Candi Brahu dan Candi Gentong Penyimpan Rekam Jejak Cerita Budha di Kerajaan Majapahit

Perjalananku dalam rangka napak tilas kebesaran Kerajaan Majapahit masih berlanjut. Aku kembali lagi ke Trowulan. Bagiku pribadi, tidak cukup 1-2 hari untuk memutari dan mengenali semua objek wisata yang ada.


Kali ini aku menuju arah utara yang merupakan letak Candi Gentong dan Candi Brahu. Kalau biasanya dari arah Surabaya, setelah melewati Gapura Wringin Lawang, aku belok kiri menuju arah Pendopo Agung. Tetapi, kali ini perjalananku berbelok ke arah kanan. Setelah itu, jalanan akan berubah menjadi jalan beton. Belokan pertama ke kiri adalah jalan menuju situs. Jalan akan mengecil dengan pemandangan hamparan sawah di sisi kiri. Kalau bingung, ikuti saja arahan Google Maps. Titik lokasi sudah benar.


Situs pertama yang aku kunjungi adalah Candi Gentong yang berada di sisi kanan jalan. Parkir kendaraan roda 2 ada didalam dan bebas biaya, sedangkan parkir kendaraan roda 4 memakai pinggir jalan. Layaknya situs sejarah Trowulan lainnya, protokol kesehatan sudah diterapkan dengan baik. Proses administrasi aku selesaikan dengan cukup mengisi buku tamu saja tanpa perlu mengeluarkan biaya tiket masuk. Sebelum eksplorasi lebih dalam, tidak lupa aku menuju papan informasi terlebih dahulu untuk membaca nilai sejarah yang terkandung pada situs ini.


Suasana Komplek Candi Gentong

Candi Gentong terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berada di dekat pintu masuk dan bagian kedua berada di belakang. Candi ini bukan berupa bangunan yang besar dan berdiri tegak, melainkan hanya berupa sisa reruntuhan dari kaki candi saja. Menurut informasi dari penjaga situs, nama gentong diambil karena bagian pertama situs ini dulunya masih berupa tanah luas (bahasa Jawanya adalah tegalan) yang memiliki bagian menggunduk layaknya sebuah gentong.


Aku mulai berjalan menuju bagian pertama. Terlihat sisa kaki candi yang membentuk kotak layaknya suatu ruang, tepat berada di tengah-tengah struktur dan dikelilingi oleh tembok. Baik ruang dan tembok terbuat dari batu bata. Waktu itu, aku ingin melihat lebih dekat, tapi tidak bisa karena ada aturan yang melarang menaiki struktur. Untungnya ada tangga besi yang bisa aku naiki. Tidak dapat pemandangan dekat, tapi mendapatkan pemandangan keseluruhan dari atas. Setelah itu, aku berjalan memutari struktur. Tidak semua tembok dalam kondisi utuh. Beberapa bagian sudah hancur tanpa bentuk.


Konon ceritanya, didalam struktur bagian pertama ini ditemukan stupika dan temuan lainnya yang berciri khas agama Budha. Stupika adalah stupa bentuk kecil yang didalamnya terdapat mantra-mantra Budha yang ditulis pada satu lempeng bundar sebagai bentuk penghormatan atau dharma. Oleh karena penemuan ini, para ahli berkesimpulan bahwa Candi Gentong merupakan candi dengan corak Budha.


Candi Gentong Bagian 1

Aku melanjutkan berjalan menuju bagian kedua. Bentuk denahnnya kali ini berbeda. Terdapat bangunan utama yang dikelilingi bangunan kecil yang tersebar disekelilingnya. Satu struktur kotak besar di tengah dengan dikelilingi 6 atau 8 struktur kotak kecil. Untuk memudahkanmu, coba bayangkan saja bentuk Candi Prambanan yang dikelilingi oleh candi-candi kecil lainnya. Seperti itulah bentuk denah bagian kedua ini. Berdasarkan informasi dari penjaga situs, bagian pertama merupakan tempat berdoa karena ditemukan stupika, sedangkan bagian kedua merupakan tempat bertapa.


Selain melihat sisa reruntuhan candi, aku juga bisa melihat batu bata asli buatan era Majapahit yang masih kuat menyatu hingga sekarang. Zaman dulu, perekatan antar batu bata ini tidak memakai materi tambahan apapun, melainkan menggunakan teknik gosok. Jadi, batu bata akan digosok satu sama lain secara terus menerus sambil sedikit demi sedikit diberi air hingga kedua batu bata tersebut bisa saling menyatu dan mengunci.


Batu Bata yang Menempel Dengan Sistem Gosok

Selesai menikmati keseluruhan isi Candi Gentong, tentunya ada taman dengan kondisi hijau, bersih, dan asri yang menemani waktu istirahatku. Kondisi situs sangat sepi sekali. Aku satu-satunya pengunjung saat itu. Sekali lagi, kemungkinan para manusia pencari stigma kekinian tidak memasukan Candi Gentong kedalam bucketlist mereka, karena apa bagusnya menjadikan sisa reruntuhan sebagai background foto penghias sosial media? Situs ini seperti hilang dari pandangan mata wisatawan yang melewatinya. Kebanyakan langsung menuju Candi Brahu.


Sudah saatnya aku meninggalkan Candi Gentong dan menuju lokasi selanjutnya yaitu Candi Brahu yang sudah terlihat dari parkiran motor. Keluar dari Candi Gentong, belok ke arah kanan. Ikuti saja jalan sampai kamu temukan pintu masuk Candi Brahu yang terletak di sisi kanan. Parkir motor ada lokasinya sendiri tepat di depan pintu masuk candi, sedangkan mobil sekali lagi harus diparkir di pinggir jalan. Tak perlu khawatir, karena ada tukang parkir yang membantu mengatur dan menjaga keamanan kendaraan. Parkir motor dikenakan tarif sebesar 3.000 rupiah.


