Candi Pari dan Candi Sumur Saksi Bisu Misteri Hilangnya Sepasang Insan Manusia

Setelah perjalanan ke Candi Belahan, diriku merasa tertantang untuk semakin banyak lagi mendatangi, eksplorasi, dan merasakan getaran cerita sejarah candi-candi yang ada di Indonesia. Selain itu menurutku pribadi, berwisata ke candi menjadi alternatif bagus dimasa pemulihan dari pandemi virus Covid-19 seperti ini karena aku tidak akan bertemu banyak orang. Minat orang pada umumnya terhadap kekayaan bangsa seperti candi ini cukup kecil jika kita bandingkan tempat wisata lainnya yang lebih bisa menaikan gengsi dan eksistensi di sosial seperti gunung, bukit, pantai, dsb.


Berjalan dan berpetualanglah aku menuju Candi Pari yang tepatnya terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tidak sulit untuk menemukan lokasi ini. Mengikuti arahan dari Google Maps sangatlah cukup untuk bisa sampai ke lokasi. Apabila dari arah Surabaya, maka Candi Pari terletak di sebelah kanan jalan Tol Porong. Kondisi jalan menuju lokasi dalam kondisi bagus dan cukup untuk dilalui kendaraan roda 4. Jadi, memudahkan kamu yang ingin wisata ramai-ramai bersama teman-teman. Kala itu, perjalananku melewati jalur alternatif yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Bagusnya jalan ini adalah melewati persawahan dan lapangan hijau dengan pemandangan gunung dan jalan tol dari kejauhan. Menambah pengalaman baru menikmati hijaunya alam ini.


Sesampainya di Candi Pari, ternyata pintu gerbang masih tertutup untuk wisatawan umum. Aku tidak terlalu kaget, mengingat hal yang sama kualami ketika mengunjungi Candi Belahan. Resiko seperti ini masih berpeluang besar dialami ketika masa pemulihan. Sama halnya juga soal pagar yang mengelilingi, tidak terlalu tinggi. Jadi, masih memungkinkanku untuk mengambil dokumentasi. Apalagi Candi Pari memiliki bangunan besar menjulang tinggi.


Gerbang Depan Candi Pari

Kendaraan aku parkirkan di depan gerbang masuk candi. Aku lihat ada papan petunjuk bertuliskan wisata Candi Sumur. Rasa penasaranku langsung muncul. Aku putuskan untuk mengunjungi Candi Sumur saja terlebih dahulu. Berjalan melewati jalan kampung padat penduduk, kurang lebih 3 menit dengan jarak 100 meter, aku sudah sampai di Candi Sumur. Syukurlah! Candi Sumur dibuka untuk wisatawan umum. Senanglah aku karena bisa mendapatkan pengalaman dan cerita sejarah baru.


Fasilitas protokol kesehatan sudah disediakan dengan baik di sini. Terdapat wadah berisi air lengkap dengan sabun yang bisa dipakai terlebh dahulu sebelum masuk lebih dalam ke wilayah candi. Taman yang mengitari nampak asri dan bersih. Candi Sumur berupa bangunan besar dengan tubuh dan atap yang sudah tidak utuh lagi karena rapuh dampak dari faktor jamur dan penggaraman. Bangunan tersusun dari batu bata yang membentuk bujur sangkar dengan ukuran 8x8 m dan tinggi 10 m menghadap arah barat. Ditengah tubuh bangunan terdapat ruang kosong yang menyerupai sumur. Inilah alasan candi ini dinamakan Candi Sumur. Ruang kosong tersebut dulunya merupakan tempat menyimpan artefak Lingga-Yoni yang merupakan perlambangan dari penciptaan dan kesuburan. Sayang sekali, sekarang kondisi ruang kosong ini sudah dikotori dengan banyaknya uang logam yang dilempar ke dalam. Padahal menurutku pribadi, tidak ada manfaatnya melakukan hal itu. Itu hanyalah ruang untuk penyimpanan, bukan ruang yang memiliki berkah tertentu.


Ruang Kosong di Tubuh Candi

Ditengah-tengah aktivitasku, seorang bapak yang sudah tua menghampiri dan menyapaku. Beliau adalah penjaga lokasi ini. Beliau memiliki pendengaran yang kurang baik sehingga cukup susah untuk diajak berkomunikasi dan susah untuk menggali cerita dari beliau. Aku menyudahi eksplorasi dengan mengisi buku tamu dan berpamitan kepada bapak penjaga itu. Untuk masuk Candi Sumur tidak dipungut dibiaya. Setelah itu, aku berjalan kembali ke Candi Pari.


Berdasarkan informasi cerita sejarah yang ada di Candi Sumur, Candi Pari dan Candi Sumur memiliki keterkaitan dari cerita legendanya. Singkat ceritanya adalah hidup lelaki bernama Jaka Walang Tinunu yang tinggal di Kedung Soko dan memiliki adik bernama Jaka Pandelegan. Beliau bersama adiknya, berhasil membuat wilayah Kedung Soko memiliki hasil pertanian padi yang melimpah. Semua hasil padi tersebut disimpan pada lumbung padi yang sekarang menjadi lokasi berdirinya Candi Pari.


