Camping Ceria di Ledok Amprong Tuk Kabur dari Panasnya Surabaya

Surabaya gila sekali panasnya!

Tak ada anginnya pula!


Itulah penyebab utama yang mendorongku untuk lari mencari tempat yang udaranya lebih dingin. Aku agendakan camping ceria lagi. Mencari-cari lokasi, akhirnya ketemulah 2 pilihan, yaitu camping ceria di Coban Pelangi atau di Danau Ranu Regulo. Semuanya harus diawali dengan menuju ke daerah Tumpang, Kabupaten Malang.


Perjalanan aku mulai dari Surabaya dan berakhir di Tumpang dengan waktu perjalanan kurang lebih 3 jam, tepatnya di Jaka Basecamp, tempat langgananku untuk sewa jeep apabila mau menuju Desa Ranu Pani. Aku mampir ke sini juga ingin sekaligus silahturami dengan mereka yang ada di sana karena sudah hampir setahun aku sudah tidak pernah mampir ke sana lagi.


Bu Pit yang mengurusi basecamp tersebut, terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Belum tau niatanku berkunjung, dikiranya aku mau melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Lantas, aku bilang lagi tidak mau mendaki karena sekarang syarat pendakiannya lebih menyusahkan. Minimal harus 3 orang dalam satu tim, dimana teman pendakianku yang biasanya sedang sibuk-sibuknya. Jadi, aku cuma ingin pindah tidur, menghindar dari panasnya Kota Surabaya.


Cukup panjang mengobrol, akhirnya Bu Pit memberikan saran untuk camping di pinggir jeram saja karena tempatnya juga tidak terlalu jauh dari basecamp. Tidak sampai melewati jalan yang naiknya curam sehingga memakai motor matic masih memungkingkan. Aku iyakan saja karena belum pernah camping di pinggir aliran jeram. Sepertinya menarik. Sebelum berangkat aku bersantai terlebih dahulu sambil merilekskan kembali punggung yang capek akibat berkendara. Niatanku bersantai sebentar berubah menjadi lama karena karena tiba-tiba hujan turun dan tidak berhenti-henti. Ada 2 jam aku bersantai hingga ketiduran. Akhirnya ketika mendekati jam 4 sore, hujan berhenti juga. Aku segera berangkat menuju lokasi jeram yang bernama Ledok Amprong dengan bantuan dari salah seorang keluarga Bu Pit sebagai penunjuk jalannya. Benar sekali, lokasinya tidak jauh dari basecamp. Ketika mulai memasuki jalan perkebunan, kemampuan berkendara mulai diuji.


Awal perjalan masih enak karena medan berupa beton. Meskipun terkadang ada bagian yang rusak, hal itu tidak menjadi masalah. Ketika medan beton sudah habis, ujian selanjutnya adalah melewati jalan turun ke bawah dengan medan berupa tanah yang kondisinya sudah menjadi liat akibat terkena hujan.


Begitu ada rem dadakan, roda belakang pasti slip. Kakiku sudah tak bisa santai di atas motor. Semuanya bersiap-siap di kiri dan kanan motor. Ujian medan tidak hanya berhenti di situ saja. Masih ada medan makadam yang tidak kalah susahnya. Ini pengalaman pertamaku dan motorku melewati medan seperti ini. Untunglah aku sukses sampai dibawah tanpa terjatuh. Selamat datang di Ledok Amprong!


Spot Berfoto Bersama

Ledok Amprong adalah titik permulaan sekaligus pemberhentian untuk mereka yang melakukan aktivitas river tubing. Lokasi ini terletak di Desa Gubuklakah, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Aku datang dalam kondisi sangat sepi. Tidak ada orang selain kami berdua. Namanya juga bukan di akhir minggu, wajar kondisi seperti ini. Setelah dijelaskan sedikit mengenai lokasi oleh dia yang mengantarku, tiba sudah saatnya aku sendirian di lokasi ini. Tidak bisa dikatakan 100% sendiri juga karena terkadang masih ada warga yang lewat, mengingat lokasi ini dikelilingi oleh kebun warga.