Situasi di sini jauh lebih ramai dibandingkan Candi Gentong. Penjual pentol, dan warung rujak tersedia didekat parkiran. Awalnya aku masuk dengan kondisi cukup sepi. Selain aku, hanya ada keluarga yang terdiri dari 3 orang. Namun, semakin sore semakin banyak pengunjung yang datang, baik itu perseorangan maupun keluarga yang ingin piknik beralaskan rumput hijau.


Protokol kesehatan sudah disiapkan dengan baik. Administrasi berupa laporan data pengunjung dan tidak perlu mengeluarkan biaya apapun. Sayangnya tidak ada papan informasi sejarah di sini. Jadi, masuk ke sini sudah benar-benar hanya menikmati candi dari segi fisiknya saja. Tetapi, aku akan bagikan informasi yang sudah aku dapatkan dari Museum Majapahit Trowulan agar perjalanan kalian ke Candi Brahu lebih bermakna.


Tampak Depan Candi Brahu

Aku mulai eksplorasi. Posisi awal masuk berada di samping candi. Aku mengambil jalan pinggir untuk menuju sisi depan candi. Kalau mau lebih cepat bisa langsung ambil yang jalur tengah. Taman yang hijau, bersih dan terawat mengelilingi Candi Brahu. Tempat duduk istirahat banyak tersebar di pinggir. Selain itu, pohon besar yang bayangannya bisa menutupi rerumputan, jumlahnya lumayan banyak. Faktor inilah yang menyebabkan orang banyak datang untuk piknik. Rindang!


Candi Brahu berdiri di atas pondasi/batur yang tinggi dengan posisi ruang candi yang berada tinggi di tengah. Menurut masyrakat sekitar, ruang kosong ini dulunya difungsikan sebagai ruang pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Tetapi, hasil penelitian tidak menunjukan adanya bekas abu/mayat.


Para ahli menyimpulkan bahwa candi ini bercorak Budha berdasarkan penemuan sisa profil di kemuncak candi yang menggambarkan bentuk stupa. Dipercaya nama Brahu berasal dari kata 'wanaru' atau 'warahu' yang berarti sebuah bangunan suci. Hal ini sesuai dengan prasasti tembaga Alasantan yang ditulis oleh Raja Mpu Sindok pada 939 Masehi dan ditemukan tidak jauh dari Candi Brahu. Berdasarkan kesimpulan ini, maka Candi Brahu memiliki umur yang jauh lebih tua dibandingkan umur Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1294 Masehi. Tetapi, lagi-lagi berbeda dengan hasil penelitan carbon yang mengatakan candi ini didirikan pada tahun 1410 hingga 1646 Masehi.


Dua teka-teki/misteri masih belum terpecahkan mana yang benar. Kamu pilih versi yang mana?


Ruang Candi Brahu yang Berada di Ketinggian

Masyarakat sekitar mempercayai bahwa dulunya Candi Brahu tidak berdiri sendiri. Candi ini menjadi candi utama yang dikelilingi oleh 4 candi kecil lainnya, yaitu Candi Gentong, Candi Muteran, Candi Gedong, dan Candi Tengah. Yang tersisa dan bisa disaksikan hingga hari ini hanya Candi Gentong yang sudah tidak utuh lagi.


Berdasarkan cerita penjaga di Candi Gentong, dulunya seperti ada sektor tersendiri untuk masyarakat pemeluk agama Budha. Penemuan Candi Gentong dan Candi Brahu ini adalah buktinya. Kedua candi bercorak Budha ini terletak di sisi utara, sedangkan candi lainnya yang bercorak Hindu ada di sisi selatan tersebar disekitar keraton Kerajaan Majapahit. Meskipun terpisah, bukan berarti tidak ada kerukunan antar umat beragama. Inilah salah satu nilai dari cerita sejarah kejayaan Majapahit yang harus tetap kita implentasikan khususnya sekarang ini dimana isu agama sering dijadikan alasan perpecahan. Tidak hanya Hindu dan Budha, agama Islam juga hidup berdampingan dalam satu naungan Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dari adanya makam Troloyo yang akan aku ceritakan di lain waktu.


Manusia Hanya Setinggi Kaki Candi

Aku menikmati keindahan dan kemegahan candi ini sambil duduk santai di rumput. Akhirnya aku ikut piknik juga. Waktu santaiku dihentikan oleh kehendak perutku yang menuntut perhatian. Selain itu, pengunjung yang datang juga semakin banyak. Saatnya aku menghindar dari keramaian. Aku menyudahi perjalanan ini dengan mencari warung makan di depan Kolam Segaran. Oh iya! Candi Gentong dan Candi Brahu bisa kamu nikmati dengan bersepeda apabila menginap di desa Bejijong.


Sekian cerita perjalananku. Cerita ini bukan ujung dari rangkaian napak tilas kejayaan Majapahit. Tetap ikuti kelanjutannya ya. Semoga ceritaku ini berguna bagi kalian. Ayok lepaskan diri dari trauma sejarah. Belajar sejarah bisa dengan cara yang menyenangkan.


Dukung terus eksplorasiku mengelilingi candi-candi di Indonesia dan menceritakannya kembali dalam bentuk virtual tour yang bisa kamu akses dengan klik dibawah ini:

Candi Gentong

Candi Brahu


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di lokasi, website candi perpusnas, dan Museum Majapahit Trowulan