Penampakan Candi Sumur Dari Depan

Suatu waktu, Kerajaan Majapahit mengalami paceklik, dimana banyak lahan pertanian yang gagal panen. Prabu Brawijaya mengetahui berita bahwasanya terdapat padi yang melimpah di wilayah Kedung Soko. Oleh karena itu, diutuslah seorang patih untuk memungut upeti berupa padi yang nantinya dibawa menggunakan perahu. Jaka Walang Tinunu menyetujui tuntutan itu. Diserahkan padi-padi miliknya. Hebatnya adalah sebanyak apapun perahu yang disediakan oleh Sang Patih, padi yang dikirimkan dari Kedung Soko selalu lebih banyak. Bisa dibayangkan betapa melimpahnya padi yang dimiliki wilayah Kedung Soko saat itu.


Padi-padi ini lantas dipersembahkan kepada Prabu Brawijaya dan diterima dengan suka cita. Kemudian, Prabu Brawijaya bertanya kepada Sang Patih, siapakah pemilik padi-padi ini? Sang Patih menjawab padi-padi ini milik Jaka Walang Tinunu, anak seorang janda yang bernama Janda Ijingan. Lantas, Sang Prabu mengutus kembali patihnya untuk memanggil Jaka Walang Tinunu beserta istrinya menghadap dirinya di Kerajaan Majapahit. Setelah mereka bertemu, ternyata Sang Prabu teringat dan tersadarkan bahwsanya Jaka Walang Tinunu ini adalah putranya sendiri. Oleh karena itu, Sang Prabu mengutus kembali patihnya untuk memanggil adik Jaka Walang Tinunu, yaitu Jaka Pandelegan beserta istrinya dengan maksud menaikan derajat mereka. Apabila ada penolakan, harus ada pemaksaan tanpa menimbulkan cedera pada badan bahkan jangan sampai ada kerusakan pada pakaian yang mereka kenakan. Pemaksaan tanpa kekerasan.


Lingkungan Dalam Candi Pari

Jaka Pandelegan sudah terlebih dahulu merasa bahwasanya dirinya akan ikut mendapat panggilan. Dia berdiskusi dengan istrinya dan sepakat untuk menolak panggilan tersebut. Ketika Sang Patih datang menyampaikan panggilan, dia menolak. Akhirnya terpaksa Sang Patih memaksa, tapi Jaka Pandelegan tetap membangkang lalu lari bersembunyi di tengah-tengah tumpukan padi yang ada di lumbung. Sang Patih berhasil mengepung lumbung tersebut. Ketika hendak ditangkap, Jaka Pandelegan sudah menghilang tanpa bekas. Setelah hilangnya Jaka Pandelegan, istrinya yaitu Nyai Loro Walang Angin berpapasan dengan Sang Patih sambil membawa kendi. Sebelum ikut Sang Patih, Nyai Loro Walang Angin meminta izin untuk mengisi kendi yang dibawanya ke arah barat daya dari lumbung padi tadi. Ketika sudah sampai di sumur yang dimaksud, Nyai Loro Walang Angin ikut menghilang tanpa bekas.


Sang Patih kembali untuk menyampaikan berita ini. Prabu Brawijaya terkagum-kagum atas kecekatan Jaka Pandelegan bersama istrinya. Oleh karena itu, dikeluarkan perintah untuk membangun candi sebagai kenangan atas peristiwa hilangnya suami istri tersebut. Lokasi hilangnya Jaka Pandelegan yang juga merupakan lokasi lumbung padi, berdirilah Candi Pari. Sedangkan, lokasi hilangnya Nyai Loro Walang Angin berdirilah Candi Sumur. Kedua candi ini dibangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk sekitar tahun 1371 Masehi.


Di lokasi Candi Pari, aku mengambil dokumentasi sebisanya, dari luar pagar tentunya. Nampak taman yang indah juga dengan kebersihan yang terjaga baik. Perbedaan paling mencolok dengan Candi Sumur adalah Candi Pari memiliki bangunan yang jauh lebih besar dan megah dengan kondisi yang masih utuh. Aku akui, bangunan ini benar-benar megah apalagi kalau dilihat dari jarak dekat. Benar-benar cocok sebagai penggambaran suburnya hasil pertanian wilayah sekitar pada saat itu.


Kemegahan Candi Pari

Setelah selesai semua aktivitasku, aku istirahat sebentar sebelum kembali berkendara. Sambil istirahat, kalian yang berkunjung ke tempat ini bisa menikmati semangkuk bakso. Ada bapak penjual bakso yang memang sudah biasa berjualan di sini melayani banyak pesepeda. Ternyata, Candi Pari menjadi titik istirahat para pesepeda. Akhirnya tiba saatku pulang. Sebelum kembali ke jalur pulang, aku sempatkan belok ke arah jalur aku berangkat. Aku ingin menikmati senja dengan pemandangan gunung. Sayang sekali, kala itu gunung tidak nampak dengan jelas. Tak apalah, apa yang ada didepan mata sudah cukup sempurna untuk menutup cerita perjalanan kali ini.


Sekian cerita perjalanan menjelajahi candi nusantara. Semoga kamu yang membaca artikel ini juga bisa ikut tertarik mempelajari sejarah kembali. Ingatlah bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal dan menghargai sejarah bangsanya sendiri.


Jangan lupa nikmati virtual tour sederhananya ya...


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di lokasi