Gapura Bajang Ratu, Dialah Pembatas Dua Distrik

Gapura Bajang Ratu menjadi titik awal perjalanku untuk menempuh satu rangkaian napak tilas pusat kebesaran kekuasaan Kerajaan Majapahit yang membentuk Nusantara dan menjadi cikal bakal lahirnya Indonesia. Untuk mencapai situs ini, dari jalan raya, kamu bisa belok ke kiri masuk ke kompleks wisata Majapahit. Kemudian jalan terus saja, melewati Kolam Segaran dan Museum Majapahait Trowulan hingga menemukan perempatan, Beloklah ke kiri, tepatnya ke arah Gapura Bajang Ratu dan Candi Tikus. Setelah itu tinggal mengikuti jalan lurus saja. Kurang lebih 5 menit berkendara, kamu akan bisa temukan situs ini di sisi kirimu. Untuk parkir motor tersedia tepat setelah situs ini dengan harga yang dibebankan sebesar 3.000 rupiah. Sedangkan, mobil bisa diparkir rapi di pinggir jalan.


Seperti biasanya, perjalanan kulakukan pada hari biasa. Jadi, suasana cukup sepi dan bagiku pribadi sangat nyaman. Hanya ada 2 orang pengunjung yang datang bersamaan denganku. Pada awal gerbang masuk aku temukan penjual minuman manis dan segar yaitu es air tebu. "Cocok ini untuk minuman pelepas dahaga setelah berpanas-panas ria eksplorasi situs" begitulah pikirku. Penjualan air tebu ini tidak lepas dari banyaknya kebun tebu yang ada didalam dan disekitar wilayah Trowulan.


Protokol kesehatan diterapkan dengan baik di sini. Terdapat tempat untuk mencuci tangan lengkap dengan sabun. Memakai masker juga menjadi keharusan. Setelah selesai mencuci tangan, tahapan selanjutnya adalah melaporkan kedatanganku kepada petugas yang ada di pos. Data akan dituliskan ke buku tamu oleh petugas. Aku cukup berkata saja dari balik kaca. Situs ini tidak memungut biaya tiket masuk alias gratis! Sebelum memulai eksplorasi, aku menuju toilet terlebih dahulu yang ada di belakang pos pendaftaran. Kebersihan toiletnya terjaga dengan baik.


Kondisi Taman Sekitar Gapura yang Cantik

Saatnya eksplorasi aku mulai. Dari kejauhan sudah nampak bangunan utama Gapura Bojong Ratu yang dikeliling taman hijau, rapi dan bersih sehingga menghasilkan estetika yang indah. Pada sisi kiriku ada pohon beringin tua yang ukurannya sangat besar, lengkap dengan tempat duduk untuk bersantai. Sedangkan di sisi kanan terdapat satu-satunya gasebo yang tersedia. Tempat duduk lainnya tersebar di seluruh sisi kiri dan kanan bangunan. Tentunya tempat duduk tersebut berada dibawah pohon-pohon yang besar yang bisa menaungi dari panasnya sinar matahari. Semua tempat duduk mendapatkan pemandangan gapura secara utuh tanpa ada penghalang.


Aku sayangkan tidak ada cerita/informasi yang dipampang mengenai situs ini. Padahal asyiknya mengunjungi situs sejarah seperti ini adalah jika kita tahu cerita yang tersimpan dibalik dinding-dindingnya. Maka, mau tidak mau aku harus mencari sendiri selepas eksplorasi. Inilah ceritanya.


Kemegahan dari Kejauhan

Gapura Bajang Ratu didirikan sebagai apresiasi ketika pengangkatan raja Majapahit yang ke-2 yang bernama Prabu Jayanagara pada tahun 1309 M. Prabu Jayanagara naik tahta ketika usianya masih muda/belia. Oleh karena itu, gapura yang dibangun tadi dinamakan Bajang Ratu yang berarti raja muda. Gapura Bajang Ratu sendiri merupakan gerbang belakang pusat pemerintahan/keraton Kerajaan Majapahit. Ketika Prabu Jayanagara telah wafat pada tahun 1328 M, pendharmaan beliau melewati gerbang/pintu belakang ini. Kebiasaan ini yang ikut terbawa hingga ke tradisi orang Jawa sekarang dimana melayat orang yang wafat selayaknya melalui pintu belakang. Yang aku saksikan di depan mata ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan bangunan. Sebenarnya waktu dulu masih ada tembok yang melintang di kanan dan kiri gapura. Bisa dibuktikan dari sisi kanan dan kiri gapura terdapat pondasi yang masih tertinggal di tanah.


Kemegahan dari Sisi Samping

Makin siang beberapa pengunjung mulai datang lagi. Namun, tetap tidak ramai. Duduk santai dibawah rindangnya pohon sambil menikmati kesunyian sekitar dan memandangi Gapura Bajang Ratu ini suatu pengalaman berkesan. Aku tenggelam ke dalam imajinasi purba dimana aku membayangkankan besarnya keseluruhan kompleks pusat kerajaan kala itu. Dikarenakan gapura ini adalah pintu belakang, berarti berjalan ke arah belakang gapura adalah kota metropolitan/kota pusat perputaran ekonomi yang pintu depannya adalah Gapura Wringin Lawang. Aku bisa berdiri dengan kaki menapak di dua lahan/distrik dengan fungsi yang berbeda. Waw!


Ketika melihat gapura ini, pandanganku tertarik pada sisi atas bangunan. Pandangaku tertuju pada relief Batara Kala/Dewa Kala yang berarti dewa waktu. Penyematan relief ini dimaksudkan agar bangunan ini terus ada tidak lekang termakan oleh waktu. Bagiku ini merupakan kebiasaan/tradisi unik dalam konteks pemakaian simbol. Ingin aku terapkan di masa mendatang terhadap barang yang kumiliki kelak, seperti rumah.


Kemegahan Gapura dari Dekat

Selesai menikmati semua keindahan bangunan Gapura Bajang Ratu, saatnya perjalanan aku sudahi. Tidak lupa aku sempatkan mengambil beberapa dokumentasi sebagai kenangan dan oleh-oleh buat kalian sobat melangkah. Seperti yang kutulis di atas, segelas es air tebu tidak lupa aku beli untuk melepas dahaga hasil panasnya cuaca kala itu. Manisnya sempurna untuk menutup cerita perjalanan di situs ini.


Dokumentasi Awal Ditemukan

Itulah ceritaku eksplorasi Gapura Bajang Ratu. Semoga kamu menikmati ceritaku dan informasi yang kubagikan bermanfaat.


Dukung terus eksplorasiku mengelilingi candi-candi di Indonesia dan menceritakannya kembali dalam bentuk virtual tour yang bisa kamu akses dengan klik ini


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari website candi perpusnas, youtube channel kisah tanah jawa, dan Museum Majapahit Trowulan