasan wisata. Total uang yang kami bayarkan sebesar 29.000 rupiah, terdiri dari 24.000 rupiah biaya tiket masuk 3 orang dan 5.000 rupiah biaya tiket masuk satu mobil beserta retribusinya.


Dari gerbang tadi menuju lokasi parkir wisata Gunung Kelud masih cukup jauh, kurang lebih harus menempuh setengah jam perjalanan lagi. Tetapi, sebelum ke sana ada beberapa objek wisata lainnya yang masih tergabung dalam satu kawasan yang sama yang bisa dikunjungi terlebih dahulu, seperti area bermain flying fox, kampung duiran, dan taman agro Margomulyo yang terkenal dengan bunga mataharinya. Kami memutuskan untuk mengunjungi wisata agrowisata saja dengan harapan bisa melihat bunga matahari, bunga yang tidak pernah kami sebagai orang kota lihat.


Pertama, wisata yang kami lewati adalah area flying fox. Kami tidak bisa melihat apa-apa karena masih harus jalan lebih masuk dari jalan utama. Perjalanan terus kami lanjutkan dan tak lama kami melihat wisata kampung durian. Nampak sepi sekali. Tidak ada orang sedikitpun dan hanya satu warung yang beroperasi. Jujur, apa yang kami lihat waktu itu benar-benar berbeda dengan apa yang digambarkan dan diceritakan oleh kebanyakan orang di internet. Kami bertiga berpikir, mungkin saja karena hari ini adalah hari Senin, hari dimana kebanyakan orang sedang bekerja. Jadi, pantas saja kalau tempat wisata sepi pengunjung. Karena sepi pengunjung, warung yang beroperasional juga menjadi tidak banyak.


Akhirnya kami tiba di tujuan pertama kami yaitu kawasan taman agro Margomulyo. Tiket masuk ke dalam kawasan murah sekali hanya 5.000 rupiah per orang. Awal masuk kumpulan tanaman hias dengan berbagai warna dan jenis langsung menyambut. Kami tidak banyak berhenti untuk berfoto karena tujuan kami memang ingin langsung melihat bunga matahari saja. Kami temukan satu petak berisikan bunga matahari yang sudah menghitam dan layu. Kami masih berharap bisa menemukan petak lainnya yang berisikan bunga yang masih segar. Kami terus berjalan hingga sampai di ujung kawasan. Tidak ada petak bunga matahari lainnya. Jadi, hanya satu petak itu saja yang berisikan bunga matahari. Kami cukup kecewa menyadari hal ini. Harapan awal kami menjadi tidak terpenuhi. Tidak ada bunga matahari cantik yang bisa kami abadikan. Lagi-lagi berbeda dengan apa yang kami lihat di internet. Apakah mungkin kami datang pada waktu yang tidak tepat? Tetapi, untung saja cantik tanaman hias lainnya yang berada di kawasan ini bisa mengobati rasa kecewa ini. Kami sempatkan mengambil dokumentasi seadanya. Tak lama bermain-main, perjalanan naik kami lanjutkan kembali.



Tibalah kami di lokasi terakhir perjalanan menggunakan mobil. Setelah ini, perjalanan menuju kawah Kelud harus dilanjutkan dengan menyewa sepeda motor atau berjalan kaki. Tentunya kami bertiga memilih menyewa sepeda motor saja seharga 50.000 rupiah untuk perjalanan berangkat dan pulang, bukan dengan berjalan kaki dibawah terik panas matahari siang karena perjalanan menuju kawah masih sangat jauh dengan jalan yang naik turun dan terbuat dari aspal yang pastinya akan memantulkan panas matahari. Aku pribadi sudah punya pengalaman pahit berjalan diaspal pada siang hari yang terik. Pengurusan ojek motor di sini sudah dilakukan dengan baik. Uang sewa dibayarkan kepada satu orang sebagai pengurus, bukan kepada masing-masing pemilik ojek motor. Jadi, tidak mungkin ada pungutan liar atau penetapan harga diatas 50.000 rupiah.