Lapangan parkir luas. Terdapat banyak gasebo untuk bersantai. Warung tersedia, tapi bukanya ketika ramai pengunjung di akhir pekan saja. Toilet bersih juga sudah tersedia. Secara keseluruhan, fasilitas disini sudah tersedia dengan baik.


Waktu itu, tenda tidak bisa aku dirikan di pinggir sungai karena mengingat sedang musim hujan. Debit air jeram bisa naik secara tiba-tiba. Jadi, niatanku berubah, dari awalnya yang ingin buka tenda berubah menjadi buka matras dan sleeping bag saja di dalam gasebo. Aku malas buka tenda mengingat tanahnya masih basah. Pasti alas tenda menjadi kotor sekali kalau terkena tanah basah. Aku malas mencucinya. Sebelum matahari tenggelam, aku sempatkan eksplorasi sekitar terlebih dahulu. Sayang sekali, gear dan outfit yang aku bawa bukan untuk main air. Jadi, aku hanya bisa duduk di pinggir sungai saja.


Bersantai di Pinggir Sungai

Malam datang. Serangga mulai muncul. Kalau menyalakan headlamp, sudah pasti serangga mendekat. Rencanaku untuk tidur tanpa tenda berubah lagi. Mau tidak mau aku harus mendirikan inner tenda saja karena memiliki jaring yang bisa menghalau serangga. Ternyata gasebonya yang kekecilan. Akhirnya aku pindah lokasi ke gasebo yang lebih besar yang dipakai sebagai aula.


Udara tidak terlalu dingin, tanpa jaketpun aku masih bisa bertahan. Tidur dengan atap berarti tidak akan terkena hujan, dan sudah tidak akan diserbu serangga. Pada kondisi seperti ini, kenyamanan untuk beristirahat sudah sempurna.


Sambil ditemani suara sungai yang kencang, aku membuat makan malam. Sumber kabohidrat yang aku pilih adalah kentang (mashed potato instant) yang aku padukan dengan lauk sapi sei. Kombinasi ini berpadu dengan sempurna. Setelah itu, aku habiskan malam dengan membaca buku yang sudah kubawa dari Surabaya dan bermain smartphone. Sinyal Telkomsel 4G bisa berjalan dengan baik dilokasi ini.


Tenda Tempatku Bermalam

Pagi menyongsong. Tidurku yang hanya memakai sleeping bag terasa sangat nyaman. Tidak ada sunrise yang perlu dikejar, jadi tidak perlu bangun terlalu pagi. Aku mulai bangun jam 7 pagi.


Suasana pagi sudah tidak sesepi kemarin. Aktivitas pagi warga berkebun sudah menemaniku. Bisa kudengar suara motor lalu lalang turun dan naik. Aku jalan-jalan mengelilingi lokasi sambil mengumpulkan nyawa. Setelah itu, lanjut dengan sarapan yang menunya sama dengan semalam. Bedanya hanya lauk kali ini adalah sei sapi rasa rendang. Selesai sarapan, aku lanjutkan dengan menikmati kenyamanan dan keteduhan pagi ini dengan segelas kopi yang kuminum di pinggir sungai sambil merendam kaki di aliran sungai. Sempurna!


Tidak lama berdiam diri sambil menyeruput kopi, aku kembali ke gasebo untuk berkemas. Jam setengah 9 aku mulai beranjak naik kembali ke atas. Medan penuh cobaan harus kutempuh kembali, tapi kali ini lebih enak karena tidak licin dan jalannya naik. Semalaman tidak hujan. Tanah sudah agak mengeras. Akhirnya aku bisa kembali lagi ke atas dan sampai di Jaka Basecamp kembali. Kuakui melalui medan tanah basah dan makadam itu, lebih mudah kalau naik dibandingkan turun. Setelah berpamit dengan Bu Pit, aku langsung beranjak pulang kembali ke Surabaya.


Menikmati Pagi dari Aula

Tempat ini aku rekomendasikan buat kamu yang ingin camping ceria. Bisa kamu kombinasikan juga dengan aktivitas adventure river tubing. Jadi, setelah selesai beraktivitas bisa lanjut dengan acara camping dan menikmati dinginnya malam bersama teman.


Sekian cerita perjalananku kabur dari panasnya Kota Surabaya. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kamu. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Salam Nenda!