Candi Belahan/Pertirtaan Sumber Tetek Obat Awet Muda

Hampir 5 bulan lamanya di rumah saja, rasa ingin berjalan-jalan lagi sudah meluap untuk segera di realisasikan. Untungnya, kebiasaanku yang senang jalan-jalan pada hari biasa (Senin-Jumat) sangat bermanfaat untuk saat ini, dimana akan jarang bertemu orang yang berarti juga akan mengurangi resiko terpapar virus Covid-19 yang bisa dikatakan masih beredar di tengah-tengah hangatnya nafas warga.


Langkah kakiku terbawa menuju Candi Belahan yang ada di Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Lokasi masuknya dekat dengan Bundaran Apolo. Apabila berangkat dari arah Surabaya, sama seperti arah perjalananku, setelah selesai memutar di Bundaran Apolo, segeralah menoleh ke kanan. Kamu akan bisa melihat ada jalan cukup lebar dengan penjagaan polisi cepekan. Itulah jalan masuknya. Terus saja maju lurus mengikuti jalan hingga kamu temukan gerbang bertuliskan "Selamat Datang di Wisata Prasasti Cungrang." Mulai dari gerbang ini perhatikan sisi kiri jalan karena harus berbelok pada tikungan pertama yang ada. Setelah itu, cukup berjalan lurus mengikuti jalan hingga sampai di Candi Belahan.


Kolam Pertirtaan

Sebenarnya, aku pribadi kala itu, ketika berangkat menuju candi tidak melewati jalan yang kujabarkan barusan. Jalur yang seharusnya aku lewati sewaktu arah pulang. Aku tersasar melewati jalur alternatif yang merupakan jalur konstruksi. Medannya masih pasir dan kerikil dengan pemandangan tanah berlubang sangat besar. Sepertinya aku melewati jalur truk penambang pasir. Sudah kepalang tanggung, perjalanan tetap kulanjutkan melalui jalur ini dengan berjalan perlahan-lahan sambil mengontrol motor agar tidak terjatuh.


Kurang lebih 10 menit tersasar, akhirnya aku kembali pada jalan yang bagus karena sudah masuk ke desa warga. Terus bergerak mengikuti jalan hingga aku terhubung kembali ke jalur yang sebenarnya. Jalan mulai naik dan hamparan sawah hijau berbentuk terasering mulai terlihat disisi kanan. Bisa kalian banyangkan, bagaimana tidak menggoda untuk berhenti sejenak hanya untuk sekedar memanjakan mata sambil menikmati udara segar khas pedesaan, dimana selama di rumah saja, hal seperti ini tidak bisa kudapatkan. Namun, aku memutuskan untuk menikmatinya sewaktu pulang saja. Tak terasa, sampailah aku pada tujuan.


Begitu datang, rasa kecewa langsung menyambut karena ternyata situs masih ditutup untuk wisatawan umum. Pengumuman terpasang pada pintu gerbang yang terkunci. Tak mau pulang tanpa hasil, motor aku parkiran di dekat warung karena pagar yang mengitari situs tidak terlalu tinggi sehingga isi dari Candi Belahan bisa terlihat jelas dari luar. Aku berusaha mengambil dokumentasi sebisanya, melewati sela-sela pagar dan sela-sela pintu gerbang. Setelah memperhatikan sekitar, ternyata ada sisi lahan yang tinggi, dimana juga ada warung di situ. Jadi, pengunjung bisa menikmati keindahan situs dari ketinggian. Lekaslah aku naik dan melanjukan mengambil dokumentasi dari situ.


Gerbang Masuk Kawasan Candi Belahan

Candi Belahan ini tidak memiliki bangunan besar dan mejulang tinggi layaknya candi pada umumnya. Situs ini lebih tepatnya dikatakan sebagai pertirtaan/permandian. Warga sekitar menyebutnya sebagai Pertirtaan Sumber Tetek. Dinamakan demikian karena pada situs ini terdapat kolam yang berisikan ikan dan sumber airnya berasal dari arca yang mengeluarkan air dari payudaranya (dalam bahasa Jawa disebut tetek). Kolam bisa dipakai untuk mandi. Tentu dalam proses mandinya tidak boleh menggunakan sabun. Dipercayai bahwasanya mandi di kolam ini bisa mengembalikan aura muda. Sebenarnya apabila kita telaah secara logika ilmu pengetahuan, air yang ada di kolam ini adalah air dari gunung yang masih mengandung banyak kadar oksigen dan mineral. Kandungan inilah yang bisa membantu meremajakan kulit pada tubuh manusia.