Perjalanan menuju kawah kami mulai dengan 3 sepeda motor. Jalan dengan kontur naik turun membuat kesan seru sekaligus menantang karena motor harus menambah laju kecepatan sebelum menaiki jalan yang naik dan motor harus bisa dikontrol ketika meluncur di jalan yang turun. Angin menerpa muka dengan kencang dan adrenalin ikut naik. Pastikan tidak ada barang bawaan yang terbang ya. Kami mengikuti instruksi pengurus ojek untuk tidak berhenti terlebih dahulu pada rute berangkat ini. Kalau mau berhenti ambil foto nanti saja sewaktu rute pulang. Sebelum sampai di kawah, perjalanan memberikan tambahan sensasi seru tersendiri dengan melewati terowongan yang gelap total. Pencahayaan hanya berasal dari lampu sepeda motor. Setelah melewati terowongan itu, kami sampai di kawah Gunung Kelud.


Posisi kami di atas, sedangkan kawah jauh di bawah. Tidak ada pengunjung yang boleh mendekati kawah. Hanya sebatas area di atas ini saja yang diperbolehkan. Areanya sangat luas dan tetap bisa membuat kalian merasa leluasa untuk berpose mengambil foto.


Penampakan di depan mata sungguh luar biasa megah kalau aku bilang. Aku merasa seakan berada di tengah-tengah perut gunung karena posisi aku berdiri dikelilingi oleh punggung gunung. Kawah berwarna kuning kehijauan nampak kecil karena dilihat dari kejauhan. Kemegahan ini semakin lengkap dengan adanya potongan tubuh puncak Kelud yang sangat dekat dengan posisi kami dan terlihat sangat besar dengan bentuk yang runcing. Selesai mengambil foto dengan pemandangan kawah, kami bertiga mulai mencari jalan mendekati potongan tubuh puncak Kelud tadi. Benar-benar seperti merasa tertantang untuk melihat lebih dekat. Sesampai di dekatnya, sontak aku merasa kecil sekali. Terbukti sudah kemegahannya karena ukurannya yang sangat besar dan bentuk kulitnya yang tersusun dari batu membentuk estetika tersendiri yang cantik khas guratan tangan alam.


Cukup lama kami bermain-main di kawasan utama wisata Gunung Kelud ini, saatnya kami mengakhiri perjalanan. Kami kembali mendekati pos pangkalan ojek dan memberikan tiket yang sudah diberikan diawal. Kali ini kami sempatkan untuk berhenti di tengah-tengah jalan. Abang ojek yang memilihkan lokasi terbaik untuk mengambil foto.



Ternyata luar biasa indahnya meskipun hanya jalan. Bentuknya yang naik turun dan berkelok kalau diambil dari ketinggian sangatlah bagus. Kami tidak lama mengambil foto karena sangat panas. Akhirnya kami sampai kembali di parkiran mobil dan perjalanan berakhir. Namun, sebelum berkendara pulang, aku sempatkan mencoba nanas madu yang menjadi hasil bumi daerah sekitar ini. Makan nanas manis setelah merasakan panas sinar matahari benar-benar menyegarkan kembali badan dan pikiran. Modal segar untuk kembali pulang.



Itulah cerita perjalananku bermain bersama alam Kota Kediri, tepatnya di Gunung Kelud. Sebenarnya wisata Puncak Keludnya sungguh bagus dan fasilitasnya juga memadai. Tetapi, kekurangannya ada pada wisata lainnya yang masih dalam satu kawasan yang sama nampak sepert tidak terurus. Mungkin aku yang tidak tepat datangnya. Ya inilah cerita asli berdasarkan apa yang kualami. Semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi kalian. Sampai jumpa di cerita wisata lainnya.


Salam Gunung Itu Guru



0 tampilan