Apa Iya Banyak Tikus di Candi Tikus?

Seteleh selesai dari Gapura Bajang Ratu, aku langsung tancap gas menuju Candi Tikus yang searah jalannya. Tidak sampai 5 menit berkendara, sampai sudah aku di tujuan. Candi Tikus tepatnya terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dan memiliki pemandangan sekitar berupa perkebunan tebu. Waktu itu aku tidak tahu dan tidak melihat dimana lokasi parkir kendaraan roda 2, lantas kendaraan aku parkir saja di dekat gerbang masuk pada lahan yang agak rendah dibandingkan jalan aspal.


Situasi di sini cukup berbeda dibandingkan Gapura Bajang Ratu. Tidak ada toko kelontong di sekitar sini. Tidak ada penjual es air tebu juga. Jauh lebih sepi! Bahkan, dari sisi pengunjung juga sepi. Menurutku pribadi, sepinya pengunjung ini mungkin dikarenakan pengunjung lebih cepat menyelesaikan eksplorasinya. Pertama karena luas lahan yang lebih kecil kalau dibandingkan Gapura Bajang Ratu dan kedua karena bangunan utama Candi Tikus tidak sebesar Gapura Bajang Ratu. Jadi, kurang masuk kategori foto instagramable. Sekali lagi, ini hanya penilaian pribadiku. Kala itu aku menjadi satu-satunya tamu yang datang.


Candi Tikus Berupa Petirtaan

Protokol kesehatan sudah tersedia dengan baik. Tersedia tempat untuk cuci tangan dengan sabun dan kewajiban memakai masker. Kedatanganku kali ini tidak perlu mengisi buku tamu karena penjaga situs sedang asyik duduk di luar pos. Tidak ada biaya untuk masuk situs ini. Nah! Bagusnya situs ini adalah memiliki informasi mengenai sejarah candi yang terletak disebelah pos jaga. Aku sempatkan membaca cerita ini terlebih dahulu sebelum eksplorasi. Selesai dari membaca, aku lanjut berjalan menuju tengah taman. Oh ya! situs ini sama bagusnya dengan Gapura Bajang Ratu karena memiliki taman hijau yang rapi dan bersih. Semuanya terjaga dengan baik. Bahkan, memiliki tulisan "Candi Tikus" yang dibentuk dari tanaman. Mantab!


Pada tengah taman aku lihat bangunan utama Candi Tikus yang berada pada lahan yang lebih rendah dibandingkan lahan aku berjalan. Situs yang diperkirakan berdiri pada abad 13-14 Masehi ini, sebenarnya merupakan sebuah petirtaan/pemandian suci. Namun, masyarakat sekitar lebih senang menyebutnya sebagai candi.


Asal muasalnya, lokasi ini berupa makam rakyat. Kemudian pada tahun 1914 dilakukan penggalian yang lebih dalam karena ada laporan masyarakat akan wabah tikus yang bersarang pada sebuah gundukan. Pada saat penggalian gundukan tersebut memang benar ditemukan banyak sarang tikus. Tetapi, bersamaan itu juga ditemukan sebuah candi. Itulah alasan dinamakan Candi Tikus.


Kondisi Awal Penemuan Candi Tikus

Aku mencoba menuruni anak tangga hingga tingkatan ke-2 lalu bergerak mendekati Candi Tikus. Tingkatan paling bawah tidak bisa aku turuni karena terendam oleh air. Candi Tikus memiliki 3 susunan teras dengan total 13 bangunan menyerupai candi. Teras pertama yang setingkat dengan tempat aku berjalan, memiliki 8 candi berukuran kecil. Teras kedua memiliki 4 candi berukuran sedang dan 1 candi induk yang berukuran besar dengan bentuk menjulang tinggi ke atas. Terakhir, teras ketiga tidak memiliki bangunan apapun.


Bentuk Candi Tikus seperti ini merupakan penggambaran Gunung Meru yang ada pada mitologi Hindu yaitu Samudramantana (Cerita Para Dewa dan Raksasa mengaduk Samudra Susu menggunakan Gunung Meru). Oleh karena itu, petirtaan ini dianggap suci. Air yang ada di sini adalah air suci.


Tiga Teras Candi Tikus

Pondasi Candi Tikus memiliki hiasan berupa kepala Makara dan kuncup bunga padma/lotus. Tambahan ilmu buat kamu, Makara adalah hewan mitologi Hindu berupa penggabungan antara gajah dengan naga laut (seiring perkembangan zaman, naga laut ini sering diasosiasikan sebagai buaya). Penggambaran kepala Makara berupa naga laut yang memiliki belalai gajah sedang membuka mulutnya. Dari lubang mulut inilah dan ujung kuncup bunga padma, air akan keluar mengisi kolam dibawahnya. Selain itu, pada sisi kiri dan kanan tangga turun terdapat 2 kolam air juga dengan ukuran yang lebih kecil. Sob, jangan lupa kalau keseluruhan bangunan Candi Tikus dilarang dipakai untuk naik dan turun ya!


Setelah jiwa dan perasaan merasa eksplorasi sudah utuh, giliran raga yang berteriak menginginkan istirahat. Aku cari tempat istirahat yang rindang. Ada satu sudut lokasi istirahat yang menarik perhatianku. Satu sisi, lokasi ini dingin karena tertutup rindangnya pohon beringin. Tetapi, sisi lainnya lokasi ini nampak seram karena total ada 4 pohon beringin tua dan besar membentuk kotak dengan akarnya yang sudah berada di atas tanah menjulur kemana-mana. Aku mencoba saja mendekati tempat itu. Ternyata ada tempat duduk yang disediakan. Tidak panjang pikir, aku putuskan istirahat disitu saja lah! Toh ada tempat duduknya yang berarti memang diperbolehkan duduk istirahat di sini. Sekalian saja aku sempatkan mengambil dokumentasi dilokasi unik ini.


Tempat Istirahat Unik

Sambil bersantai, aku yang awalnya satu-satunya pengunjung, sekarang menjadi tidak lagi. Datang 2 orang pengunjung lainnya. Tidak lama setelah itu, datang satu rombongan mobil penduduk Ibu Kota yang sedang melewati daerah Trowulan. Mereka berada di situs tidak lama. Situs kembali sepi lagi dengan cepat. Hari juga sudah semakin sore. Langit sudah mempersiapkan senjanya. Pertanda situs sebentar lagi akan tutup dan saatnya aku kembali pulang.


Sekian cerita perjalananku di Candi Tikus. Semoga tambahan cerita sejarah yang aku bagikan kepada kamu sobat melangkah bisa bermanfaat bagi kehidupanmu. Ayok kunjungi wisata sejarah Indonesia. Ingatlah bangsa kita ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kalau bukan kita sendiri yang melestarikan dan meneruskannya ke anak cucu kita, mau siapa lagi?


Dukung terus eksplorasiku mengelilingi candi-candi di Indonesia dan menceritakannya kembali dalam bentuk virtual tour yang bisa kamu akses dengan klik ini


Salam Jasmerah!


*Semua informasi sejarah aku kutip dari papan informasi di lokasi, website candi perpusnas, dan Museum Majapahit Trowulan