Sejarahnya, situs ini dibangun pada lereng Gunung Penanggungan dan pada ketinggian 700 mdpl (meter di atas permukaan laut) oleh Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan sekitar abad ke 11 Masehi. Bangunan utama dari situs ini berupa dua arca wanita bertangan empat, yaitu Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang juga merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Arca Dewi Laksmi-lah yang mengeluarkan air dari payudara. Dua arca ini berdiri berdampingan di depan dinding yang terbuat dari batu bata merah berhiaskan relief Dewa Wisnu yang menunggangi Burung Garuda setinggi tiga meter, persis seperti penggambaran Patung Garuda Wisnu Kencana yang ada di Bali. Sayangnya, hiasan relief ini sudah dipindahkan dan disimpan ke Museum Majapahit Trowulan.


Penampakan Candi Belahan dari Atas

Raja Airlangga adalah sosok raja yang bijak dan berhasil membawa Kerajaan Kahuripan maju pesat. Sayangnya kejayaan tersebut tidak bisa bertahan lama karena anak tertua Raja Airlangga memilih tidak melanjutkan tahta dan justru menjadi pertapa di Gunung Penanggungan. Setelah itu, muncul banyak perselisihan di antara antar kedua dan ketiga. Akibatnya, Raja Airlangga membagi Kerjaan Kahuripan menjadi dua, yaitu Kerjaan Singasari dan Kerjaan Kediri, dengan batas Sungai Brantas. Raja Airlangga akhirnya melepaskan tahtanya dan ikut memilih menjadi pertapa dengan nama Resi Gentayu. Salah satu lokasi pertapaan beliau adalah Candi Belahan ini. Oleh karena itu, sejatinya situs ini adalah situs yang suci, dimana apabila mengunjungi situs yang suci, sudah selayaknya menerapkan sopan santun dalam berperilaku.


Keindahan Taman dan Kolam Candi Belahan

Selesai dengan menikmati suguhan dari Candi Belahan, saatnya mengistirahatkan badan sebelum beranjak pulang. Kupilih salah satu warung untuk menikmati segelas kopi hangat sambil merasakan dingin dan sejuknya udara pegunungan. Selain itu, mata juga bisa termanjakan oleh besar dan magisnya pepohonan yang ada disekitar situs. Rasa kecewa diawal sudah terobati dengan kombinasi pengalaman ini. Melepas rasa rindu akan suasana alam pegunungan. Ya.. mungkin itulah yang sebenarnya sangat kurindukan.


Waktu menunjukan pukul 16:00 yang menandakan saatnya pulang. Setelah selesai membayar segelas kopi instan seharga 3.000 rupiah, perjalanan turun kumulai. Perjalanan pulang memang sengaja aku tepatkan dengan kondisi matahari mulai turun. Jadi, aku bisa menikmati indahnya matahari sore diantara hijaunya sawah terasering. Menambah lengkapnya pengalaman yang kudapat selama perjalan kali ini.



Sekian cerita perjalanan pertamaku pasca di rumah saja. Bagiku, sudah saatnya kita berwisata kembali. Tetapi, jangan lupa tetap pakai masker dan patuhi protokol yang berlaku di lokasi wisata. Selain itu, apabila berkunjung ke wisata sejarah seperti candi, jangan lupa untuk berlaku sopan santun dan tidak lupa mencari cerita sejarahnya karena dengan memahami sejarah bangsa sendiri maka kita bisa memahami arti memiliki dan bangga akan peradaban yang besar. Dari situ berarti kita sudah satu langkah menjadi manusia.


Sekarang aku akan menambahkan virtual tour sederhana agar kamu bisa ikut melihat dan merasakan apa yang aku alami ketika berada di lokasi. Semoga tambahan konten ini bermanfaat bagi kamu.


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di lokasi